Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh
BAB 24


"hi, ini datang ya ke acara ulang tahunku!" Sembari menyodorkan empat undangan yang sudah tertera nama yang berbeda.


"Hah lho undang kita kak,?" Tanya Relin seolah tak percaya,


Luna adalah putri dari pengusaha sukses yang cantik juga salah satu perempuan populer di kampus.


"Lho serius kak," tanya Rita, karena Luna senior mereka jadi tidak ada yang memiliki kelas dengannya, tapi mereka saling tahu / mengenal karena sama - sama banyak di kenal di kampus.


"Ya tentu saja, lho pacarnya Gilang (menunjuk Relin) dan lho pacar Damar (menunjuk Gina) kalian berdua pasti mereka ajak, so gue mau juga kalian berdua datang (menunjuk Rita dan Anggi) right," Tutur Luna.


"Okh baiklah terimakasih," ucap mereka serentak,


"Ok, aku pergi dulu ya bye, jangan lupa datang!" Pergi Sembari melambaikan tangan.


"Wahhh pasti acaranya meriah dan meweh," ujar Gina


"Yaa pastinya, kita harus kasih kado dan pakai gaun apa?" Rita merasa bingung.


"Dia sudah mengundang dengan hormat, aku harus memberinya kado special." Batin Relin.


"Hah kalian di undang juga ya," Renata dan teman - temannya menghampiri karena melihat undangan yang di pegang keempat perempuan penggoda itu,


"Kalian pasti tau dong orang - orang berkelaslah yang kak Luna undang!" Ujar febi memutar undangan dari Luna itu.


"Yaaa, kita gak boleh malu - maluin kak Luna," Sindir Renata seraya berlalu.


"Istt dasar,"


Mereka pun melihat undangnnya,


"Wah cuman beberapa hari lagi, gimana kalau besok kita beli gaun yang cantik."ajak Relin bersemangat.


"Enggak deh, lebih baik kita cari kado buat kak Luna aja, Gue bisa pakai gaun yang dulu." ucap Anggi


"Iya Gue juga" Timpal Rita lemas, Gina pun hanya mengangguk setuju.


"Hah maksud kalian gaun pesta kelulusan waktu SMA ya?" Berharap salah dengan tebakannya itu,


"Yaa itu masih baguskan," Jawab Anggi di sambut anggukan oleh Gina dan Rita.


"No no no, lho tadi lihatkan gimana ketiga perempuan sialan tadi menyindir dan mengejek kita, terlebih mereka sudah lihat gaun waktu kelulusan itu." Relin benar - benar tidak setuju.


"Persetan dengan mereka," Anggi tetap tak perduli, namun kedua temannya kali ini mulai berpikir ada benarnya juga apa yang di katakan Relin, namun mereka juga tidak memiliki pilihan dan hanya diam.


"Heh tenang aja gue yang beliin kalian," ucap Relin memelas


"Lho menang lotre lagi ya," ketus Anggi menatapnya sinis, "lebih baik lho tabung uang itu," sambungnya lagi lalu pergi di ikuti kedua temannya yang hanya diam.


Sementara Relin hanya diam menatap mereka pergi, karena sudah ada janji dengan Gilang kekasihnya.


"Huh, gue gak akan biarin tuh tiga cewe sialan mempermalukan kalian." Batin Relin sembari berpikir bagaimana caranya mereka menerima pemberiannya.


"Ehh kalian sadar gak sih? Akhir - akhir ini Relin sering belanja kita dan membeli barang mahal," tanya Rita merasa heran,


"Iya aku juga berpikir seperti itu, bahkan dia sering ngajak kita ke tempat - tempat berkelas," ujar Gina setuju dengan pendapat Rita.


"Apa mungkin Gilang yang memberinya uang?"


"Kayaknya enggak deh, Gilang gak se kaya itu, lagian Relin seperti itukan sebelum jadian sama Gilang," pendapat Gina masuk akal.


"Iya juga sih, menurut lho gimana Gi?" Rita meminta pendapat Anggi yang dari tadi hanya diam melamun menyimak pembicaraan kedua sahabatnya itu.


"Giii,"


"Gu,, mm pendapat gue (berpikir sejenak) enggak gue gak boleh berpikir negatif seperti itu," memejamkan mata sembari menggeleng - geleng kepalanya.


Kedua sahabatnya saling bertatapan penuh tanya dengan tingkah Anggi sahabatnya, lalu mengalihkan pandangan mereka ke arah Anggi.


"Memangnya apa pendapat Lho?" Tanya Rita penasaran,


"Mmm sebenarnya Gue pernah lihat Relin jalan bergandengan sama om om, penampilannya sangat rapih dan berwibawa, mereka bahkan keluar dari mobil mewah sangat terlihat kalau om itu adalah pengusaha, tapi bisa sajakan om itu siapanya gitu," tutur Anggi terpaksa menceritakannya.


"Gi kenapa Lho baru kasih tahu kita sih?" Ujar rita dengan nada tinggi merasa terkejut dengan perkataan sahabatnya itu,


"Yaa Gue pikir itu gak penting,"


"Kapan Lho lihat itu?"


"Beberapa minggu yang lalu, Gue lupa tepatnya kapan."


"Sudahlah, kita gak boleh berpikiran seperti itu, anggap saja kalau om itu salah satu keluarganya." Kata Anggi tidak ingin berpikir lebih.


"Iya juga, kalaupun benar, dia pasti cerita sama kita." Sahut rita setuju.


*****


Keesokan harinya


Mereka bersiap - siap untuk membeli hadiah untuk Luna dengan uang secukupnya,


"Sorry Gue gak ikut ya, ada urusan." Ucap Relin kepada ketiga sahabatnya.


"Mm baiklah,"


Tit tit


"Gue duluan ya Gilang sudah jemput, bye!" Seraya mengambil tas dan keluar.


"Yahh Damar gak bisa anterin kita nih, dia tidak bisa nolak nyokapnya yang tiba - tiba minta di anterin ke rumah nenek nya." Kata Gina setelah mendapat pesan dari Damar kekasihnya.


"Yah kenapa gak bilang dari tadi, kitakan bisa ikut Gilang sama Relin sampai mall," Ujar rita


"Ya sorry dia juga baru memberi tahu." Menundukan kepalanya merasa bersalah.


"Eh Gi coba deh Lho minta tolong sama Rendi,"


"Hah gila Lho, gak bisa diakan cuman anter jemput kita ke kampus," ujar Anggi gak setuju.


"Eh coba aja dulu, Diakan supir pribadi Lho selama satu bulan." Dengan wajah memelas.


"Huh," melihat wajah memelas kedua sahabatnya itu Anggi pun terpaksa mengambil hpnya dan mencari nama supir pribadi di contaknya, lalu menekan tombol hijau.


"Ya, ada apa?"


"Mmm Lho lagi apa, sibuk gak?"


Tanya anggi gugup.


Tumben ni cewe nelpon dan nanya, pasti ada maunya


"Gue di rumah, kenapa?" Tanya nya lagi,


"Huh, kalau boleh minta tolong Lho bisa anterin kita gak? Itu juga kalau bisa, kalau enggak juga gak papa kok."


Sial, ni cewek pikir dia siapa, beraninya minta tolong ke Gue, tapi Gue juga boring nih di rumah seharian.


"Halo, gak bisa ya, yaudah bye." Kata Anggi karena tidak ada jawaban dari Rendi dan hendak mematikan panggilannya.


"Baiklah, kebetulan teman - teman Gue pada sibuk, Gue kesana sekarang." Jawab Rendi mematikan panggilannya, membuat ketiga sahabat itu tersenyum lebar.


"Ayo cepat kita siap - siap jangan biarkan tu cowok menunggu, nanti mukanya masam lagi," ujar rita terkekeh disambut tawa gelak dan mereka pun segera menyelesaikan dandanannya.


Tak lama Rendi pun datang, segera ketiga gadis itu keluar lalu masuk mobil,


"Terima kasih ya Lho mau anterin kita," ucap Anggi yang duduk si sampin Rendi sambil memasang sabuk pengaman lalu menatap kedua temannya dibelakang.


"Terima kasih ya ren," ucap kedua temannya seolah tahu tatapan dari Anggi,


"Hm," jawab Rendi singkat.


"Kemana?" Tanya Rendi setelah melajukan mobilnya,


"Lebih baik kita makan dulu deh," ujar Rita merasa lapar,


"Gimana, Lho lapar gak Ren?" Tanya Anggi


"Hm boleh."


Anggi pun menunjuk arah di mana mereka akan makan, Rendi pun menghentikan mobilnya di depan warung makan NASI LIWET tradisional sederhana.


"Hah Lho serius kita makan di sini?" Tanya Rendi merasa risih makan ditempat yang sederhana.


"Ya ampun anak sultan gak pernah makan di tempat seperti ini ya," ledek Gina lalu melangkah menuju warung makan itu di susul sahabatnya,


"Udah ayo," ajak Anggi, dengan terpaksa Rendi mengikutinya.