
Setelah memasuki Mansion. Andreas dan seluruh keluarganya berkumpul, serta mulai berencana, menurut pemikiran mereka masing-masing.
Hingga kini, mereka dapat tertawa renyah. Layaknya keluarga yang harmonis, dan tak dapat terpisahkan lagi.
"Tapi disisi lain, kini Nona Diana sungguh menderita dibuat oleh Tuan Diego.
Ia seperti burung didalam sangkar. Terkurung dan tak dapat bebas.
Sedangkan Tuan Diego, selalu bersenang-senang dengan semua wanita dan juga istrinya itu.
Lama ia menyakiti batin Nona Diana. karena sakit hati saat itu.
Entah itu karena cemburu atau apa. Tuan Diego begitu marah dan terus menghukumnya dengan tekanan batin.
Karena ia tau. Ia tak bisa menyakiti fisiknya. Mengingat, bayi yang dikandungnya saat ini.
Hanya saat ia ingin, dan itupun dibuat oleh Tuan Diego, disaat Nona Diana, sedang tidak sadar.
Karena itu, akan membuatnya merasa. Kalau ia, sudah tak mau lagi menyentuhnya, dan akan terus menyakiti batinnya. Seperti saat ini, Tuan Diego sangat menginginkannya.
Dia dengan segerah memerintahkan sang pelayan, untuk segerah memberikannya susu hamil. Dengan dicampur obat tidur.
Barulah setelah nona Diana tertidur, ia segerah memasuki, kedalam kamarnya.
Mencumbunya, melepaskan segala hasratnya. Dan juga menikmati setiap lekuk tubuhnya.
Lalu setelahnya. Ia segerah pergi, serta memerintahkan pelayan, untuk segerah membersihkannya. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi setiap disaat nona Diana terbangun pagi. Nona Diana merasa tubuhnya sangat sakit. Dan bertanya kepada pelayan, "Apakah Tuannya sudah pulang.
Sang pelayan, hanya berkata belum Nona. Dan apakah ada yang perlu disampaikan.
Ah..."Tidak ada. Lalu segerah mengusirnya. Serta merasa sangat aneh pada dirinya.
Setiap ia terbangun pagi dan merasa tubuhnya semua sakit, serta ia pun pasti semalam merasa seperti bermimpi sedang bercinta dengan Tuan Diego.
Tapi bila bertanya, Tuannya masih belum juga pulang. Apakah ini mungkin hanya mimpi.
Lalu Nona Diana mencoba mengabaikannya. Dan mulai mandi. Serta melihat seluruh tubuhnya yang penuh dengan tanda merah ini.
Darimana datangnya ini semua. Ia juga bingung, tapi berusaha mengabaikannya.
Hingga kini, waktu pun telah berlalu, dan kandungannya mulai membesar.
Nona Diana berharap. Saat ia sudah melahirkan. Dan Tuan Diego, bisa melepas kannya nanti.
Serta kini, tiba-tiba terdengarlah suara keributan dari luar kamar.
Yang mana, saat ini terdengar suara wanita yang terus memanggil namanya.
Sampai pintu terbuka, serta menampakkan seorang wanita dewasa. Dengan elegan, serta cantik, dan se*i. Ia mulai menghampiri Nona Diana.
Serta saat ini mulai menjambak rambutnya dan menamparnya beberapa kali.
Sambil berucap, "Kau hanya wanita jal**g, dan mainan bagi suami ku saja.
Jadi jangan berani-berani kau mengambil suami ku itu. Atau kau akan segera mati ditangan ku.
Siapa yang berani melawan ku, maka habislah dia tanpa sisa.
Terlebih kau. Yang hanya sebagai sampah.
Lalu menghempas tubuh Nona Diana. Hingga ia terjerembab kelantai. Dan meringis kesakitan.
Karena perutnya, yang memang mulai terasa sakit.
Ia ingin menginjak perutnya, tapi disaat itu. Tepat Tuan Diego masuk dan melihatnya.
Hingga menyeretnya dan menamparnya. sambil berucap, "Berani kau mencelakai anakku.
Maka mulai saat ini kita putus.
Kau ...! "Sang istri mulai marah, dan menunjuk wajah sang suami. Dan ia mulai berteriak lantang.
Apa kurangnya diri ku. Kita sudah sepakat selama ini. Dan kau mulai mengkhianatinya.
Aku sudah berusaha menerima mu dan sabar selama ini.
Tetapi kau tidak pernah berubah. Apa salah, kalau aku mulai kehilangan rasa itu.
Nona Diana hanya bisa melihat mereka berdua bertengkar. Tidak mengerti ada masalah apa, pada mereka saat ini.
Karena ia juga sedang menahan sakit, sekarang ini. Ia pun menjadi tidak fokus pada mereka.
Sampai terlihat sang istri Tuan Diego yang mulai mengeluarkan senjata api, dan hendak menembak nona Diana.
Dengan gesit, Tuan Diego menyelamatkannya. Menghalangi, hingga mengenai dirinya.
Sang istri yang ketakutan dan mulai merasa kesal. Ia hanya bisa melarikan diri dan meninggalkan mereka berdua.
Serta segerah membawa Tuan Diego ke rumah sakit, dan segerah mengobatinya.
Nona Diana yang khawatir, memohon ikut. Ia kini mondar-mandir didepan Ruang ICU.
Hingga sang Dokter keluar dan mengatakan. Kalau kondisinya, sudah membaik.
Barulah, Nona Diana merasa lega, dan terduduk lemas serta pingsan.
Sang asisten, yang melihat wanita Tuannya pingsan. Ia pun dengan segerah membawa keruang perawatan, serta diperiksa juga.
Sampai Tuan Diego sadar, dan menanyakan keadaan nona Diana.
Ia terkejut mendengarnya, dan ingin segerah menjenguknya.
Tapi dengan cepat pula, ditahan oleh sang asisten, serta berkata, "kalau saat ini, nona Diana pun sedang tertidur, untuk beristirahat sejenak, dengan bantuan obat yang diberikan oleh sang dokter tadi.
Jadi Tuan tenang saja, semua sudah ditangani, dan kini, banyaklah Tuan beristirahat juga.
Agar lebih cepat pulih dan beraktifitas seperti biasa.
Tapi Tuan Diego, bersikeras ingin melihatnya sebentar. Lalu berjanji kembali dengan terus memberi penjagaan ketat, kepada nona Diana.
Akhirnya sang asisten hanya bisa mengalah. Segerah menarik kursi roda.
Dan kini menuju kamar rawat nona Diana, serta melihatnya dan membelainya lembut.
Sekilas mencium bibirnya dan kini turun ke perutnya, yang mulai membesar itu.
Ditambah Ia sedikit berkata-kata, dan kini waktunya ia pergi.
Nona Diana seakan merasakan mimpi saat diperlakukan seperti itu. Ia terus tidur, hingga masa obat habis.
Kini ia terbangun dengan penampakan kamar rumah sakit.
Serta saat ini, mulai masuk Dokter yang akan segerah memeriksanya.
Serta mengatakan, keadaannya, kalau saat ini sudah mulai membaik, dan sebentar lagi, ia akan diperbolehkan untuk segerah pulang.
Tapi kini, pikirannya bukan fokus pada sang dokter. Tapi melayang pada Tuan Diego.
Ia segerah bertanya pada sang dokter.
Dokter....! bagaimana keadaan Tuan Diego ku saat ini ? dengan memelas ia bertanya.
Dokter tersenyum dan mengatakan, kalau Tuan Diego. Sudah pulang saat ini.
Entah mengapa, ada perasaan senang, tapi juga bercampur sedih saat ini.
Dia hanya bisa tersenyum kaku. Tak mengerti dengan perasaan nya saat ini.
Dan kini, dokter telah selesai memeriksanya, serta segerah pamit pergi.
Tinggallah kini, ia sendiri dikamar itu. Kembali terkurung seperti biasa.
Sampai sang dokter datang kembali, dan mengatakan, kalau saat ini, ia akan bersiap segerah pulang. Serta sudah ada perawat yang akan membantunya nanti.
Dengan lemas, ia mencari keberadaan Tuan Diego.
Tapi penampakan itu. Tak juga muncul dihadapannya kini.
Ia mulai rindu, ingin bertemu. Dan kini, ia mulai melupakan perasaan nya terhadap Daniel.
Dengan kecewa, ia mulai membereskan semua barangnya.
Hingga sang asisten menjemputnya. Untuk segerah pulang, kembali menuju ke Pulau dan kembali terkurung.
*
*
*
Dan disisi lain, Roy sangat bahagia. Karena akhirnya Nona Laura tersadar dari komanya.
Ia langsung bersujud syukur dan memeluk serta menciuminya.
Dan kini mereka mulai bercerita, serta bercanda, dan berencana masa depan mereka.
Membangun keluarga bahagia. Dengan memulai kehidupan baru.
Serta berencana memberi adik bagi sang putra mereka nanti.
Melupakan masa lalu, dan membangun masa depan yang bahagia.
Serta kini mereka mulai mempersiapkannya. Dan menunggu untuk bersiap pulang kerumah mereka.