
Mereka kini telah berada didalam mobil Tuan Andreas.
Nona laura masih berpura-pura lemah, agar terus mendapatkan simpati dari Tuan Andreas.
Hingga kini, mereka yang masih berada didalam mobil pun.
Nona Laura berusaha, agar bisa selalu menempel dengan Tuan Andreas.
Berbagai cara ia lakukan, hingga ia pun berpura-pura kepalanya yang masih sakit, hingga dapat bersandar ditubuh Tuan Andreas.
Andreas mengeram tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kini ia mencoba menahan rasa risih itu, hingga mereka sampai di Mansion.Barulah kini Andreas merasa lega.
Tapi sesaat kemudian, Nona Laura sudah menempel lagi. Dengan bergelayut di lengan Tuan Andreas, hingga kini terlihat oleh sang istri.
Andreas menatap sendu wajah sang istri. Walau ia tidak berkata apa-apa.
Tapi Andreas sangat tau. Kalau hatinya saat ini sangat kecewa. Dan inilah yang ditakutkan oleh Andreas.
Dan kini mereka telah sampai didalam kamar Nona Laura.
Andreas mencoba memberi pengertian. Bahwa akan ada banyak pelayan yang akan melayaninya nanti.
Tapi Nona Laura yang tidak mau membuang kesempatan ini.
Ia pun terus mencari cara, agar selalu berada didekat Tuan Andreas, serta memberi jarak dengan si wanita yang paling tidak disukainya itu.
Nona Laura sengaja melakukan ini semua, agar Lusiana merasa dirinya memang hanya kesenangan sementara bagi Tuan Andreas.
Yang kini perhatian Tuan Andreas telah berpindah kepadanya, serta akan segerah melupakan dirinya.
Nona Laura merengek, agar Tuan Andreas selalu berada didekatnya.
Ia pun berucap, "walau sudah ada pelayan, tidak menjamin bila terjadi sesuatu kepada dirinya nanti, dan mereka akan dengan cepat bertindak.
Ini juga...karena ia sedang sakit. Bila tidak, ia pasti tidak akan seperti ini.
Maka Ia memohon kepada Tuan Andreas, agar selalu berada didekatnya.
Andreas semakin pusing dibuatnya. Ia harus segerah pergi, untuk menemui sang istri, hingga ia mulai memberi penjelasan, agar tidak berpikir yang macam-macam saat ini.
Tapi sepertinya, Nona Laura selalu mencoba menahan nya, hingga memasuki waktu makan malam seperti ini pun.
Nona Laura terus beralasan, untuk meminta menemaninya, hingga ia pun memohon untuk di suapi. Dengan dalih, saat ini tangannya masih lemah untuk mengangkat sebuah sendok.
Maka terpaksa Andreas menurutinya saat ini, dan tampa sepengetahuan Tuan Andreas pula.
Kini Lusiana telah berada didepan kamar Nona Laura, dan melihat penampakan itu semua.
Ia yang ingin masuk dan melihat keadaan Nona Laura saat ini.
Terdiam sejenak melihat penampakan itu. Dan hatinya saat ini tidak memberi untuk masuk lebih dalam, hingga ia memutuskan untuk segera kembali menuju ke kamarnya.
Nona Laura sudah tau akan kedatangan Lusiana tadi. Ia sengaja melakukan itu, untuk menyakiti hatinya, dan kini, ia tersenyum senang.
Tuan Andreas yang tidak tau akan hal itu. Merasa sudah saat nya, kini ia harus segerah pergi dari kamar ini.
Serta ia juga, yang harus mandi dan berganti pakaian. Karena seharian telah menemani Nona Laura.
Nona Laura berpura-pura sedih saat ini. Dan ia pun berkata, "Baiklah Tuan Andreas !
Tapi bisakah anda nanti kembali lagi. Karena Aku takut di saat malam nanti aku masih membutuhkan sesuatu.
Andreas melototkan matanya, mendengar ini dan ia pun mulai kesal hingga berkata.
Nona Laura !
Aku memang telah membuatmu celaka. Tapi tidak berarti kau menuntut ku untuk selalu bersama mu selama 24 jam penuh, karena aku sendiri juga ada privasi yang tidak bisa diganggu.
Dan maaf ! untuk malam ini, anda akan tidur sendiri. Dan aku akan menyediakan pelayan satu, untuk menemanimu malam ini, bila kau ada perlu sesuatu nanti.
Dan kini aku harus segerah pergi. Permisi Nona Laura.
Dengan tegas Andreas berucap. Karena telah lelah menahan sedari tadi emosinya. Hingga ia merasa kesal dan berkata demikian.
Andreas pun dengan wajah muram meninggal kan kamar tersebut.
Terlalu lelah dan kesal membuatnya jadi seperti ini. Hingga ia memasuki kamar sang istri dan melihat kini sang istri telah tertidur pulas layaknya bayi yang tampa dosa.
Tapi...setelah melihat wajah ini. Hatinya menjadi terasa sejuk dan ingin selalu berada didekatnya.
Andreas mendekat serta duduk disamping berbaringnya Lusiana.
Membelai rambut panjangnya, hingga mengecup keningnya dengan lembut.
Dan kini Lusiana pun terbangun, akibat pergerakan tersebut.
Andreas yang memandang wajah sang istri, yang tak melihatnya seharian. Membuatnya rindu hingga langsung me***at bibir itu dengan rakus.
Lusiana yang belum siap, tertegun kini. Akan tetapi selanjutnya, ia pun mulai membalasnya. Hingga hasrat itu sudah memuncak.
Andreas pun, segerah menghentikannya.
Lusiana nampak kebingungan. Tapi Andreas tersenyum senang.
Ia merasa lucu dengan tingkah istrinya. Dan sedikit mulai menggoda dengan berkata.
Kau rindu, ingin aku memakan mu ! Maka sabarlah sayang.
Aku masih bau karena belum mandi seharian ini. Sambil terkikik geli, lalu berkata lagi, tapi bila kau mau memandikan ku.
Ayo kita lanjutkan saja didalam kamar mandi acara tadi itu. Dan kini ia senakin terkikik geli.
Karena sang istri kini mulai melunak, hingga memukulinya dengan bantal tidur, dan sambil berkata.
Aku lelah dan ingin segera tidur saja saat ini. Tapi wajahnya tak bisa berbohong, hingga berubah memerah karena saat ini menahan malu.
Yang membuat Andreas kini , langsung menggendongnya ala bridal style, menuju kekamar mandi mereka dan mulai melakukan gerakan senam malam.
Nona Laura saat ini sedikit kesal, karena kecewa. Belum bisa membuat Tuan Andreas selalu bersamanya.
Hingga ia mengusir pelayan yang diperintah oleh Tuan Andreas. Yang ditugaskan untuk menemaninya saat itu.
Karena ia yang merasa risih, saat tidurnya yang selalu diperhatikan orang lain.
Dan kini, setelah kepergian pelayan itu. Nona Laura pun dengan segerah menelpon seseorang kembali.
Entah apa yang dibicarakan nya saat ini. Tapi sepertinya itu sangat serius.
Dan sepertinya juga,seseorang disana sedang mengajaknya bertemu. Hingga Nona Laura pun kini berpikir, agar besok ia bisa keluar, dan menemui seseorang tersebut.
Saat ini, di kamar Andreas serta Lusiana. Mereka terus melakukan adegan itu, karena kerinduan mereka yang mendalam, serta Lusiana yang memang merasa ingin selalu dekat dan dimanja oleh Tuan Andreas.
Hingga pagi menjelang. Mereka berdua yang kelelahan. Tidak menyadari kalau mereka telah terbangun kesiangan.
Andreas yang melihat istrinya masih tertidur. Mencoba membuatnya untuk sejenak beristirahat.
Maka ia pun, memutuskan untuk segerah mandi terlebih dahulu.
Dan setelah ia keluar dari dalam kamar mandi. Ia pun melihat, istrinya yang sudah terbangun.
Dan...."Pagi sayang...! Ucap Andreas, lalu mendekat serta mencium lembut keningnya.
Kau mau mandi sekarang atau mau ku mandikan saat ini. Dengan usil, Andreas menggoda istrinya.
Serta dengan wajah memerah pula, Lusiana menjawab, "Tidak usah, nanti kau terlambat pergi ke kantornya.
Aku bisa mandi sendiri kok. karena aku bukan bayi lagi, yang selalu dimandikan, bila mau mandi.
Tapi kau bayi besar ku sayang, dengan tersenyum senang, Andreas terus menggodanya.
Tidak Tuan ! Bukanya selama ini Aku yang selalu memandikan mu.
Kini Luciana mulai berani membalasnya perkataan suaminya itu. Dan ini suatu kemajuan bagi Andreas, hingga ia merasa gemas, dan kemudian mel**at rakus bibir itu, hingga hampir membuat oksigen mereka kehabisan, bila tidak dihentikan oleh Andreas.
Andreas yang menyadarinya, mencoba menahan gelora kembali.
Bila tidak, maka habislah istrinya saat ini, dan ia tidak akan bisa pergi kekantornya saat ini.
Hingga ia terkikik geli, melihat wajah sang istri saat ini, dan berucap, "cepatlah mandi dan Aku akan menunggu mu dibawah, untuk segera sarapan bersama.
Lusiana tersenyum bahagia. Melupakan sejenak masalahnya. Dan kini ia pun bersiap untuk segerah mandi.
Agar bisa menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu pergi ke ruang makan.