Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh
Kecelakaan di proyek


Setelah menghubungi seseorang tadi. Nona Laura kembali keluar, yang entah pergi kemana.


Kini didalam kamarnya. Andreas membantu Lusiana, untuk segerah berbaring di tempat tidur, hingga ia dapat beristirahat.


Dan tidak berpikir yang macam-macam lagi, yang dapat mempengaruhi kandungannnya.


Setelah itu, Andreas berpesan agar Lusiana untuk sementara, tidak keluar dari kamar terlebih dahulu. Dan ini juga untuk kebaikan kandungannnya.


Dan di balas dengan anggukan kepala saja, oleh Lusiana.


Sampai kini, Andreas baru merasa tenang untuk meninggalkan istrinya di Mansion ini.


Dan entah mengapa. Saat ini, hati Tuan Andreas tidak menentu dan baik-baik saja.


Entah ini perasaan apa, tapi seperti akan ada hal-hal buruk yang akan terjadi.


Tiba kini Andreas sudah berada didalam mobilnya.


Ia pun mendapat panggilan telpon dari sang Asisten. Dan memberitahunya agar segerah kekantor saat ini.


Karena sepertinya ada sesuatu yang bermasalah dengan laporan dilapangan.


Maka...dengan segerah pula Andreas sampai dikantornya kini.


Hingga sang asisten memberitahu. Kalau saat ini sedang ada demo besar-besaran, antar buruh pekerja di pabrik, yang akan mogok kerja, bila keinginan mereka saat ini belum juga terpenuhi.


Andreas merasa bingung. Bukankah masalah itu telah selesaikan, dan kenapa masih ada pemogokan.


Serta mulai berpikir. Mungkinkah ini semua konspirasi dari seseorang, untuk menjatuhkan nya.


Kini Andreas ingin memastikan nya, dan segerah menuju ke tempat pembangunan.


Sesampainya di sana. Semua orang yang sedang berdemo, mencoba mengerumuni mobil Tuan Andreas.


Hingga Andreas yang mau keluar dari dalam mobilnya pun, mendapat penganan yang kuat.


Bukan Andreas tidak berani melawan mereka semua. Tapi ia juga masih bisa berpikir jernih. Hingga salah satu penyusup yang menyamar sebagai buruh pendemo mencoba melempar botol ke arah Tuan Andreas.


Dengan cepat pula, dan entah dari mana datangnya. Nona Laura mencoba menahan dengan tubuhnya.


Hingga ia jatuh pingsan, dengan bersimbah darah.


Andreas merasa shock dengan kejadian ini.


Menyuruh sekuriti untuk segerah mengaman kan mereka, dan bergegas membawa Nona Laura memasuki mobilnya. Untuk segerah dibawa ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Nona Laura di masukan kedalam kamar Emergensi, untuk segerah mendapati penanganan secepatnya.


Sambil menunggu dengan gelisah diluar. Sang asisten datang dengan membawa kabar, kalau seseorang yang mengacau tadi telah ditahan.


Dan dipastikan dia bukan buruh yang bekerja di pabriknya.


Dan kini semakin membuat Andreas curiga, dan mengeram marah, serta memberi perintah kembali.


Cepat selidiki dan paksa ia supaya mengaku, siapa dalang dibalik ini semua, dan apa maksud dari seseorang di baliknya itu.


Sang asisten pun dengan segerah mematuhi, hingga kini telah terdengar pintu ruangan tersebut telah terbuka.


Dan reflek kini menanyakan keadaannya. Dan dijawab oleh sang Dokter, dengan tenang serta berkata.


Tidak ada luka serius, pada diri Nona Laura.


Kini kepalanya yang terbentur oleh hempasan botol tadi, hanya menyebabkan sobekan yang sedikit dalam, tapi mereka sudah menjahitnya, hingga kini tinggal menunggu Nona Laura tersadar kembali. Serta mendapat perawatan untuk penyembuhan.


Andreas mengusap wajahnya kasar. Memikirkan kehidupannya yang belum juga mendapat ketenangan.


Haruskah ia merawat Nona Laura nanti saat di Mansionnya. Bagaimana dengan istrinya.


Dan ia juga merasa bersalah bila ia menelantarkannya nanti.


Sedangkan untuk masalah di proyek tadi, belum ada bukti dan masih dalam penyelidikan.


Ah...sudahlah, semoga nanti istriku dapat memahami ku.


Serta kini, Nona Laura yang sudah dipindahkan, serta mulai tersadar.


Hingga Malam. Andreas belum juga pulang. Lusiana kini mulai gelisah, karena hatinya kini tidak menentu.


Dan tidak seperti biasanya juga. Tuan Andreas, yang selalu pulang tepat waktu, hingga kini, belum juga pulang.


Saat ini pelayan sedang mengantarkannya sarapan malam.


Lusiana yang penasaran pun, mencoba bertanya kepada pelayan.


Dimana Tuan mu saat ini ! dan kenapa ia belum juga pulang ?


Lalu dijawab sang pelayan, kalau saat ini Tuan sedang berada di rumah sakit, dan sedang menemani Nona Laura.


Maka dari itu, saat ini kita memerintah, agar makan malam Nyonya diantarkan saja kedalam kamar Nyonya.


Serta Nyonya diperintah tidak usah menunggu Tuan pulang.


Lusiana merasa terkejut, mendengar kabar ini. Tapi yang lebih sakit lagi hatinya kini, yang merasa kalau ia sedang di permainkan.


Dan Lusiana mulai ragu akan perubahan sifat Tuan Andreas kini, yang mulai terlihat perduli, tapi masih tetap menyakiti perasaannya.


Lusiana kini, tampa terasa meneteskan air matanya. Menahan sakit, hingga tidak ada selera untuk makan.


Sang pelayan yang kembali, serta melihat makanan yang masih utuh pun bertanya.


Nyonya ! Kenapa makanannya tidak tersentuh. Apakah makanan ini bukan selera Nyonya, maka kita bisa dengan segerah menggantikannya dengan makanan yang lainnnya, bila nyonya mau.


Tidak usah ! Ucap Lusiana lembut. Dan segerah memerintahkan agar cepat membereskan ini semua, dan ia akan segerah tidur saja.


Sang pelayan merasa tidak enak hati, hingga ia berkata akan mengambilkan apa yang diinginkan oleh Nyonya nya.


Tapi Lusiana berucap, tidak usah. Ia sudah merasa lelah dan hanya ingin segerah beristirahat saja. Serta sang pelayan pun menyerah untuk membujuknya.


Hingga sang pelayan berkata permisi, dan segerah membereskan semua makanan ini, serta kembali menutup pintu kamar nya setelah keluar dari kamar tersebut.


Lusiana merasa lelah dengan segala masalahnya.


Ingin sekali, ia pergi sejauh mungkin. Menghindari semua orang yang selalu menyakitinya.


Tapi bagaimana caranya, dan ia hanya bisa pasrah serta bertahan dan menjadi perempuan yang kuat.


Kini ia sudah membaringkan tubuhnya. Mencoba tidur, tapi sangatlah sulit.


Dengan susah payah ia memejamkan matanya. Kadang air itu tumpah tampa permisi, karena perasaan yang kini memang mudah untuk merasa.


Hingga akhirnya di seperempat malam, barulah ia bisa memejamkan matanya.


Begitu pun Andreas di rumah sakit, terlalu memikirkan masalah ini, terlebih perasaan istrinya.


Membuat ia semakin prustasi. Karena bukti yang belum terkumpul. Ia belum bisa untuk bertindak banyak dan sekali lagi menyakiti hati sang istri.


Ia kini harus menunggui dan bertanggung jawab akan kesembuhan Nona Laura.


Walau ini akan menyakiti hati sang istri. Tapi ia tak mungkin lepas tangan, atau semua rencananya akan gagal.


Hingga kini, ia pun harus ikut tidur di rumah sakit. Menemani Nona Laura, yang karena tak ada keluarga yang mengurusnya saat ini. Serta bertanggung jawab untuk merawatnya sementara.


Hingga akhir nya ia pun tertidur di ruangan tersebut.


Pagi-pagi sekali, Dokter telah memeriksa serta mengizinkan Nona Laura, untuk bisa pulang siang ini.


Andreas merasa lega, hingga ia berucap terima kasih kepada sang dokter.


Dan kini tiba saat mereka yang sudah bersiap pulang.


Entah dari mana para wartawan itu mendapat berita, hingga mereka tau, kalau saat ini.


Nona Laura sudah diperbolehkan pulang, dan dijaga seharian oleh Tuan Andreas.


Wartawan dengan semangat pula. Mereka mulai mengambil berita serta mengabadikan poto mereka, agar segerah dicetak disemua media masa.


Tapi Andreas bergegas melarikan diri, segerah memasuki mobilnya bersama dengan Nona Laura yang masih terlihat lemah, karena baru kekuar dari rumah sakit.