
Hari sudah mulai gelap Relin baru balik dengan membawa tiga paper bag, teman - temannya yang sedang duduk di sofa menonton tv menatap Relin penuh tanya, namun tak ada salah satu di antara mereka yang ingin menanyakan apa yang mereka lihat sore tadi di parkiran mall.
"Halo semuanya," sembari duduk tersenyum bahagia
"Ini kalian pakailah, muat tidak,"
Menaruh dua paper bag agak besar di atas meja,
Namun teman - temannya justru menatap Relin makin tajam,
"Mm ini bekas kok bukan baru, serius deh, coba kalian lihat, aku bawa beberapa entah muat atau tidak tapi cobalah satu - satu." Relin tahu mereka akan marah jika ia membelikan mereka gaun baru.
"Bekas siapa," tanya Anggi sinis,
"Saudaraku, sory bukan maksud ngehina kalian, tapi ini masih kelihatan baru kok, gak akan ada yang tahu ini bekas, saudaraku aja cuman baru beberapa kali pakai." Sembari mengeluarkan baju - bajunya,
"Wahh iya, masih kelihatan baru, dan cantik - cantik banget."ujar Rita terpukau dengan kecantikan gaun - gaun yang di bawa Relin.
"Saudara lho kaya ya?" Tanya Anggi masih dengan sinisnya.
"I, iya, saudara jauh sih," jawab Relin sedikit gugup.
"Wah kelihatannya mahal sekali,"
Mereka pun terpaksa memakainya dari pada memakai gaun yang sudah Renata dan kedua temannya lihat di acara kelulusan itu.
"Ya ini kelihatan mahal, kita cuman pinjam saja kan." Ujar Anggi
"Hah ah iya kita cuman pinjam saja kok." Jawab Relin agar mereka percaya.
Mereka pun selesai memilih, ada dua gaun tersisa yang tak terpilih, lalu di berikannya lagi pada Relin.
Relin tersenyum puas dan lega karena teman - temannya tak akan memakai Gaun yang sudah mereka pakai di hadapan ketiga wanita yang selalu mengusik mereka.
"Heh apa mungkin gaun ini benar - benar milik saudaranya," Gina merasa tak percaya,
"Hah sudahlah, kita percaya aja sama Relin, toh Gaun ini bagusnya berkali - kali lipat dengan gaunku yang sudah di pakai di acara ke lulusan itu." Ujar Rita tak henti - hentinya memandangi gaun yang ia pilih.
"Mm ia juga sih," saut Gina setuju
Sementara Anggi hanya diam memperhatikan teman - temannya.
****
Keesokan harinya
Di kampus, setibanya Relin dan ke tiga sahabatnya, mereka merasa risih dengan orang - orang yang menatap ke arah mereka, bahkan berbisik seolah - olah membicarakan mereka.
"Wah, wah, wahhh, Gue gak nyangka ya sama lho Lin," ujar Renata tersenyum sinis,
Mereka hanya diam mengerutkan kening tak mengerti apa yang di bicarakan Renata,
"Hah OMG," teriak Rita yang sedang melihat berita kampus di medsos,
"Kenapa sih rit ngagetin aja?"
"Ayo kita ke mading," ajak Rita berlari, diikuti sahabat nya.
"Tunggu Rit, ada apa sih?"
Sesampainya mereka di mading, banyak orang berkerumun di sana, mereka yang berkerumun mengalihkan pandangannya ke arah Relin yang baru datang,
"Ya ampun, Lho memang pantas di sebut cewek penggoda."
"Iya laki orang pun di godanya."
"Kalian Minggir," teriak rita,
Mereka pun memberi ruang untuk keempat perempuan itu.
Mereka terkejut degan photo yang terpajang di mading, photo Relin dan pria tua dengan wajah di buramkan yang mereka lihat sore itu, photo di mana Relin makan di restoran dengan saling suap, bahkan ada photo relin bergandengan dengan pria tua itu,
"Ha, ha, hahahaha ya ampun sampai segininya!" Berbeda dengan ketiga sahabatnya yang terkejut sekaligus marah, Relin justru tertawa lepas tambah membuat geram ketiga sahabatnya itu.
"Sudah gila ya dia, malah ketawa," bisik para siswa - siswi yang ada di sana,
"Kenapa? kalian percaya dengan gosip murahan ini?" Tanya Relin menatap ketiga sahabatnya yang menapap tajam ke arahnya.
"Siapa yang berani bikin gosip ini?" Teriak Anggi marah sembari menyobek photo - photo yang tertempel di mading.
Relin yang melihat Anggi marah pun mulai geram,
"Lihat saja, aku pasti akan segera tahu siapa orang yang sudah menempel photo - photo itu di mading, dan aku pastikan dia akan menyesal dan berlutut meminta maaf." Teriak Relin serius dengan ucapannya.
"Hah menarik sekali, jadi tu cewek penggoda juga menjadi simpanan om om," kata Kenan tersenyum sinis, yang berdiri agak jauh di ujung sana,
"Heh Lho tahu gak siapa om om di photo itu?" Tanya Rendi tersenyum sinis,
"Photo om omnya aja di bloor, bagaimana Gue bisa tahu." Jawab Kenan,
"Itu om Hendra," mendengar pernyataan Rendi bukan hanya Kenan yang terkejut, tapi juga ketiga sahabatnya yang lain.
"Lho serius Ren," seolah tak percaya.
"Hmm, Gue kemarin lihat dengan mata kepala gue sendiri." Ujar Rendi
"Apa? Jangan - jangan lho yang pajang," belum sempat berbicara habis, Rendi langsung membantah,
"Heh Gue gak serendahan itu kali, lagian Gue lihat bersama dengan ketiga sahabatnya Relin."
"Ohhh jadi kemarin kamu kencan dengan mereka," goda Rendra
"Makin ngaco aja," memukul kecil lengannya.
Di sisi lain
ketiga sahabat Relin benar - benar geram dan murka dengan gosip itu.
"Lin, kok lho kelihatannya santai aja sih, justru Malah kita yang emosi," ujar Anggi mengepalkan tangannya geram.
"Gosip itu, nanti juga di telan waktu," Jawaban Relin dengan santai, membuat mereka geleng - geleng kepala.
"Relin, di panggil Dosen tuh keruangannya," teriak salah satu siswi memberi tahu.
"Hah gawat ini, pasti Relin terancam," seolah tak sanggup menyelesaikan ucapannya.
"Tenang aja, Gue jamin gak akan ada yang bisa keluarin gue dari kampus ini!" Ujar Relin penuh percaya diri.
"Itss semoga deh kepercayaan diri lho tuh benar adanya," kata Anggi sedikit kesal.
Cukup lama Relin di ruangan dosen, bahkan dia tidak sempat ikut kelas pertama hari ini, membuat ketiga temannya khawatir,
Jam istirahat tiba - tiba semua siswa - siswi di kumpulkan di lapangan untuk mendengarkan sebuah pengumumman,
"Dengar semuanya, saya di sini berbicara mewakili Dekan kampus ini, dengan adanya berita yang sangat heboh tadi pagi tentang sodari Relin, saya harap kalian semua melupakannya, dan segera menghapus berita yang sudah terlanjur di upload di media soaial, kami selaku Dosen di kampus ini meminta jangan pernah membahas gosip itu lagi, karena itu hanya kesalah pahaman mengerti, satu lagi, bagi yang belum menghapus postingannya dengan terpaksa kami akan menghack akun tersebut,
Terima kasih."
Terlihat senyuman lebar penuh ke menangan dari seorang gadis yang berdiri di depan, di samping dosen yang mengumumkan peringatan penting itu,
"Hah kok bisa sih kampus ini membiarkan wanita liar itu,"
"Iya, bagaimana mungkin dia bisa
Leluasa bernapas di sini,"
"Wah memang sungguh licik ya itu perempuan, entah apa yang ia lakukan sehingga pihak kampus bahkan tidak memberi dia peringatan."
Ketiga sahabat Relin hernapas lega dengan pengumuman itu, namun mereka masih kesal dan tidak nyaman dengan umpatan / keluhan mahasiswa/i yang tidak terima dengan keputusan pihak kampus.