Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh
BAB 21


Kenan yang terlihat frustasi dan kesal masih dalam keadaan duduk di sofa, ia mengusap wajahnya kasar, serta mengacak - acak rambutnya dengan kasar juga,


Namun kenan sadar ia lah yang salah telah berbuat seenaknya terhadap irena,


"Huh, maaf, maaf aku sudah sangat lancang, aku, (entah apa yang harus ia katakan lagi) Mm kita harus segera pergi," gugup seraya berdiri dan keluar dari ruangan itu di susul irena,


Di dalam lift irena berdiri di sebelah kenan, ia terlihat salah tingkah, dan memalingkan wajahnya,


Irena merasa malu atas kejadian tadi, ia sempat berpikir kenapa tadi ia diam tidak menolak ciuman dari kenan,


Suasana di dalam lift begitu hening, terlihat kecanggungan di antara mereka, kenan tersenyum melihat gadis yang di sukainya sangat jelas terlihat salah tingkah,


Tiba - tiba kenan memiliki ide untuk sedikit menggodanya, ia mendekatkan wajah ke hadapan wajah irena "apa yang sedang kau pikirkan," tanya kenan dengan nada menggoda,


"Hah,," sontak membuat irena terkejut dari lamunan nya itu, ia kemudian perlahan mundur untuk menghindar dari wajah kenan yang terus mendekat pula,


Ting,,


Pintu lift pun terbuka, dengan segera irena keluar berlari kecil meninggalkan tuannya itu,


"Hey kau, tunggulah tuan mu ini," teriak kenan, namun irena terus berjalan tak menghiraukan tuannya itu, dan segera masuk mobil, di susul kenan yang ia tinggalkan.


Kenan hanya tersenyum penuh kemenangan,


*****


Keesokan harinya.


Setelah mengantar kenan ke kampus, irena pergi ke restoran bibinya, untuk makan siang dan membantu sedikit di restoran, karena restoran bibi belakangan ini cukup ramai pengunjung.


Ting,, sebuah sajian makanan untuk meja no 14 sudah siap, segera irena mengantar makanan itu,


Terlihat di meja 14, empat pria bertubuh kekar, dengan postur tubuh tinggi berisi,


"Silahkan tuan, selamat menikmati hidangan nya,!" Tersenyum sambil menyimpan dan menata rapih makanan yang irena bawa,


Alangkah terkejutnya irena, ketika salah seorang menaikan dan melipat tangan bajunya ke atas bahu "hah simbol itu,," simbol kecil segitiga bintang di lengan pria itu yang selalu irena temukan pada pelaku yang ingin mencelakai kenan.


"Ok, terima kasih nona cantik," ujar salah satunya, menyadarkan irena dari lamunannya, "ahh iya, silahkan di nikmati," seraya pergi.


Irena terus berpikir tentang simbol itu, apakah mereka pelakunya, atau mereka salah satu dari anggotanya, anggota apa mereka,


Apa mereka memiliki simbol yang sama juga.


Irena semakin penasaran dengan simbol itu, ia pun diam - diam mengambil photo mereka dan mengirim photo itu ke seseorang lewat whats app.


Para pria itu pun telah menghabiskan makanannya dan segera pergi, irena yang penasaran itu, memutuskan untuk membuntutinya.


"Biiiii, aku pergi dulu ya," teriak irena sembari berlari keluar dan mencegat taxi untuk mengikuti mereka, "Taxi,," melambaikan tangan, taxi pun berhenti dan dengan segera irena masuk, "pak, tolong ikuti mobil hitam itu," sambil menunjuk mobil yang di bawa para pria tadi, "baik non,"


Sampailah mereka di sebuah rumah dengan desain unik dan tampak tua, dua orang pun turun untuk membuka gerbangnya, dan mobilnya langsung masuk ke dalam, begitu pula irena keluar dari taxi, irena mengendap - ngendap mendekati,


Ketika dua orang tadi hendak menutup gerbang, tiba - tiba krekk,, irena tidak sengaja menginjak ranting kering lumayan besar,


Kedua orang itu pun mendengar dan berjalan hendak mengecek asal suara ter sebut,


Deg,, jantung irena berdetak, entah apa lagi yang harus dia perbuat, ia hanya berdiri kaku berharap tidak ada masalah, tiba - tiba ada seseorang yang membekam mulut dan menyeret tubuhnya bersembunyi di pohon besar,


Irena terkejut dan matanya terbelalak, "diamlah,," bisik seorang pria dengan posisi sudah bersandar dipohon besar bersama irena yang ia peluk erat dari belakang dan membekam dengan tangan besarnya itu,


Sementara kedua pria tadi mencari sumber suara yang mencurigakan itu terus berjalan,


"Ahhh iya kita segera kesana."


Segera berlari kecil meninggalkan tempat itu.


"Huh,," irena dan pria itu pun bernapas lega, dan perlahan pria itu melepas bekaman dan pelukan nya terhadap irena,


Dengan segera irena menghindar dan membalik kan badannya ke arah pria itu,


Terlihat seorang pria dengan gaya seperti berandalan, memakai jaket denim agak kedodoran, celana jeans sobek - sobek, rambut agak gondrong di biarkannya acak - acak kan, dengan beberapa anting di telinga kanannya.


"Ah irena ya,?" Menyipitkan mata,


"Siapa kau,,? Kenapa kau tahu namaku,? Apa aku mengenalmu.?" Tanya irena heran


"Wah Kebetulan sekali, namuku gara,!" Tersenyum Mengulurkan tangan "Gara Renandi,", irena membalas walau dengan ekspresi bingung.


"aku pengagum irena si gadis penyelamat sekaligus bodyguard dari kenan pernando," bisiknya tersenyum manis.


"Sejak kapan aku punya pengagum, memangnya aku seleb,?" Gerutu irena pelan,


"Okhh ya, kenapa kamu ngikutin mereka,? jika mereka tau, heh habislah my anggel,"


"Heh siapa yang ngikutin,? aku cuman lewat aja kok," jawab irena ngeles dan memalingkan pandangannya.


"Mmm jelas - jelas tadi kamu mengendap - ngendap," merasa tak percaya, karena gara melihat irena turun dari taxi dan berjalan perlahan seperti mengintai mangsa,


"Ehhh tapi kau tahu tentang mereka ya,? Beri tahu aku cepat,"


"My anggel, sebaiknya kamu tidak usah tahu banyak tentang mereka, semakin kamu tahu, semakin bahaya juga," gara heran kenapa irena terlihat begitu penasaran.


"Isstt apa sebahaya itu,?" Ketus irena, tapi gara tiba - tiba mempunyai rencana agar bisa lebih dekat dengan irena.


"Mmm, sepertinya kamu sangat penasaran, baiklah aku akan memberi tahu sedikit yang aku tahu tentang mereka,"


"Benarkah," irena tampak bersemangat dan tersenyum lebar,


"Tapi bukan sekarang, hari ini aku ada urusan, mari sini ponselmu," mengulurkan tangan, senyum irena seketika hilang berubah menjadi kekecewaan, awalnya ia ragu memberika ponselnya, tapi demi informasi irena pun terpaksa menyerahkan ponselnya.


Jari gara mengetik no telepon nya di ponsel milik irena lalu me manggil no itu, trt,,trt,,trtt,, panggilan tidak di kenal pun masuk dari ponsel milik gara.


tak lupa gara menyimpan dan menamai kontaknya di hp irena (Gara ku), begitu pula menamai kontak irena di hpnya ( My angel).


Gara tersenyum menyerahkan hp irena "Taxi,," teriak gara melambaikan tangan menghentikan taxi, "pulanglah,," seraya membukakan pintu mobil, irena mengerutkan keningnya dan menurut, " bye, sampai jumpa lagi my angel,"


"Isss kenapa dia memanggilku my angel," merasa risih dengan panggilan itu.


Kembali ke restoran bibi,


"Irena, kau dari mana,? Kata bibi kau buru - buru pergi tadi," tanya tegar yang memang sudah di restoran bibinya bersama rama, untuk makan sebelum menjemput tuan mereka.


"Hah, tidak ada, hanya ada perlu," seraya duduk dan berpikir tentang siapa para pria tadi.


"Ren apa kamu sudah makan,,?" Tanya rama yang sedang menyantap makanan "aku tidak lapar, makanlah," jawabnya malas.


"Apa yang sedang kau pikirkan,?"


"Huh, entahlah, mungkin hanya lelah," jawab irena dengan nada malas.