
"wah wah wah, tu cewek pakai trik apa? Kok bisa lolos dengan mudahnya, bahkan pihak kampus mendukungnya," ujar Aldi merasa heran dengan pengumuman itu.
"Cih palingan om Hendra yang minta pihak kampus bertindak seperti itu, kalian tahu om Hendra kayak gimanakan." Pendapat Rendra yang di setujui keempat sahabatnya.
"Iss memang wanita licik," umpat Kenan merasa kasihan dengan keluarga om Hendra,
Meskipun mereka tahu pria yang bersama Relin di photo itu Om Hendra, tapi mereka lebih baik memilih diam tidak mau ikut campur urusan mereka, karena mereka yakin akan ada saatnya semua terkuak.
Oh ya, hubungan orang tua kelima sahabat itu juga cukup dekat, Rendi adalah adik sepupu Kenan lebih tepatnya adik dari Ervan, bapak dari Aldi dan Dimas teman sekaligus rekan bisnis tuan Pernando, sementara ayah Rendra cukup lama bekerja sekaligus kepercayaan dari perusahaan tuan pernando.
"Relin, syukurlah kita pikir kamu akan di keluarkan, kita benar - benar khawatir," ketiga sahabat Relin menghampiri.
"Kok bisa sih kampus justru seperti mendukung kamu?" Tanya Rita penasaran.
"Mm ya karena aku memang gak salahkan," jawab Relin tersenyum licik penuh kemenangan, ketiga sahabatnya saling menatap heran dengan tingkah Relin yang seolah menganggap enteng masalah ini.
"Tapiii, siapa yang berani berbuat itu semua?" Pikir Relin mulai serius dengan tatapan membunuh ke sembarang arah.
"Yaa kita harus cari tahu siapa dalangnya," ujar Gina ikut kesal.
Anggi hanya menyipitkan matanya tak mengerti dengan semua ini,
"Lebih baik kamu temuin Gilang gih, nanti dia berpikir yang bukan - bukan," kata Anggi menepuk bahu Relin.
"Baiklah," segera pergi menemui Gilang kekasihnya,
"Heh menurut kalian gimana?" Rita meminta pendapat,
"Huh entahlah,"
Sejujurnya mereka merasa kurang percaya, dan ada rasa kecewa karena mereka bahkan kemarin melihat sendiri kemesraan Relin dengan mata kepala mereka tanpa sepengetahuannya, namun mereka tetap bersikap mempercayai Relin sebelum ada bukti nyata.
*****
Wajah Kenan terlihat berseri yang di hiasi senyuman manis yang menawan ketika melihat Irena berdiri di depan pintu mobil sportnya,
Irena segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan masuk kepada tuannya dan membungkuk tersenyum, segera Irena pun masuk mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu memasang sabuk pengaman,
Irena pun sadar sedaritadi Kenan terus memandanginya,
"Ekhm (berdehem) apakah aku sangat mempesona, sehingga kau terus memandangiku?" Entah ke beranian dari mana atau mungkin sudah biasa dengan Kenan yang suka menggodanya, sampai Irena berani bertanya seperti itu, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah kenan.
"Kau sudah mulai berani ya," Batin Kenan tersenyum tipis,
"yaa, kau kan wanitaku," Mengalihkan pandangannya ke depan.
Irena menelan ludah mendengar itu, lalu melajukan mobil menuju kantor,
"Sepertinya, aku tidak masuk ke dalam," ujar Irena yang sudah menghentikan mobilnya di depan kantor,
Sorot mata Kenan menatap Irena tajam seolah tidak mengijinkan,
"Aku lapar!" Kata Irena dengan wajah polos,
"Apa kau hanya memikirkan perut mu saja?" Ucap kenan kesal sembari membuka sabuk pengamannya
"Apa kau juga lapar?"
"Pergilah cari makanan, dan bungkuskan untukku juga," seraya keluar dari mobil,
Irena pun kembali menjalankan mobil untuk memarkirkannya, dan mencari makan dengan kedua rekannya berjalan kaki,
Mereka memilih makan di pedagang kaki lima, Rama makan nasi padang, Tegar makan ayam penyet, sementara Irena makan kupat tahu, mereka makan dengan lahap, namun Irena ingat dan bingung harus membungkuskan apa untuk Kenan, ia pun memutuskan untuk menelpon menanyakannya langsung.
"Ya kenapa?" Jawab Kenan dari ujung telpon
"Mm maaf aku lupa menanyakan, kau mau ku bungkuskan apa.?"
"Huh, (menghela napas) maaf Tuan, tapi di sini cuman ada nasi goreng, padang, ayam penyet/geprek, batagor cilok dan sebagainya,"
"Hah, maksudnya kamu,?"
"Yaa aku makan di pinggiran jalan, jadi sesekali kamu juga harus makan di tempat ini," tegas Irena
"Ya sudah belikan saja apa yang kau makan, Van mau apa? Makanan di pinggir jalan," tanya Kenan dengan malas kepada Ervan yang sibuk dengan leptopnya.
"Mmm Batagor," jawabnya tersenyum, seolah memesan makanan kesukaannya
"Iss makanan apa itu?" Ucap Kenan pelan,
"Batagor, baiklah bye," kata Irena mendengar jawaban Erevan dari sebrang sana, lalu mematikan panggilannya.
"Heh apa kau tak pernah makan makanan seperti itu? Hah kau memang kuper," Ledek Ervan geleng kepala di sambut tatapan membunuh Kenan. Ervan pun menunduk takut dan melanjutkan pekerjaannya.
Tok, tok, tok.
Irena masuk ke ruangan Kenan dengan membawa dua kantong plastik hitam dan tiga mangkok kosong serta dua pasang sendok dan garpuh yang ia bawa dari dapur kantor.
Sementara dua orang yang sudah menunggu makanan kaki lima pun masih sibuk dengan pekerjaan mereka, terlihat Kenan yang duduk di meja kerjanya sedang asyik memeriksa dokumen -dokumen, Ervan yang asyik dengan leptopnya duduk di sopa.
"Wahh dari tadi sudah ngebayangin batagor," Tersenyum seraya menutup leptopnya, Irena pun menghampiri Ervan dan meletakan mangkuk dan beberapa bungkus makanan yang ia beli,
Irena mengeluarkan makanan yang ia pesan tadi, Ervan mengambil batagor yang ia pesan dan membukanya lalu menuangkannya kedalam mangkuk, begitupun Irena yang membuka dan menuangkan kupat tahu dan cilok untuk Kenan.
"Kenan cepatlah makan dulu," kata Ervan sedikit berteriak, Kenan pun meletakan dokumen yang ia baca, lalu menghampiri mereka berdua, Irena segera bangkit dari duduknya untuk mempersilahkan Kenan duduk
"Ini makanlah," menyodorkan kupat tahu, "dan ini untuk kalian berdua makan," Cilok campur bakso ikan yang sudah tertuang di mangkuk,
"Makanlah," Suruh Irena lagi karena Kenan hanya melihat aneh dan memainkan air kupat tahunya dengan sendok,
"Apa kau tidak makan?" Tanya Kenan,
"Aku sudah makan di sana, okh ya aku tunggu di luar saja." Ujar Irena seraya ingin pergi, namun Kenan memegang tangannya menghentikan langkahnya.
"Duduklah," bergeser lebih dekat dengan Ervan lalu menepuk sopa di sebelahnya agar Irena duduk.
Irena pun terpaksa duduk melihat mereka makan,
"Apa tadi kau makan ini?" Tanya Kenan masih ragu memakannya, berbeda dengan Ervan yang justru menyantap batagornya dengan lahap.
"Yaaaa, cepat makanlah," Suruh Irena lagi, Kenan pun terpaksa perlahan memasukan kupat tahu itu ke dalam mulutnya dan Perlahan mengunyahnya,
"Ini bakso ya?" Tanya Kenan sembari mencolok cilok dengan garpuh,
"Itu cilok," Irena terkejut karena Kenan sudah mendekatkan cilok itu di bibirnya,
Kenan menyodor - nyodorkan cilok ke mulut Irena agar Irena memakannya, Irena pun membuka mulut, dan dengan terpaksa memakan cilok itu.
"Ehm," Ervan berdehem melihat tingkah Kenan yang tak biasa, serentak Irena dan Kenan menatap Ervan membuat Ervan salah tingkah "A, apa ciloknya sedap? hehe," tanya Ervan mengalihkan pembicaraan, lalu mencolok ciloknya dan memakannya.
"Mmm enak juga, hahaha," dengan mulut yang penuh ia terpaksa tersenyum lebar sambil mengunyahnya,
Kenan mengalihkan pandangannya ke arah mangkuk Ervan yang masih ada tersisa tiga potong batagor,
"Apa bagador ini enak?" ujar Kenan nenyodok batagor Ervan.
"BATAGOR," ucap Irena dan Ervan bersamaan,
"Apapun namanya itu, terserahlah," katanya dengan santai memakan batagor,
"Mmmm lumayan juga," ucap Kenan mengunyah batagornya.