Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh
BAB 22


Pagi hari seperti biasa, seperti ke sepakatan, Rendi harus menjemput dan mengantar Anggi dan teman - temannya.


"Kenapa mereka lama sekali, beraninya mereka membuatku menunggu," gerutu Rendi kesal, karena ia telah menunggu mereka lebih dari 10 menit.


Akhirnya mereka yang di tunggu pun keluar dengan tawa yang begitu membuat Rendi tambah jengkel, bagaimana tidak Rendi yang kesal menunggu mereka, sedangkan mereka datang dengan tawa bahagia tanpa dosa.


"Hi Ren, selamat pagi,!" Sapa mereke sembari masuk mobil di sambut dengan senyuman terpaksa Rendi, Rendi menganggap sapaan mereka adalah ledekan.


"Sory ya nunggu lama," ucap Anggi yang baru masuk di depan sebelah Rendi, Rendi masih membalas dengan senyuman terpaksa, sementara Anggi memasang sabuk pengaman dan headset di kedua telinganya,


Setelah mereka semua sudah masuk mobil, segera Rendi menancap gas melajukan mobilnya,


Sepanjang jalan para gadis di belakang Rendi itu tak ada habisnya mengobrol dan bergosip sudah seperti ibu - ibu arisan, bahkan sesekali mereka tertawa lepas, membuat Rendi semakin jengkel dan kesal saja.


Sesekali Rendi melihat kaca sepion yang tergantung dengan ekspresi jengkel, sampai Anggi gadis di sebelahnya menyadari kekesalan Rendi.


Anggi tersenyum kecil melihat ekspresi Rendi lalu melepas dan memasang satu headset di telinga kiri Rendi, Rendi yang terkejut segera melihat ke arah Anggi penuh tanya.


"Jangan di dengarkan, bahkan terkadang Aku sendiri pun tak mengerti apa yang mereka gosipkan, dan membuat kupingku sakit mendengar tawa Mereka, hemm mereka temanku" Ujar Anggi menyindir teman - temannya.


"Hey apa maksudmu,?" Tanya Relin mendengar ucapan Anggi,


"ahh diakan memang kuper selalu ketinggalan dan gak mau tau gosip ." Timpal Rita mengingatkan, bahwa memang anggi adalah orang yang cuek.


Sementara Anggi tersenyum menggoyang kelapanya ke kanan dan ke kiri, pura - pura tak mendengar ocehan mereka.


"Issstt," Relin mendorong kecil lengan Anggi karena kesal melihat tingkah Anggi yang pura - pura tak mendengarnya.


Sementara Rendi tersenyum kecil dan berpikir memang dari awal ia merasa kalau Anggi berbeda dengan temannya yang lain.


Di lain tempat,


suasana hening di dalam mobi Kenan dan ketiga bodyguardnya, hari ini Kenan sedang tidak ingin memakai mobil sport miliknya,


Trtt,, trtt, trtt,,


Panggilan masuk dari hp milik Irena, dilihatnya panggilan masuk dengan nama kontak (Gara ku) Irena memandang sekejap layar hp nya dan teringat pada lelaki yang kemarin bertemu dengannya, "Gara ku, bukankah nama panjangnya Gara,,, ahh entahlah" gumam irena dalam hati, segera ia mengangkat.


"Ya halo,,?"


"Selamat pagi my angel," ujar Gara dari ujung telpon, kenapa dia selalu memanggilku my angel,? Batin Irena merasa risih dengan panggilan itu.


"Mm ya ada apa,?" Tanya Irena malas,


"apa hari ini ada waktu,?" Tanya gara balik


"Waktu,?" Ucap irena seakan bingung, kenapa juga dia harus ada waktu dengan orang yang ia rasa mereka tidak saling mengenal.


"Hmm ternyata kamu sudah tidak penasaran lagi tentang mereka ya,"


Sejenak Irena berpikir dan ingat akan informasi tentang para Pria kemarin.


"Ehh ya tentu saja aku ada waktu, nanti aku hubungi lagi, bye." Seraya mematikan hp nya.


Kenan yang memperhatikan dari belakang mengerutkan dahi penuh tanya, Ada apa dan dengan siapa Irena berbicara, samar - samar terdengar suara laki - laki.


Sesampainya di kampus Kenan turun dari mobil dan menghampiri temannya yang sedang menunggu,


"Wahhh bahkan hari ini Kenan lebih dulu datang," ujar Aldi,


"Maksud lho,?" Tanya Kenan tak mengerti dengan ucapan Aldi,


" Lho liatkan, semenjak Rendi jadi supir pribadi ke Empat cewek penggoda itu, tidak biasanya dia selalu datang terlambat, bahkan hari ini lho sampai duluan." Ujar Rendra menjelaskan.


Tak lama mobil Rendi terlihat berhenti di depan koridor kampus dan turunlah keempat gadis itu, lalu Rendi memarkirkan mobilnya.


"Wahh Rendi sudah benar - benar menjadi supir mereka," ucap Kenan tersenyum kecil, di sambut tawa temannya yang lain,


Rendi menghampiri mereka dengan muka masam seolah tahu apa yang sedang kawan - kawannya tertawakan,


"Huh, bahkan aku di buatnya menunggu di sana." Ujar Rendi kesal, serentak mereka tertawa lepas, menertawakan nasib Rendi sekarang.


*****


Irena sedang duduk santai di sebuah cafe, menunggu seseorang sambil menikmati segelas coklat panas,


"Hy my angel, sory telat apa sudah lama menungguku,?" Tanya Gara, seseorang yang ia tunggu muncul dari arah belakang, seraya duduk di depan Irena, dengan senyuman lebar nya itu.


"Hah tidak juga," jawab Irena menyodorkan menu, di terima langsung oleh Gara,


"Pelayan," teriak Gara sembari mengangkat tangan, salah satu pelayan pun menghampirinya dan mencatat orederan Gara.


"Huh baiklah, langsung saja kamu ceritain apa yang kamu tahu tentang mereka,?" Tanya Irena tanpa basa basi.


"Ayolah bahkan aku belum minum, kelihatannya my angel penasaran dan bersemangat sekali ya,"kata Gara sambil menatapnya imut,


" Heh kenapa selalu memanggilku my angel,?" Tanya Irena tidak suka di panggil seperti itu.


"Yaaa karena kamu guardian angel, singkatnya my angel," jawabnya tersenyum manis,


"Huh terserahlah," ketus Irena, masih dengan cuek nya,


Tak lama orderan Gara pun datang,


"Selamat menikmati Tuan dan Nona," seraya meletakan Cappucinno panas, cake berlumuran coklat, lalu membungkuk dan pergi.


"Jadi gimana,,?" Tanya Irena tidak sabar dengan apa yang ingin ia tahu, Gara tersenyum lalu menyeruput Cappucinno nya yang masih panas.


"Mmm ok, jadi yang aku tahu tentang mereka," menyeruput lagi Cappucinno nya, dan mulai bicara serius,


"mereka seperti anggota sebuah agen yang entah apa nama pastinya, sepertinya mereka memiliki banyak anggota di bagi menjadi beberapa kelompok, dan di beri tugas masing - masing, seperti mereka yang kamu lihat, di rumah itu terkadang banyak orang datang seperti orang - orang penting, aku pikir rumah itu tempat di mana para petinggi anggota itu berkumpul dan berdiskusi,"


Irena yang sangat serius mendengarkan penjelasan Gara, berpikir dan mencerna.


"Mmm apa mereka seperti agen rahasia gitu, terus bagaimana dengan anggota penyerangan?"


"Anggota penyerang,?" Gara bingung dan berpikir dengan pertanyaan irena,


"Yaa sudah beberapa kali, Kenan di serang dan penyerangnya itu berhubungan dengan tanda segitiga bintang yang terlihat ada di lengan salah satu pria kemarin." Irena terpaksa menjelaskan karena ia ingin tahu lebih detail lagi tentang mereka.


Jadi ini alasan Irena sangat penasaran dengan mereka, batin Gara yang memang ingin tahu kenapa Irena penasaran dengan mereka.


"Tapi dari postur tubuhnya bukan mereka deh yang sudah menyerang Kenan," sambung Irena lalu menyeruput coklat panas nya.


"Mmm ya mungkin, ada juga yang di tugaskan untuk menyerang," pikir Gara sembari memakan cake,


"Atau mungkin mereka anggota mafia ya." Irena menyimpulkan,


"Mm bisa jadi," Gara setuju pendapat Irena, lalu menyodorkan sesendok cake ke hadapan mulut Irena, refleks Irena membuka mulut, lalu sadar dan sejenak diam membeku.


Gara pun tersenyum penuh kemenangan lalu menyodok cake nya lagi dan memakan dengan tersenyum lebar, meng isyaratkan agar Irena juga mengunyahnya.


Irena pun terpaksa mengunyah cake yang sudah terlanjur ada di mulutnya sambil menatap Gara dengan ekspresi bodoh.


"Mm kamu ingat gak? Sebelumnya kita pernah bertemu," tanya Gara,


"Ya tentu saja," jawab irena sembari memakan cake.


"Wahh My Angel ternyata kamu ingat ya, aku pikir kamu lupa!" Ujar Gara bahagia penuh percaya diri.


"Yaa tentu, baru saja kemarin , masa lupa," kata Irena dengan santainya membuat raut wajah Gara berubah menjadi masam,


"Apa kemarin, bukan, maksudnya sebelum kemarin, ahh ya semestinya aku tahu My Angel pasti lupa, hah sudahlah." Merasa kesal karena Irena tidak ingat dengan pertemuan pertamanya sebelum kemarin.


"Hah, memangnya kapan dan di mana pertama kita bertemu,?" Tanya Irena masih terdengar santai,


"Itss sudahlah gak usah di bahas," ujar Gara cemberut.