SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Terkadang, Kita Lupa


Asha mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, ruangan bercat putih itu sudah jarang di kunjunginya akhir-akhir ini, karena memang Asha merasa tidak perlu, meskipun sang dokter begitu rajin memberikan peringatan pada Asha untuk tetap berkunjung. 


Ketika hendak melewati ruangan ini, Asha melihat beberapa orang yang mungkin nyaris sama memiliki gangguan mental sepertinya, banyak diantara mereka yang berjalan dengan tatapan kosong, atau tersenyum namun hampa, Asha memilih untuk menatap lurus melewati mereka semua, bagi Asha melihat mereka seperti melihat bayangan dirinya sendiri beberapa tahun silam, mungkin itu juga sebabnya kenapa Asha membenci untuk kembali datang ke tempat ini. Sebetulnya, Asha bisa saja memanggil dokter yang menanganinya untuk datang ke rumahnya seperti sebelumnya, namun kali ini Asha lebih memilih untuk datang sendiri, meluangkan waktunya untuk menceritakan hal yang mengganjal di hatinya. 


“Gendis bilang, aku harus bisa mencintai diri sendiri, tapi aku tidak pernah tahu caranya, karena sebelumnya aku pernah mencoba melakukan banyak hal yang membuatku bahagia, tapi nyatanya hal tersebut malah membuatku dan orang disekelilingku lebih menderita lagi” Asha memulai ucapannya, menatap sang dokter yang sudah berusia paruh baya di hadapannya, seperti biasa dokter tersebut hanya bisa tersenyum, sebelum menjawab rasa penasaran Asha. 


“Gendis betul, Asha harus mencintai diri sendiri sebelum mencintai dan menyayangi oranglain” dokter menganggukan kepalanya. 


“Tapi bagaimana caranya? Aku masih bingung harus melakukan apa untuk diriku sendiri?” Asha kembali bertanya dengan raut bingungnya. 


“Perlakukan diri Asha sebagai orang yang ingin Asha tolong” 


Asha terperangah menatap sang dokter yang juga tengah menatapnya lembut, Asha pikir mungkin saja dokter akan mengatakan ‘Perlakukan dirimu bagaikan ratu, agar kamu diperlakukan oranglain juga seperti demikian’ itu yang sering Asha dengar dari setiap motivator yang ada di video yang sering Asha tonton. 


“Maksudnya bagaimana dokter?” Asha kembali bertanya. 


“Apa yang akan Asha lakukan ketika Asha melihat Gendis menangis karena sedang memiliki banyak masalah?” tanya dokter kemudian, membuat Asha langsung menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu. 


“Aku akan memberikan solusi terbaik pada Gendis, aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Gendis kembali bahagia dan ceria” ucap Asha menggebu-gebu, membuat dokter tersenyum. 


“Apa yang akan Asha lakukan ketika melihat Bi Inah sakit?” dokter kembali bertanya dengan senyuman menghiasi wajahnya. 


“Tentu saja Aku akan membawa Bi Inah berobat, memberikan Bi Inah obat dan perawatan terbaik agar Bi Inah segera sembuh” lagi-lagi Asha menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu. 


“Kenapa Asha harus melakukan semua itu?” tanya dokter kemudian. 


“Karena Asha sangat menyayangi mereka semua” Asha menjawab dengan menggebu. 


“Lalu kenapa Asha tidak melakukan hal yang sama pada diri Asha sendiri?”


Hening


Asha terdiam beberapa saat, memikirkan apa yang diucapkan dokter barusan. 


“Cintai diri Asha sendiri, sama seperti ketika Asha bersemangat ingin membuat hidup orang yang disayangi Asha menjadi lebih baik lagi, dimuka bumi ini tidak akan ada yang bisa menjaga diri Asha selama dua puluh empat jam penuh selain diri Asha sendiri, kalau bukan diri Asha sendiri, lantas siapa lagi?” 


Asha kembali terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh dokternya, sekarang Asha memahami apa yang harus Asha lakukan.


“Asha sudah terlalu lama berada di zona nyaman ini, ini tidak baik, Asha terlalu lama bersembunyi, harusnya Asha bisa berjuang melawan diri Asha sendiri, paksakan agar menjadi terbiasa! Push diri Asha sendiri agar Asha bisa melakukan apa yang hati Asha mau” dokter memberikan semangat yang mengandung banyak energi semangat bagi Asha, selama ini dokter selalu bersikap lembut dan baik, tidak memaksakan sesuatu apapun yang membuat Asha terluka ataupun tidak nyaman, untuk pertama kalinya dokter mem-push Asha sedemikian rupa, kala diperhatikan kini mental Asha sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. 


“Sekarang Asha mengerti bukan apa yang harus Asha lakukan?” dokter tersenyum simpul, tangannya menuliskan sesuatu lalu di sodorkan pada Asha. 


Asha mengangguk yakin “Asha mengerti” untuk pertama kalinya gadis itu tidak lagi bertanya ataupun membantah, diterimanya kertas tersebut lantas dibacanya sekilas, namun matanya kembali terpaku, kala membaca tulisan tersebut, itu bukan tulisan resep seperti biasanya, namun itu tulisan yang membuat Asha terharu akan dirinya sendiri. 


“dokter, terimakasih” Asha terbangun lantas berdiri dan merentangkan tangannya, memeluk dokter dengan isak tangis yang berderai. 


*** 


“Wah ... apa ini Non?” Bi Inah dengan antusias menerima banyak bungkusan makanan dari Asha, perempuan tua itu tersenyum dengan mata berbinar. 


“Semua ini makanan kesukaan Bibi” jawab Asha dengan tak kalah antusias. 


“Terimakasih banyak Non” Bi Inah mulai menyuapkan makanan kesukaannya dengan suka cita. 


“Terimakasih Bi, sudah tulus berada disamping Asha” Asha mengelus tangan Bi Inah, bagi oranglain mungkin Bi Inah hanya sebatas asisten rumah tangga, namun bagi Asha Bi Inah lebih dari itu, hampir separuh hidupnya Bi Inah persembahkan untuk merawat Asha, sedari Asha kecil hingga Asha sedewasa sekarang. 


Bi Inah menyimpan kembali makanannya, dirasa hatinya terasa ada yang mengganjal kala melihat sikap Asha saat ini. 


“Bibi sangat menyayangi Non Asha” 


“Aku tahu, terimakasih banyak untuk itu, Asha juga sayang banget sama Bibi, sudah sangat lama Bibi berada disisi Asha, menjaga Asha, merawat Asha dengan tulus, sekarang sudah saatnya Asha yang merawat Bibi” Asha menundukkan kepalanya. 


Usia Bi Inah sekarang berada di kisaran enam puluh tahun, sudah terlalu lama Asha memikirkan hal ini, membuat orang yang berada di sekelilingnya termasuk Bi Inah untuk membuatnya bahagia, bahagia dalam artian sesungguhnya. 


“Apa maksud Non Asha?” Bi Inah menatap Asha yang terlihat sesak kala ingin melanjutkan kata-kata selanjutnya. 


“Asha mau Bibi bahagia di usia senja Bibi” Asha menundukkan kepalanya, sungguh berat bagi Asha untuk mengatakannya. Bi Inah masih terdiam menyimak. 


“Asha mau Bibi pulang kampung, berkumpul kembali dengan keluarga Bibi, anak cucu Bibi, habiskan sisa usia Bibi dengan mereka, bukan dengan Asha, mereka juga berhak bahagia bersama Ibu juga neneknya” Asha meraih tangan Bi Inah, di genggamnya tangan yang selama ini selalu membuatnya nyaman dan aman tersebut. 


Bi Inah mematung, tak menyangka hari ini akan tiba, apakah tenaganya sudah tidak diperlukan lagi oleh Asha? Padahal Bi Inah merasa tidak melakukan kesalahan apapun. 


“A apa saya melakukan kesalahan Non? Saya janji akan perbaiki, asal Non Asha jangan usir saya” Bi Inah terisak. 


Asha menggeleng perlahan “Ini adalah bukti sayang Asha untuk Bibi, berat bagi Asha untuk melepaskan Bibi”


Asha ikut terisak, bayangannya kembali berkelana pada waktu-waktu yang telah berlalu, dimana keluarga Bi Inah selalu terisak kala Bi Inah tak bisa pulang kampung setiap kali ada acara penting di kampungnya. 


“Asha janji, Asha akan memberikan uang bulanan untuk Bibi setelah Bibi pulang nanti, Asha juga akan membuatkan Bibi warung kecil-kecilan, juga membelikan Bibi sebidang tanah untuk modal usaha Bibi nantinya, Asha juga janji akan sering-sering main ke tempat Bibi” 


Bi Inah tak bisa menahan tangisnya, Ia terus menangis sesenggukan, Ia tahu Asha sangat baik tanpa banyak orang tahu, namun Bi Inah tak menyangka akan mempertimbangkan masa tuanya juga, sejujurnya Bi Inah juga sudah rindu pada sanak keluarganya, berpuluh tahun terpisah oleh jarak dan waktu, membuat Bi Inah kehilangan banyak momen di keluarganya. 


“Terimakasih banyak Non” Bi Inah menangis terharu, kala Asha juga berjanji akan memberikan pesangon yang sangat tinggi padanya, sangat cukup untuk biaya hidup Bi Inah selama bertahun-tahun kedepan. 


“Terimakasih banyak, sudah menjadi satu-satunya orang yang berada di samping Asha, disaat Asha terpuruk, Asha sayang sama Bibi” 


Kadang, seringkali kita lupa. Kita bisa memperhatikan orang yang ada jauh di luar sana, tapi kita lupa dengan orang-orang tulus yang selama ini berada di sekitar kita.