
Tak ingin terlalu lama melihat lelaki di hadapannya itu, Kenan menarik Irena pergi.
Mmm kenapa dengan dia? apa jangan -jangan kenan menyukai Irena, haha sungguh menarik,
Batin Gara tersenyum licik lalu memasukan tangan kanannya ke saku celana dengan terus memandangi Kenan yang menarik paksa Irena.
"Aw sakit," rintih Irena kesakitan dan berusaha untuk melepaskan genggaman Kenan.
Kenan pun menghentikan langkah dan melepaskannya lalu berbalik ke hadapan Irena,
"Aku gak suka lihat kamu berbicara, deket -deket dengan dia, apalagi berani - beraninya dia menyentuhmu." Gerutu kenan dengan nada marah,
Mmm apa dia sedang cemburu,
"Iya iya, jangan ngambek lagi dong, lihatlah lenganku jadi merah, kamu kasar banget sih," ujar Irena berusaha meredakan amarah Kenan,
"Hah coba lihat," menarik lengan Irena panik,
"Yaa benar, maafin aku ya, yuk kita kompres dengan es batu,"
"Gak usah, nanti juga hilang sendiri,"
"Baiklah semuanya, mohon hentikan aktipitasnya dan berkumpullah di sebelah sini," Terdengar suara Reni dari ujung speaker yang menjadi MC di acara pesta ulang tahun Luna, semua orang pun pergi berkumpul ke tempat di mana Reni berdiri,
"Sebelumnya terima kasih telah datang ke pesta ulang tahun Luna Handayani, mari kita segera mulai acara pesta ulang tahunnya dan bersenang - senang menikmati pesata ini, yuk kita langsung sambut putri di pesta malam ini, Luna."
Luna pun akhirnya muncul dengan mengenakan Gaun putih seperti princes dengan make up yang sangat cantik, semua orang di sana bertepuk tangan, tak sedikit pula yang memuji kecantikannya, Rendi yang terus memandang kagum Luna tanpa sadar Luna sudah tersenyum manis ke arahnya, membuat Rendi salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Reni menyerahkan mic untuk memberi kesempatan Luna untuk berbicara.
"Terima kasih karena telah hadir ke pesta ulang tahunku, semoga kalian menik mati pesta ini, Mm kebetulan kedua orang tuaku tidak bisa hadir di acara ulang tahunku, karena mereka ada urusan bisnis di luar negri yang tidak bisa di tunda, jadi saya sengaja mengadakan pesta ini untuk anak muda saja dengan mengundang teman - teman ku saja. Selamat bersenang - senang." Ucap Luna lalu menyerahkan lagi mic nya kepada Reni.
"Wah jadi pesta ini hanya di nikmati oleh anak muda, baiklah kita langsung saja memulai acara utamanya, yaitu tiup dan potong kue nya, yee." Penuh semangat.
Pelayan pun mendorong meja dengan kue ulang tahun ke hadapan Luna, semua pun serentak bernyanyi yang biasa di nyanyikan di acara ulang tahun,
"Tiup lilin nya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekaaarang juuga,"
Luna memejamkan mata berdo'a dalam hati lalu meniup lilinnya
"Yeeee," serentak bertepuk tangan
"Potong kuenya, Potong kuenya, Potong kuenya sekarang juga, sekarang juga, sekaraaang juuga"
Luna memotong kuenya berbentuk segitiga dan meletakan di piring kecil,
"Baiklah, karena orang tuanya dan tunangannya yang kebetulan tidak hadir, kira - kira siap yang akan mendapatkan potongan kue pertama, berarti dia orang paling special bagi Luna di pesta ini." Ujar Reni membuat Luna bingung,
Seketika suasana hening menerka - nerka siapa orang paling special bagi luna,
Mata Rendi terbelalak, terkejut bukan main, karena Luna sudah menyodorkan kue di hadapan mulutnya, Rendi diam sejenak lalu terpaksa membuka mulutnya menerima suapan kue dari Luna,
"Hah ternyata suapan pertama itu di berikan pada Rendi, itu berartii,"
Ujar Reni menghentikan bicaranya,
Hah itu tandanya Rendi orang special bagi Luna, Mmm
Batin Anggi penasaran kenapa mesti Rendi,
"Dansa," Anggi dan Rita merasa bingung karena tidak mempunyai pasangan,
Satu persatu mereka menghampiri Luna, mengucapkan selamat dan memberi kado,
"Selamat ulang tahun Luna, semoga panjang umur," ucap Adit menjulurkan tangan, lalu menyerahkan kado, di ikuti Gara dari belakang.
"Happy birtday," menjulurkan tangan, "sorry ya hadiahnya nyusul, karena mendadak di undang gue gak sempat beli hadiah," ucap Gara, bukan gak sempat sih lebih tepatnya bingung, karena belum pernah memberi hadiah kepada perempuan.
"Gak papa, dengan lho hadir saja itu sudah membuat gue seneng kok," ujar Luna tersenyum, Gara pun pergi tanpa berkata apa - apa lagi,
Rendi yang melihat mereka mengobrol tampak marah mengepalkan tangannya, lalu berjalan menghampiri Luna setelah Gara pergi, dengan membawa kado berukuran kecil di tangannya,
Anggi yang melihat memperhatikan ekspresi Rendi yeng jelas terlihat cemburu melihat Gara dan Luna mengobrol.
"Selamat ulang tahun" menjulurkan tangan, Luna tersenyum lalu segera membalas tangan Rendi,
"Makasih ya,"
"Mm," jawab Rendi singkat hendak pergi meninggalkannya, namun Luna menahan langkahnya dengan tidak melepaskan tangannya,
"Eh eh Ren, nanti pesta dansa, pleace jadi pasangan Gue ya," pinta Luna penuh harap, Rendi diam sejenak lalu dilihatnya Anggi sudah berdiri agak jauh dengan kado di tangannya untuk memberi ucapan selamat,
"Maaf Lun, tapi kalau tunanganmu tahu, dia pasti marah," ucap Rendi perlahan melepaskan tangang Luna yang menggenggam tangan kanannya,
"Renn," Gumam Luna terpotong
"Lagi pula Gue sudah ada pasangan kok," seraya berjalan menghampiri Anggi, dan berdiri di hadapannya,
"Lho jadi pasangan Gue di pesta dansa nanti," ucap Rendi lalu pergi tanpa mendapat persetujuan dari Anggi,
Anggi hanya berdiri kaku mendengar ucapan Rendi, seolah tak menyangka Rendi akan menjadikannya pasangan dansa, ia terpaksa menerima karena kebetulan juga Anggi belum mendapat pasangan.
***
"Hi Gara, Lho jadi pasangan Alexa ya, pleace!" Pinta Luna memohon,
Karena Luna sedang berulang tahun, dengan terpaksa Gara menjadikan Alexa pasangan dansanya, gak mungkin juga ia bisa menjadi pasangan Irena karena pastinya Irena berpasangan dengan Kenan,
Pesta dansa pun di mulai
Kenan berpasangan dengan Irena pastinya, bahkan mereka menjadi pasangan paling serasi,
Relin + Gilang, Gina + damar, Anggi + Rendi, Rita + Adit, Dimas + Dira, Luna + Rendra, Aldi + Reni, Gara + Alexa, dan lainnya.
Alunan musik yang romantis menyelimuti suasana pesta dansa, mereka mulai memposisikan dengan pasangannya,
sang pria menempatkan tangan kanannya di pinggang kiri atau punggung bagian tengah sang pasangan, tangan kirinya menggenggam lembut tangan kanan pasangan, dan mengangkat tangan kanannya hingga bahu pasangan yang lebih tinggi sehingga keduanya agak mendongak dari bahu. Mereka berdiri dengan jarak antara 15-30 cm dari pasangan
Lengan kiri sang wanita ditempatkan di bahu sang pria.
Alexa tampak malu dan gerogi ketika berdansa dengan Gara yang wajahnya tanpa ekspresi, sesekali Gara memandang Irena yang sedang berdansa romantis dengan Kenan, pemandangan itu membuat Gara emosi dan mengingat tatapan membunuh Kenan, lalu tanpa sadar ia tersenyum licik, membuat Alexa heran.
Tak sengaja Gara dan Alexa saling beradu pandangan, segera alexa menunduk malu, Gara tersenyum kecil melihat tingkah Alexa, lalu menarik pinggang Alexa agar lebih mendekat dengannya seperti posisi memeluk.
Sontak Alexa membelalakan matanya memandang Gara, ia terkejut dengan ulahnya, wajah mereka berhadapan sangat dekat, jantung Alexa berdegup kencang tak karuan, Alexa langsung mengalihkan pandangannya, sementara Gara bersikap tenang dan biasa saja.