
Jam sudah menunjukan pukul 12 lebih, Tegar dan Rama sudah ada di depan cafe di mana Irena dan Gara sedang berbincang,
Sebelumnya Irena memang meminta mereka untuk menjemputnya di tempat itu.
"Temanku sudah menjemput, aku pergi dulu ya, terima kasih atas informasinya." Ujar Irena sembari meneguk habis coklat miliknya, lalu berdiri dan membayar semua pesanan kemudian pergi.
Segera Irena masuk ke dalam mobil
Lalu mereka pergi menjemput Kenan,
"Hey, yang ada di sana, yang ada di sini
Semua ikut bernyanyi
Hey, yang datang di sini, jangan bikin keki
Bikin suasana happy,"
Sepanjang jalan mereka Irena, Rama dan Tegar bernyanyi mengikuti alunan lagu di radio mobil, dengan melakukan gerakan seperti di atas panggung yang sedang bernyanyi.
Ternyata di balik sikap tegas, berwibawa, serius tanpa ekspresi dan memiliki tatapan membunuh karena tuntutan pekerjaan mereka,
Ketika sedang tidak mengawal tuannya, mereka bisa menggila dan menjadi humoris bahkan memiliki sifat dan tatapan yang berbeda dengan ketika mereka sedang bekerja / mengawal tuannya.
Sesampainya di kampus seperti biasa mereka menunggu tuannya,
Tak lama Kenan pun datang yang di sambut oleh mereka sembari membuka pintu mobil,
Kenan pun segera masuk di susul oleh para bodyguardnya, seperti biasa Irena duduk di depan sebelah kemudi mobil.
"Aku mau makan di restoran X ya."
Pinta Kenan yang merasa lapar karena memang tidak sempat makan di jam istirahat,
"baiklah tuan".
Sesampainya di restoran X, Rama menghentikan mobilnya di depan pintu masuk, segera Tegar keluar dan membukakan pintu mobil untuk Kenan keluar "Mari kita makan," ajak Kenan kepada tiga bodyguardnya,
"Mm tidak tuan, aku sudah makan," ujar rama yang memang sebelum menjemput tuannya itu Rama dan Tegar makan siang terlebih dahulu.
"Aku juga sudah tuan, biar Irena yang menemani anda makan," sambung Tegar yang masih berdiri di samping pintu yang ia buka.
"Yaa baiklah," sembari keluar dan bejalan di susul Irena yang berlari kecil agar berjalan agak dekat di samping tuannya,
"Kakak,," teriak seorang gadis dari arah samping, sontak Kenan dan Irena menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara itu, terlihat gadis yang masih muda berdiri dan tersenyum lebar,
"Huh baiklah, hari ini aku sedang baik," ucap Kenan percaya diri merapihkan baju dan membalas senyuman gadis itu, Kenan yakin gadis itu pasti salah satu dari pans perempuannya, karena memang ia memiliki banyak pans apa lagi di kalangan remaja sudah seperti seorang seleb saja.
Gadis itu pun berjalan menghampiri,
namun ia justru melewati Kenan yang bediri tersenyum manis itu,
Membuat raut wajah Kenan berubah cemberut heran dan mengerutkan keningnya, merasa terabaikan.
"Kak akhirnya aku bertemu kakak juga, aku senang sekali," ucap gadis itu bahagia lalu memeluk Irena yang berdiri tak jauh di belakang Kenan.
Kenan pun membalikan badan dan menyaksikan mereka yang berpelukan,
Irena hanya diam menerima lalu membalas pelukan gadis itu.
Gadis itu pun melepaskan pelukannya, "apa kakak mau makan di sini ya,?" Tanya gadis itu, lalu membalik kan badan karena sadar ada seseorang yang telah ia abaikan.
"Eh kak Kenan halo, maaf ya aku lancang," Ucapnya sembari membungkukkan sedikit badannya,
"tidak juga," jawab Kenan merasa sedikit lega karena gadis itu mengenalnya, mungkin ia merasa kalau gadis itu seperti Irena yang sempat tidak mengetahui tentang dirinya.
Memangnya gadis ini siapa? Batin kenan, "Tidak perlu mentraktir, mari kita makan," kata kenan sembari berjalan masuk restoran itu.
"Ah tidak tidak, pokoknya aku yang traktir kalian,"ujar gadis itu mengikuti kenan, "sudahlah gak usah," kata Irena juga menolak.
"Kakak, aku belum sempat berterima kasih dan berharap bisa bertemu kak Irena, anggap saja, ini ucapan terima kasihku." Ujar gadis itu seraya merangkul lengan irena.
Lalu mereka duduk membuka menu dan mulai memilih makanan yang akan di order,
"Memangnya kamu ini siapa,?" Tanya kenan penasaran,
"Mm kak Kenan gak tahu ya, aku ini gadis yang gagal bunuh diri karena kak Irena, ia sudah menyelamatkan hidupku," jawab gadis itu sedikit malu menjelaakan, jadi wanita ini adalah gadis yang di selamatkan Irena, batin Kenan menyipitkan mata.
"Okhh ya kak, aku benar - benar sangat berterima kasih, karena sejak saat itu, kehidupan dan pemikiranku berubah menjadi lebih baik, kadang aku berpikir bodoh dan menyesali karena sudah mencoba bunuh diri." Ucap gadis itu sepenuh hati, Irena hanya tersenyum.
"Yaa kau memang bodoh, kau lihat banyak orang sakit berusaha untuk sembuh dan tetap hidup, sementara kau!" Umpat Kenan kesal memaki gadis itu karena hampir menyia - nyiakan hidupnya.
"Heh kau ini, malah memakinya," Tegur Irena memelototi Membuat Kenan diam dengan wajah bodohnya lalu bersandar di kursi dan memutar - mutar bola matanya.
Gadis itu terkekeh melihat tingkah Kenan karena di tegur kak Irena
"Gak apa kok kak, kak kenan ada benarnya juga kok."
"Mm nama kamu siapa?" Memalingkan pandangan dari Kenan ke gadis di depannya itu,
Pelayan datang membawa minuman pesanan mereka dan meletakan di meja, "Silahkan menikmati minumannya terlebih dahulu." Dengan nada sopan.
"Ok terima kasih."
"Okh iya, namaku Sinta kak." Ujarnya tersenyum menjawab pertanyaan Irena yang tertunda karena ada pelayan tadi.
"Oh ya Sinta, bagaimana bisa Irena menggagalkan rencana bunuh dirimu itu?." Tanya Kenan merasa penasaran.
"Itu ya, kak irena bilang kalau mau bunuh diri jangan di sana, apartemen itu hanya 3 lantai dan kemungkinan aku tidak langsung mati, ia menyarankan dan menunjuk gedung tinggi juga ada jurang yang curam." Tutur Sinta tertawa kecil mengingat perkataan irena waktu itu.
"Hah yang benar saja, Irena kamu ini Justru secara tidak langsung mendukungnya untuk bunuh diri." Gerutu kenan tak menyangka.
"Lihatlah dia sekarang, karena perkataan ku itu dia bisa tersenyum dan tertawa sekarang." Ujar Irena tak mau di salahkan,
"Tetap saja itu tandanya kamu tuh mendukung dan menyarankan dia mati," Kenan tak mau kalah / mengalah.
"Heh yang pentingkan dia tidak jadi bunuh diri, lagi pula aku cuman menakutinya saja kok." Tetap tidak merasa bersalah.
"Ya kau menakutinya, tapi enggak usah juga memberinya saran, bagaimana kalau."
Sementara Sinta yang duduk manis memperhatikan mereka berdua berdebat mulai kesal,
"Stop," menggebrak meja membuat kedua orang yang berdebat itu pun terkejut dan seketika terdiam lalu keduanya menatap Sinta.
"Kenapa kalian jadi berdebat sih?"
"Iya nih kamu sih," saut Kenan masih menyalahkan Irena
"Heh heh, kok aku sih," tak terima di salahkan lagi oleh Kenan.
"Tuh kan mulai lagi." Ujar Sinta memotong tak ingin mereka melanjutkan perdebatan yang tak penting.
Irena pun segera meminum air di hadapannya, untuk menghilangkan kecanggungan karena malu telah berdebat dengan Kenan di hadapan gadis kecil itu.
Pelayan pun datang dengan membawa hidangan makanan
"Steak (Kenan menarik ke hadapannya) Dua Spaghetti (Irena dan Sinta menariknya) Lasagna, Chicken wings BBQ."
Mereka pun menikmati makanan nya dengan lahap tanpa bicara apalagi berdebat.