
Tuan Diego sungguh marah saat ini. Ia tak menyangka Nona Diana yang ia yakini tak akan berani sampai seperti ini.
Tapi ia malah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan kini ia sangat marah hingga langsung saja menghajar Daniel.
Buk....buk.... buk....
Apun Tuan .....
Tuan Diego tolong jangan siksa lagi Daniel.
Ohhh ...dengan napas yang menderu, walau sudah menghentikan pukulannya, amarahnya masih memuncak.
Kau panggil dia Daniel. Sungguh akrab sekali kalian hah ...."dengan mata merah dan kini ia hendak menampar wajah Nona Diana.
Nona Diana sudah pasrah dan memejam kan matanya.
Ingin menjelaskan percuma, karena kini Tuan Diego yang sedang dilanda amarah.
Lalu Daniel mencoba membela dengan menghalangi dan berkata.
Maaf Tuan ! Kalau Tuan ingin marah, marah saja, kepada saya Tuan. Karena Nona Diana tidak bersalah Tuan.
Tidak, jangan hukum dia. Tapi hukum saja Aku dan Tuan juga tidak akan menerima penjelasan ku kan. Dengan rasa sedikit takut, ia masih memberanikan diri untuk berbicara.
Baik ! Kalau begitu cepat jelaskan kepada ku. Kenapa kalian bisa seakrab ini dan berada bersama di rumah ini.
Begini Tuan ! Saat itu aku yang bosan, perna meminta izin untuk keluar berjalan-jalan di pantai, dan entah mengapa, saat itu aku ingin berenang hingga aku hanyut di bawa air.
Dan hanya Daniel yang berani menyelematkan ku, Tuan.
Tapi bila Tuan tidak percaya, Tuan bisa tanyakan kepada para pengawal Tuan, dan untuk keberadaan saya saat ini.
Karena saya yang kebetulan lewat di daerah sini. Dan tak sengaja bertemu Daniel, serta karena ia yang perna menyelamatkan nyawa ku.
Apa salah aku mampir dan mengucapkan terimakasih Tuan.
Ah ..Tidak.
Kalau benar ceritanya seperti itu. Maka tidak baik kamu berlama-lama disini, dan cepatlah pulang serta layani aku.
Baik Tuan, dengan menunduk takut, Nona Diana, mulai pergi dan sambil melirik Daniel serta mulai meninggalkannya.
Dan sesampainya di dalam kamar mereka. Tuan Diego mulai mencumbu Nona Diana.
Ia juga sudah mulai menggilai tubuh Nona Diana.
Sesaat bersama sang istri, ia memang lebih bersemangat, tapi dipikirannya, selalu saja ia mengingat akan percintaannya bersama Nona Diana.
Entah apa yang merasuki pikiran Tuan Diego. Ia memang sangat mencintai istrinya. Tapi juga tidak mau melepas Nona Diana.
Dan bila sampai ia tau hubungan Nona Diana dan Daniel. Maka...entah apa yang akan terjadi terhadap mereka.
Nona Diana masih belum merasa bahaya pada dirinya. Ia masih menganggap kalau Tuan Diego hanya menganggap nya sebuah mainan. Dan karena anak inilah, ia masih mengikatnya.
Tetapi Nona Diana tidak tau, Kalau Tuan Diego membuat rencana untuk terus menahannya terus disisinya. Serta terus memberikannya banyak keturunan.
Tapi status mereka, akan terus disembunyikan. Dan bila sampai Tuan Diego tau hubungannya bersama Daniel.
Mungkin, Tuan Diego akan membunuhnya saat itu juga.
Tapi kini, Tuan Diego yang sudah dipuaskan oleh Nona Diana. Merasa memang benar, alasan yang diucapkannya saat itu.
Ia mulai tidak mencurigainya lagi. Tapi mereka berdua sungguh tersiksa, karena cinta mereka yang terhalang saat ini.
Dan Nona Diana sadar, karena memang dirinya saat ini, memang sedang dalam terikat.
Ia mulai suka melamun, bila saat sendirian. Menahan rindu kepada sang kekasih, membuatnya sakit.
Begitupun Daniel saat ini. Selalu melirik villa bila ia sedang melewati. Berharap bisa melihat sang pujaan, walau dari jauh.
Hingga saat sang istri kembali menelponnya kini. Dan memerintah agar mereka kembali bertemu serta melanjut kan percintaan mereka kembali.
Barulah setelah itu, Nona Diana merasa lega. Berharap bisa bertemu pujaan. Walau secara sembunyi-sembunyi.
Dan disisi lain kini. Lusiana benar diperlakukan layaknya seorang Ratu.
Ia diberikan apapun yang diinginkannya saat ini. Walau kadang, Tuan carlos selalu saja mencoba mencuri ciuman dari Lusiana dan bahkan hendak melecehkannya.
Akan tetapi, Lusiana masih bisa menghindar, dan menjaga dirinya.
Ia terus mencari alasan, agar bisa terhindar dari hal tersebut. Dan Tuan Carlos, masih bisa memakluminya.
Karena, ia tak mau lagi memaksa, seperti saat itu. Hingga membuat sang pujaan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Cukup saat itu dan tidak kali ini. Ia sungguh-sungguh mencintai Lusiana dari pandangan pertama.
Dan merasa ia bukanlah wanita seperti banyak yang ia temui. Lusiana sungguh berbeda.
Wajahnya yang alami, sikapnya yang lembut, hingga perkataannya yang menyejukkan hati.
Membuat jantung Tuan Carlos selalu berdebar bila menatapnya.
Ia sungguh tak mau lagi kehilangan wanita yang sangat ia cintai ini.
Walau ia tau, kalau wanita ini adalah istri dan sedang mengandung anak dari rivalnya sendiri.
Ia hanya tau, kalau Lusiana adalah wanita yang sangat dicintainya setelah Aurora.
Sampai ia perna khilaf dan ingin melecehkannya. Tapi teringat saat itu, dan setelah nya Aurora bunuh diri. Hingga ia mengurungkan nya.
Perilaku mereka sangat mirip dan inilah yang membuat Tuan Carlos menyukainya.
Sampai ia memutuskan untuk terus menahan dan menyembunyikan Lusiana, agar ia tidak kehilangan kembali, wanita yang dicintainya ini.
Ia pun terus menutup jalan, agar Andreas tidak dapat menemukannya hingga saat ini.
Karena Tuan Carlos sangat tau, saat ini Tuan Andreas seperti orang gila. Dan terus mencari keberadaan sang istri.
Sampai banyak detektif handal yang disewanya, serta melapor juga kepada pihak yang berwajib.
Agar dapat lebih luas mencari keberadaan sang istri.
Dan mengetahui ini, Tuan Carlos hanya tersenyum senang mendengar penderitaan Rivalnya ini.
Tapi berbeda dengan kedua orang Tua Lusiana. Ia sungguh kesal terhadap sang menantu, yang lambat dalam mendapati informasi keberadaan sang putri.
Ia berusaha turun tangan sendiri. Karena takut terjadi apa-apa terhadap sang putri, yang baru saja ditemuinya itu, dan kembali menjadi sesalan.
Terutama mengingat keadaan sang putri yang sedang mengandung serta hampir mendekati masa persalinan.
Membuat mereka nekat turun tangan sendiri. Mencari informasi, dari mengambil dan memohon untuk melihat CCTV didekat kejadian tersebut. Hingga menanyakan setiap pengguna jalan saat itu.
Dan kini akhirnya mereka mendapatkan hasil dengan menemukan plat mobil si penculik, dan menuju kearah mana, mereka pergi saat itu.
Hingga mereka mulai menemukan titik terang dan kini. Ayah Lusiana mulai menyelidiki daerah tersebut, sebelum mereka mulai menyerbu tempat tersebut dan menyelamat kan sang putri.
Karena selain harus mempunyai persiapan yang matang.
Mereka juga perlu memastikan, kalau benar tempat tersebut, adalah tempat penyekapan sang putri.
Dan kini, mereka terus menyelidiki. Mengawasi siang dan malam. Hingga terdengar kabar ke telinga Andreas.
Dan dengan cepat pula, Andreas menyusul ketempat tersebut, dan ikut menyelidiki.
Dan kini mereka sudah memastikan, hingga menunggu saat untuk menyerbu tempat tersebut.