
Irena sangat bersemangat menyambut tugas barunya hari ini, ia mengenakan baju kemeja putih, celana hitam dan jas hitam dengan rambut di ikat rapih.
"selamat pagi semuanya" sapa bos yang sedari tadi mereka tunggu
"selamat pagi bos" jawab mereka dengan semangat,
"semoga kalian menikmati tugas baru kalian, bekerjalah dengan baik" tegas bosnya memberi semangat,
"baik bos" ucap mereka kompak.
"Baiklah kalian pergi di hantar oleh pak Bram,," kata bosnya, dan merekapun pergi naik mobil hitam bersama pak Bram selaku manager perusahaan Irena bekerja,
Mereka telah sampai di tempat tujuan,
"Ok semuanya, sebentar lagi tuan muda akan segera datang, jadi kalian bersiap-siaplah untuk memperkenalkan diri"
"baik,," tegas mereka sembari merapihkan diri berjajaran di tepi, tak lama mobil hitam tuan muda pun datang dan keluarlah dia dari mobil
"beri hormat kepada Tuan muda, selamat pagi Tuan muda"perintah Ervan manager Tuan muda sambil membungkuk, yang di ikuti oleh mereka.
"Selamat pagi tuan muda," ketika Irena menegakkan lagi badannya, betapa ia sangat terkejut ketika melihat Tuan muda,
"pemuda itu, gawat jadi dia adalah pewaris perusahaan besar itu, bodoh-bodoh, mana mungkin dia pencuri," gumamnya dalam hati menyalahkan dirinya sendiri, lalu Irena pun sedikit mundur dan menundukan kepala karena takut ketahuan,
"halo Tuan muda nama saya Tegar, kami siap menjaga anda dengan baik" memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat, Tuan muda pun berjalan lagi,
"pagi Tuan muda nama saya Rama, kami siap melindungi anda" tutur Rama melakukan hal serupa,
Irena Pun terpaksa maju lagi memperkenalkan diri sambil membungkuk
"nama saya Irena, kami siap mempertaruhkan nyawa untuk anda" ucap Irena tidak percaya diri dan perlahan-lahan menegakan badannya dengan posisi kepala masih menunduk, tingkahnya membuat Tuan muda curiga dan menyuruhnya untuk memperlihatkan wajah,
"heh kenapa kau menundukan kepalamu seperti itu?" tanya Tuan muda dengan tegas.
Dengan terpaksa Irena menegakan kepala perlahan menatap tuan muda.
" HI,,," senyum Irena dengan terpaksa, Tuan muda mengacuhkan Irena dan lekas pergi membuat Irena lega, namun tak lama Tuan muda sadar dan ingat perempuan yang telah menuduhnya mencuri, belum sempat napas lega Irena di buang habis, tuan muda kembali lagi sembari menunjuk.
"kamu, ahhhh aku tak percaya ini, kau adalah bodyguard..??(seakan tak percaya) enggak,enggak,enggak, aku gak mau cewe rese ini jadi bodyguard,," tunjuknya pada Irena namun menatap Ervan sang manager.
"tapi,,," ucap Ervan terus di potong ,
"pokoknya aku gak ma,uu,," tegasnya kembali
Brak, secara tiba-tiba Irena memutar tubuhnya menepis tuan muda dan hampir jatuh tersungkur dengan posisi badan menunduk.
"eitss cewek rese, aku hampir terjatuh tersungkur,," teriaknya dengan nada sangat kesal
"Hampir terjatuh apa celaka.??" ketus Irena memberi pilihan, posisi masih membelakangi tuan muda sembari menatap senjata tajam yang hampir mencelakai tuan muda yang d ketapel oleh paparaji,
Irena pun mengambil senjata tajam berbentuk panah kecil itu,
sementara itu manager Ervan sangat terkejut dengan apa yang terjadi (diam membeku mulut sedikit mangap) Rama dan Tegar segera berlari bermaksud mengejar paparaji yang mengendarai sepeda motor.
"Tuan muda,, kali ini kamu harus mendengarkanku, pokoknya dia harus menjadi bodyguard anda,," tegas manager Ervan
"Irena,, Irena memiliki kemampuan khusus yaitu menghindar dari serangan musuh,yang tak terduga sekalipun, mata dan pendengarannya tajam dan jeli" Ervan membaca berkas tentang Irena.
"Tapi guekan udah bilang gue gak butuh bodyguard - bodyguard, gue bisa jaga diri sendiri" tegas Kenan percaya diri
"hah,, jaga diri sendiri, bagaimana dengan serangan telur busuk waktu itu,, jangankan hal semacam tadi, dari serangan telur aja kamu gak bisa menghindar," ejek Ervan tak mempercayainya.
"jangan bahas hal menjijikan itu lagi,,(ancamnya dengan nada pelan penuh tekanan) sudahlah terserah lho aja,," kata Kenan pasrah lalu segera pergi karena merasa malu.
"Baiklah, untuk hari ini cukup perkenalan saja dulu, kalian bekerja dari besok pagi, dan saya akan mengirim alamat rumah tuan Kenan ya,," ujar Ervan,
"baiklah, saya permisi dulu, terimakasih" Ervanpun lekas menyusul Kenan.
*****
"ya ampun,, yang benar saja,, masa cewek rese itu bodyguard gue" gerutu Kenan sendiri di ruangan kantornya sambil meneguk air mineral.
Tok,, tok,, tok.
"Heh Nan (menyenggol bahu kiri tuan muda) gue penasaran, lho sama tu cewek ada apa sih sebenarnya..??" Tanya Ervan penasaran mengangkat alis.
(BTW kalau mereka lagi berdua / di ruang kantor, memang akrab dan bicara selayaknya taman, Ervan juga adalah sepupu sekaligus managernya Kenan,
(KENAN PUTRA PERNANDO nama pemuda pewaris itu)
"Gue belum cerita ya sama lho,, itu cewek yang ngegagalin gue pergi ke club malam itu,"
"Hah kok bisa.?" Tanya Ervan lagi,
"Jadi gini, gue udah berhasil ngelabuin dan lolos dari pengawasan bodyguard yang waktu itu, tapi cewek rese itu ngegagalinnya, rese bangetkan," ujar Kenan kesal.
"Terus,terus.." pinta Ervan makin penasaran.
"Terus merekakan kejar gue, gue lari masuk gang, brak (memeragakan tangan kiri+kanan menabrak) gue gak sengaja nabrak tu cewek, ya gue sembunyi sambil nutup mulutnya, dan lo tau,dia,, malah nuduh gue pencuri dan memberi tau mereka, resekan tuh cewe"
"Hah,, yang benar (berusaha menahan tawa),, hahahahahaha" tawa Ervan gelak mendengar ceritanya
"Gue tau bakal seperti ini" ujar Kenan kesal dengan ledekan tawa Ervan
"Tapi tunggu,, memangnya tuh cewek gak tau siapa lo apa.?" pikir Ervan bingung, karena hampir se Indonesia tahu Kenan.
"Justru itu, gue juga bingung" jawab Kenan
"sudahlah,kenapa juga kita ngomongin tu cewek"
***
Di sisi lain Irena dan kawan-kawan juga mengobrolkan tentang hal yang sama
"Hah,,," Rama dan Tegar saling menatap sekejap
"bagaimana bisa kamu menuduhnya pencuri..??" tanya Tegar tak menyangka.
"Memangnya kamu gak tahu dia siapa? kok bisa-bisanya" tambah Rama,
"mana aku tahu dia siapa,," gerutu Irena
"yang benar saja, bukankah kau tahu berita tentang perusahaan H dan jelas di sana di beritakan tentang pewaris utamanya" jelas Tegar merasa heran.
"Apakah sangat penting mengetahui dia siapa.?" Ucap Irena tak perduli,
"ehh tapi hampir semua stasiun TV memberitakan dia, bukannya kamu sudah nonton berita tentang perusahaan keluarganya" kata Rama menatap heran Irena.
"Mm itu (garuk-garuk kepala) hehe (ketawa kecil) aku cuman nonton satu kali, itupun gak semuanya" ujar Irena malu, membuat kedua temannya pun saling menatap dan menghela napas.
"sudahlah,, mari kita cari makan ter lebih dahulu,, lepas itu pulang,," kata Irena.
***
Setelah makan bersama Irena langsung pulang kerumah,, namun ia tak langsung masuk ke dalam apartemen, melainkan naik ke rooftop apartemen di mana ia selalu duduk di dekat tangki air dan melihat pemandangan dari atas sana, Irena tinggal sendiri di apartemennya, kadang ia merasa sedih, dan kesepian.
Dulu Irena sangat bahagia, memiliki keluarga sempurna, dan dari keluarga berada, ayahnya memiliki beberapa bisnis.
Namun, semua berubah setelah ayahnya di tipu oleh sahabatnya sendiri, yang sangat ia percayai, dan bisnis ayahnya pun menjadi bangkrut, membuat Irena kehilangan segalanya,
terlebih lagi ibu yang sangat ia cintai mulai sakit - sakitan dan tak lama meninggal dunia, itu membuat Irena semakin terpukul, dan amat sangat sedih.
Saat itu, irena kelas 3 SMA, dan tengah menghadapi ujian akhir, semua teman - temannya tahu kalau Irena memiliki cita - cita di bidang hukum, dan sudah pasti akan kuliah mengambil jurusan hukum.
Namun, karena ayahnya sudah bangkrut, Irena harus menunda harapannya,,
ayahnya terpaksa pergi jauh, untuk bekerja mencari uang demi putra dan putrinya
lalu ia tinggal bersama bibinya, dan membantu bibi di restoran, sementara kakak lelakinya Denis bekerja di luar kota dan sudah menikah.
Namun semakin Irena dewasa, Irena pun memilih untuk tinggal sendiri di apartemen milik keluarganya, satu - satunya aset yang tersisa, dan Irena mencari pekerjaan lain untuk menghidupinya dan menabung demi mengejar cita - citanya.
Terkadang Irena merasa kesepian dan sangat sedih, bahkan terkadang berpikir hidup ini tak adil baginya, namun Irena selalu berpikir lagi, bahwa banyak orang di luar sana yang lebih menderita dan kekurangan darinya.