SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Khawatir


Hari masih terlampau pagi, namun Asha kini sudah berkutat di dapurnya, membiarkan Bi Inah hanya menatapinya dan sesekali membantunya menyodorkan barang yang diperlukan Asha, gadis itu begitu semangat memasak. Asha bukan gadis yang pandai memasak sebetulnya, hanya saja waktu di luar negeri sana, Asha sempat belajar beberapa masakan pada sang Tante. Rasa masakan Asha tidak terlalu buruk, membuat Asha kadang percaya diri sekali untuk menyajikan beberapa makanan yang akan dinikmatinya seorang diri.


Namun hari ini, Asha akan mencoba memasak untuk Mamih yang kini masih bertahan di rumah sakit menunggui Papih, menurut kabar dari Mamih kondisi Papih hari ini masih saja sama, Papih masih terbaring dalam koma-nya.


“Apa tidak sebaiknya Bibi saja yang memasak Non Asha?” Bi Inah bersuara setelah sedari tadi hanya menyimak kegiatan Asha.


“Pagi ini, biarkan Asha yang memasak”


“Ini pasti masakan paling spesial, Den Briyan pasti bangga bisa memakan masakan Non Asha kali ini” Bi Inah terkekeh, namun berbeda dengan Asha, gadis itu menghentikan gerak tangannya, lantas tercenung sejenak.


“Makanan ini bukan untuk Briyan, tapi untuk Mamih” jawab Asha setengah menggumam, Bi Inah hanya menganggukan kepalanya, dalam hati terus berceloteh, bukankah sekarang Briyan dan Mamih ada di tempat yang sama? Besar kemungkinan jika Briyan juga bisa menikmati makanan yang akan di makan Mamih nanti.


Beberapa saat masakan Asha telah siap, Asha merasa bangga akan hasil karyanya sendiri, setelah selesai menata masakannya, Asha segera bersiap untuk kembali menuju rumah sakit.


“Bi, Asha berangkat dulu!” Asha berteriak, lantas berjalan tergesa menuju parkiran, tidak lupa kotak makanan yang sudah rapi di tenteng di tangannya.


Berjalan melewati lorong rumah sakit yang kini sudah mulai terasa ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang, Asha menatap lurus ke depan, langkahnya terhenti kala pintu tempat Papih dirawat kini sudah berada di hadapannya. Tangan Asha sudah menggantung di udara bersiap memutar knop, namun niatnya urung kala mendengar ada suara seorang perempuan di dalam sana.


Perempuan muda dengan penampilan modis kini tengah berbincang dengan Mamih yang kini berwajah lesu, di hadapannya terdapat beberapa bingkisan yang kemungkinan besar gadis itu yang membawanya, gadis itu juga sesekali melemparkan sebuah pertanyaan pada Briyan yang kini berada di hadapannya, sesekali Briyan menanggapi dengan wajah datarnya.


“Asha?” Asha mengerjap kala panggilan dari Mamih tiba-tiba menyadarkan lamunannya.


“I iya Mamih, selamat pagi”


Asha memasuki ruangan tersebut, merangkul Mamih dan mencium pipinya sekilas, begitupun dengan Mamih, Mamih melakukan hal yang sama pada pipi Asha.


“Selamat pagi sayang, kenapa pagi-pagi sekali Asha sudah kesini?” Mamih bertanya dengan mengusap lembut pipi Asha, perlakuan Mamih masih tetap sama, memperlakukan Asha layaknya putri kandungnya sendiri.


“Ya, Asha bawain sarapan buat Mamih” Asha menyodorkan makanan yang dibawanya.


“Bi Inah yang masak?” tanya Mamih sembari tersenyum.


“Aku yang masak Mih” aku Asha jujur, membuat pria yang kini tengah di punggungi mengembangkan senyumannya.


“Hay ...” Asha mencoba menyapa perempuan cantik yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.


“Oh, Sha ... kenalin ini Isabela temannya Bintang” Mamih memperkenalkan setelah sebelumnya hampir melupakan keberadaan Isabela.


Asha dan Isabella saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing, raut kesal juga cemburu terlihat begitu jelas di wajah Isabela kala Mamih mulai mencicipi masakan yang dibawa oleh Asha.


“Emh, masakanmu enak sayang” Mamih memuji.


“Dari kemarin Mamih belum makan, sekarang makanlah yang banyak, mumpung dibawain sama calon ...” suara Briyan tertahan kala Asha tiba-tiba memotong ucapannya.


“Sungguhkah enak Mih? Tadi Asha tidak yakin dengan masakan Asha sendiri”


Asha tersenyum kecut, tiba-tiba saja bayangan masa lalunya berkelebat, dimana Asha sudah berjuang memasak namun makanan yang Asha buat selalu di buang oleh Briyan.


“Emh enak sekali sayang, rupanya anak Mamih ini paket komplit, sudah cantik, baik, shalehah, pintar, masakannya enak pula” Mamih tersenyum memuji Asha, membuat Asha tertunduk malu.


“Tentu saja Mamih Asha itu ...”


“Mamih, boleh Asha lihat Papih dulu?”


Asha berjalan mendekati Papih, mengusap tangan Papih sejenak, lantas menatapnya lekat, seolah sedang mengatakan sesuatu dalam hatinya untuk Papih.


“Mih, Asha berangkat ke butik dulu ya, nanti Asha ke sini lagi” pamit Asha setelah beberapa saat sempat berbincang dengan Mamih dan berbasa-basi sedikit dengan Isabela.


“Biar Briyan antar ya Sha”


Briyan yang merasa mendapat kesempatan emas segera berdiri, bersiap mengikuti langkah Asha dengan senyuman mengembang di bibirnya.


“Tidak perlu Mih, Asha bawa mobil sendiri” ucapnya menolak dengan halus, membuat Briyan yang sudah bersemangat kembali merasa lemas.


“Baiklah, terimakasih sudah datang sayang” Mamih menciumi Asha dengan sayang sebelum melepasnya pergi.


Asha kembali berjalan menuju parkiran, bersiap menaiki mobilnya sebelum sebuah suara cukup mengganggu indra pendengarannya.


“Asha?”


Asha memutar tubuhnya menatap gadis bernama Isabella yang sedari kedatangannya menatapnya dengan tatapan kesal.


“Ya?” Asha menjawab dengan wajah datarnya.


“Kamu sebetulnya siapanya keluarga Briyan? Kenapa orangtua Briyan terlihat dekat denganmu?” Isabela memajukan langkahnya mendekati Asha, gadis tinggi dengan pakaian seksi itu terlihat cantik pagi ini, membuat Asha memindainya dengan teliti, seolah mencari tahu apa kelemahan sang gadis.


“Aku? Bisa dibilang aku termasuk keluarganya juga” ucap Asha sedikit ragu, oh! Ayolah, Asha sudah bukan bagian dari keluarga inti Briyan, hanya saja persahabatan orangtuanya yang membuat Asha bisa mengatakan jika dirinya adalah bagian dari keluarga Briyan.


“Oh begitu rupanya, kamu tahu? Aku adalah calon istri Kak Briyan, jadi aku harap mulai sekarang kamu bisa jaga jarak dengan Mamih, Papih, terlebih dengan Kak Briyan” ucapan Isabella membuat Asha mengangkat sebelah bibirnya, Asha merasa perempuan di hadapannya terlalu naif dan kekanakan, entahlah tiba-tiba Asha merasa kesal mendengar pernyataan tersebut.


“O ya?” Asha membalas ucapan Isabela dengan nada mengejek.


“Kamu tidak mempercayaiku?”


“Tidak ada alasan bagiku untuk mempercayaimu, lakukan apapun yang kamu suka, karena bagiku segala hubungan antara kamu dan Briyan bukan urusanku!”


Brak!


Asha membanting pintu mobil dengan tenaga dalamnya, hingga menimbulkan suara yang membuat Isabela berjengit kaget, dengan wajah memerah Asha mencengkram setirnya, lantas memajukan kendaraannya dengan kecepatan lumayan kencang.


“Hah! Calon istri katanya? Memang aku peduli? Terserah apa maunya!!!” Asha masih menggerutu kesal.


Hingga tiba di halaman parkir butiknya Asha keluar dari mobilnya dengan wajah di tekuk, berjalan sedikit tergesa melewati butiknya untuk mencapai lantai dua dimana ruangannya berada, sikapnya pagi ini membuat karyawannya kembali melongo bingung, sungguh random sekali mood seorang Berliana Asha. Kemarin tersenyum dengan bunga bermekaran di atas kepala, sekarang wajahnya kusut bagaikan pakaian belum di licin.


Asha bersiap untuk membuka pintu ruangan kerjanya, sebelum sebuah suara membuat atensinya terpecah.


“Asha?”


Asha menoleh, ternyata di samping pintu di sebuah dinding, seorang pria tampan dengan pakaian rapinya tengah memejamkan mata sembari menyandarkan tubuhnya di sana.


“A Abim ...” Asha terbelalak, baru menyadari jika sedari kemarin dia sama sekali belum mengabari atau bahkan membalas semua pesan Abim yang terlihat begitu khawatir.


“Jika kamu sangat sibuk, setidaknya bisakah kamu membalas pesanku Sha? Aku khawatir dan juga ...”