
Tuan Diego melototkan matanya. Tak percaya dengan pendengarannya kini.
Apakah, hukuman yang ia berikan kemarin itu belum cukup.
Tidak mengerti kah ia, apa yang dirasakan, oleh dirinya saat ini.
Tapi ia juga tidak tega, melihatnya terkurung seperti ini.
Maka dari itu. Dengan pemikiran panjang. Ia pun memberi izin.
Dengan syarat, bila ingin keluar, harus dengan bersamanya.
Nona Diana, dengan segerah mengangguk. Ia benar-benar merasa bosan dan benar ingin segerah keluar.
Sampai ia mendengar telah mendapatkan izin itu. Ia sudah sangat senang sekali.
Senyum mengembang, terlihat diwajahnya. Sampai ia sendiri lupa, kalau saat ini ia sedang hamil.
Ia melompat-lompat, membuat mata Tuan Diego melotot tajam.
Nona Diana tersadar, hingga ia langsung menghentikan tindakan itu. Dan kini mereka mulai berjalan keluar, dan mulai berkeliling.
Hingga sampai disebuah pondok, yang pernah nona Diana tempati saat masih bersama Daniel.
Nona Diana menatap sejenak, tapi sedetik kemudian, ia langsung mengalihkan, dan mulailah, suasana hatinya berubah.
Tuan Diego memperhatikan. Dan ada sedikit kekesalan.
Ia segerah untuk memerintahkan untuk segerah pulang. Dan segerah pula dituruti oleh nona Diana.
Dan sesampainya di villa. Nona Diana masih nampak muram. Sehingga membuat Tuan Diego kembali kesal. Serta kembali mengurung nona Diana.
Setelah mengurung Nona Diana, ia pun tak lama mendapatkan telpon dari sang istri.
Seperti biasa. Sang istri menelpon, kembali untuk mengajaknya bercinta seperti biasa.
Tuan Diego yang masih kesal, kepada nona Diana.
Ia pun dengan cepat menyetujuinya. Dan sebelum pergi ia pun, dengan segerah, ia memerintah sang pelayan.
Agar selama ia pergi. Nona Diana tidak diberi izin sedikit pun, untuk keluar dari kamarnya.
Dan apa yang ia mau, kirim saja kekamar nya, serta untuk makannya pun. Harus diantar, kekamarnya.
Tuan Diego menatap agar semua mengerti dan mematuhi semua perintahnya.
Lalu ia mulai berkemas, dan kembali pergi meninggalkan pulau itu.
*
*
*
kini...ditempat Lusiana. Mereka tampak bahagia.
Karena saat ini, sang bayi telah bisa dibawa kekamar rawat Lusiana, dan hendak diberi pembelajaran menyusui.
Lusiana nampak kesusahan saat ini. Karena asi nya belum begitu banyak keluar.
Sedang kan sang bayi, seperti sudah tidak sabar lagi.
Lusiana hampir menangis, bila tidak ditenangkan oleh sang ibu.
Pengalaman dari ibu Lusiana mulai di ceritakan. Hingga Lusiana mulai tenang dan air susunya mulai teratur keluar. Walau belum banyak.
Tapi bisa membuat sang bayi tenang.
Lusiana yang menyusui saat ini, telah sedang diperhatikan oleh Andreas.
Ia nampak bersyukur atas, hadia yang tak terkira ini. Hingga ia meneteskan air matanya, yang secara diam-diam, dan juga mulai mengabadikannya, dengan mengambil sebuah vidio.
Dan setelah selesai menyusui. Sang bayi mulai perlahan tertidur, dan satu mulai di gendong Andreas. sedang kan yang satunya di gendong oleh ibu Lusiana.
Setelahnya, puas mereka memandangi sang putra dan putri yang cakep dan cantik itu.
Mereka mulai membaringkannya di tempat tidur bayi.
Serta tak lama, ada sepasang suster masuk, dan hendak mengambil sang bayi. Serta saat ini, hendak mengambil dan memindahkan nya keruangan bayi.
Mereka hanya bisa menciumi dahulu, sebelum sang putri dan putra itu di bawa pergi.
Tapi entah mengapa Lusiana merasa, ada perasaan yang tidak nyaman, serta seperti tidak rela membiarkan kedua anaknya itu dibawa pergi.
Ia seperti berat untuk melepasnya. Dan dengan cepat dihibur oleh sang ibu.
Karena tadi, hendak memberi ruang, buat sang putri yang hendak menyusui tadi.
Dan kini mereka mulai berbincang serta bercanda.
Mulai merencanakan kepulangan mereka nanti. Hingga akan membuat penyambutan, bagi sang bayi.
Dan akan mengadakan pesta kecil-kecilan nanti.
Mereka saat ini, tidak merasa ada sesuatu yang aneh atau sedikit firasat.
Hingga mereka terus bercanda, dan bercerita dengan senangnya.
Hanya Lusiana saja, yang merasa sedikit tidak nyaman dihatinya kini.
Ia terus mengacuhkan. Tapi tetap tidak bisa. Sampai ia yang hendak minum pun.
Gelas itu, tiba-tiba jatuh dan pecah.
Barulah setelah itu Lusiana bercerita, tentang perasaan nya ini, kepada sang ibu.
Sang ibu, masih terus menghiburnya. Sampai sarapan siang pun datang.
Dan kini ia akan segerah menyantap nya hingga selesai.
Sang Ayah dan Andreas keluar sebentar. Untuk membeli makan siang mereka di kantin yang berada di rumah sakit ini.
Sang ibu masih terus menunggu, hingga sudah waktunya menyusui.
Tapi sang bayi, belum juga diantarkan.
Lusiana mulai panik, hingga terus menatap jam dan melirik sang ibu.
Sang ibu yang ikut khawatir. Tapi tetap berusaha tenang dihadapan sang putri.
Dan tak lama. Datanglah Tuan Geoff dan Andreas. Yang baru saja kembali dari makan siangnya.
Mereka menatap aneh dan mulai bertanya. Serta kini sang ibu mulai menjelaskan semua.
Andreas dan sang Ayah mertua ikut khawatir. Terlebih dahulu. Tuan Geoff memberikan sarapan siang ke pada sang istri.
Yang sejak tadi, menunggui sang putri. Dan belum menyantap sarapannya. Serta setelahnya, mereka segerah melapor dan ingin bertanya.
Tapi betapa terkejutnya mereka. Saat mengetahui, kalau kini sang bayi telah menghilang sejak pagi, dan sehabis dari menyusui saat itu.
Dan ternyata. Setelah memeriksa cctv. Mereka melihat, kalau kedua perawat tersebutlah, yang telah menculik bayi mereka.
Dan kini, mereka mulai, melakukan pencarian. Tapi masih takut, hendak memberitahu Lusiana.
Mereka terus menelusuri si pelaku. Tapi pelakunya sangat paham situasi.
Hingga sulit untuk melacaknya.
Sampai Lusiana yang tak tahan lagi, dengan penasaran. Ia memaksa sang ibu, untuk mengantarkannya. Dan mencari tau sendiri.
Serta ia yang baru keluar dari ruangan nya. Dan melihat sekitar. Seperti ada suatu masalah di rumah sakit ini.
Hati Lusiana, semakin tidak enak saja. Ia mulai keluar, mencari keberadaan sang Ayah dan suami.
Tapi....betapa terkejutnya Lusiana. saat ini, ia yang baru hendak bertanya.
Tapi malah, mendengar percakapan mereka tentang penculikan bayi.
Lusiana dengan lantang bertanya, "Bayi siapa yang di culik.
Walau hati takut mendengarnya. Tapi ia juga merasa penasaran, Dan kini.
Membuat sang Ayah serta suami menoleh, dan dengan ragu berucap:
Sabar, lalu Andreas langsung mendekat, serta memeluknya dan berkata dengan pelan.
Bayi kita telah di culik. Dari saat pagi tadi. Setelah menyusui, dan ternyata, kedua perawat itu palsu dan telah membawa bayi kita.
Lusiana terkaget, hingga ia lemas dan pingsan. Membuat Andreas panik, serta menggendongnya, dan kembali membawanya. Keruang perawatan.
Serta langsung mendapat penanganan.
Andreas yang marah, dan bergumam. Akan dengan segerah menemukan pelakunya, serta menghukumnya. Dengan seberat-beratnya nanti.
Serta kini, dengan segerah menitipkan sang istri, kepada ibu mertua.
Lalu segerah keluar, yang diikuti, oleh sang Ayah mertua.
Serta siap, mencari sang pelakunya, serta menghukumnya.