
Aldo mengusap telinganya yang terasa panas karena tarikan tangan Rosma begitu kuat dan hasilnya telinga Aldo menjadi merah.
Anita terkekeh melihatnya "Awas saja kamu,Yank nanti malam kamu harus di beri hukuman !. Bukannya kasihan sama suami,malah ditertawakan" Bukannya takut ancaman Aldo,Anita malah tertawa terbahak.
"Lagian kebiasaan kamu itu enggak pernah berubah" Anita mencebikan bibirnya.
"Udah ! Nggak usah saling menyalahkan ! Kalian berdua itu salah dan kalian sudah menodai mata suci Encus. Oh,astaga,bahkan mama gemas sekali dengan kalian ini" Ucap Rosma,dengan nada kesal dan berkacak pinggang.
Keduanya setelah tau penjelasan Rosma pun malu,karena baru ingat jika dirumahnya sekarang ada Encus yang masih berusia 17 Tahun.
"Maaf" Ucap mereka berdua. Rosma hanya memutar kedua bola matanya malas menanggapi pasangan yang katahuan mesum di depannya ini.
"Jangan di ulangi lagi ! Kalau mau wik-wik pintunya ditutup. Kasian kan Encus !" Hardik Rosma. Ia sangat peduli dengan Encus,baginya Encus sudah dianggap seperti anaknya sendiri walau mereka baru kenal,Rosma salut dengan perjuangan gadis kecil itu yang harus putus sekolah demi membiayai kehidupan orang tuanya yang serba kekurangan.
Rosma tidak membeda-bedakan status sosial seseorang,baginya semua manusia itu sama,mau kaya atau miskin karena di mata Tuhan derajat semua orang itu sama. Itu yang selalu Rosma diajarkan kepada anaknya dan juga suaminya,karena masa muda Sanjaya dulu adalah orang yang sombong dan suka merendahkan orang lain,lelaki itu berubah saat bertemu dengan Rosma.
"Iya mama" Ucap Anita dan Aldo bersamaan.
"Ya,udah. Ayo turun,sudah waktunya makan siang dan biarkan ini nanti biar Encus yang menyelesaikan" Titah Rosma,sambil mengedarkan pandangannya di kamar cucunya yang masih terlihat berantakan.
Dimeja makan,mereka makan dengan hikmad hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
Setelah selesai makan siang,mereka menuju ruang tengah untuk berbincang atau menonton TV.
"Oh ya ? Papa kemana,Mah?" Tanya Anita mulai pembicaraan. Karena sejak tadi dan makan siang bersama,tidak melihat Sanjaya.
"Papa bertemu dengan Ferdi,entah apa yang mereka bahas" ucap Rosma dan Anita mengangguk,sedangkan Aldo hanya menyimak sambil memainakan ponselnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mengusap-usap perut sang istri.
"Oh,mungkin bisnis Mah" Jawab Anita.
"Ini hari minggu dan mama tahu sekali Papa mu itu tidak akan membahas pekerjaan di hari libur" Jawab Rosma, Walaupun kedudukannya sudah di gantikan oleh Aldo,Sanjaya juga masih ikut Andil dalam mengelola perusahaan walaupun tidak sepenuhnya.
Anita jadi bingung menjawab apa,karena mama mertuanya terlihat kesal.
"Eh,kalian tahu enggak ?".
"Enggak mah" jawab Aldo dan Anita bersamaan.
"Ck. Kalian ini,mama belum selesai bicara !" Ketus Rosma. "Ternyata Citra hamidun". Mode mulai ngegibah.
"Hah,serius " Aldo dan Anita sangat terkejut. Pantas saja selama ini mereka tidak pernah bertemu Citra dan walaupun bertemu, Citra terus menghindar.
"Dua rius malah. Kemarin mama ke rumah Ferdi eh disana ketemu Citra dan perutnya buncit kayak kamu,sayang" ucap Rosma sambil menunjuk perut menantunya.
"Dan lebih parahnya lagi,kalian pasti kaget siapa yang menghamili Citra".
"Siapa mah?" tanya keduanya penasaran.
"Si Dono " Jawab Rosma.
"Dono siapa? Dono warkop? " Tanya Aldo.
"Bukan tapi Doni Hermansyah".
"APA !!" Anita dan Aldo terkejut bukan main.
"Wah,kurang ajar tuh anak pantesan selama ini sifatnya terlihat aneh dan seperti ada yang ditutupi" Kesal Aldo mengepalkan tangannya.
"Pasti Citra sangat terpukul,kasian banget dia" Ucap Anita sendu.
"Mereka sudah menikah kok" Jawab Rosma.
Membuat Aldo dan Anita sedikit bernafas lega,tapi yang menjadi pertanyaan kenapa Citra bahkan Ibunya sendiri menyembunyikan hal sebesar ini .Pikir Anita.
Anita dan Aldo saling pandang kemudian mengangguk.
🌷🌷🌷🌷🌷
Hari semakin malam Ferdi dan Sanjaya masih di markas Black Devil disana juga ada beberapa penjaga. Ya ,Sanjaya mengetahui semua tentang Ferdi yang sebenarnya karena mereka sudah berteman sejak masa kuliah dulu.
"Aku tidak yakin dengan pria ini" Ucap Sanjaya,menunjuk Bram yang duduk diantara mereka.
"Maaf,tuan. Saya sungguh sangat menyesali perbuatan saya dulu" Ucap Bram dan Sanjaya hanya mendengus kesal.
"Sudahlah Jay,dia dapat di percaya buktinya dia melakukan pekerjaannya dengan baik,dan sekarang kita sudah mempunyai kelemahan Bastian dan harus mengatur strategi untuk menyerangnya ! Huh kesal sekali aku rasanya karena Bastian berani ingin mencelakai Anita dan kandungannya".
"Itu semua aku serahkan pada mu Fer,aku tidak ikut-ikutan soal balas membalas Bastian" Ucap Sanjaya "Dan kalau bisa sudahi pertikaian ini Fer" lanjut Sanjaya kemudian mendapat tatapan tajam dari Ferdi.
"Slow Bro. Jangan menatapku seperti itu dan aku cuma menyarankan saja".
"Huh,Mana bisa di akhiri begitu saja ! Bastian itu adalah penjahat kelas kakap,dia juga sering menindas orang yang tidak bersalah,mana mungkin aku membiarkan orang seperti itu berkeliaran,apalagi nyawa anak-anakku dalam bahaya" Jelas Ferdi.
"Iya tapi,aku hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu. Lebih baik awasi dia dulu dan jika dia berbuat jahat kepada keluarga kita barulah bertindak. Jangan terlalu gegabah menghadapi Bastian si licik itu". Ucap Sanjaya.
Ada benarnya ucapan Sanjaya. pikir Ferdi.
"Baiklah,aku suka saran mu" Ucap Ferdi,menepuk pundak Sanjaya.
"Ya sudah,aku mau pulang sudah rindu sama istri tercinta". Ucap Sanjaya lalu bergegas pergi.
"Cih ,dasar tua bangka" Cibir Ferdi saat Sanjaya sudah tak terlihat.
"Kalian dengar ! Awasi Bastian dan kau Bram jangan lupa tugasmu" Ucap Ferdi.
"Baik Tuan" jawabnya kompak.
Setelah pembahasan tentang Bastian selesai Ferdi mengemudikan Mobilnya sendiri menuju rumah besarnya.
Saat sampai dirumah ia disambut oleh sang istri.
"Kenapa malam sekali,Fer ?" Tanya Diana.
"Kenapa ? Kau merindukan ku ?" Ucap Ferdi dengan nada menggoda kemudian ia menarik pinggang Diana hingga menempel ketubuhnya.
"Ish,Fer. Jangan begini malu kalau ada yang melihat" ucap Diana,menahan dada bidang Ferdi agar tidak teralu menempel.
"Siapa yang melihat ? Sudah malam dan pelayan juga sudah pada tidur begitu juga Citra dan Doni" Bisik Ferdi sensual tepat di telinga Diana dan membuat bulu kudunya meremang.
"Ferdi,ingat umur kita sudah tua". Diana sangat malu di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
"Kau mengatai aku TUA !" Ucap Ferdi kesal dengan menekan kata Tua.
"Memang kenyataanya kan" Ucap Diana apa adanya. Tapi ucapan Diana telah membangunkan singa tidur.
"Oh,begitu ya ? Ayo kita buktikan si pria tua ini akan membuatmu lemas dia atas ranjang kenikmatan" Ucap Ferdi, kemudian memanggul Diana seperti karung beras menuju kamar utama.
"Hei,Ferdi turunkan aku" Pekik Diana.
Bersambung
Adegan wik-wik opa Ferdi dan oma Diana nanti saja ,soalnya masih siang😜
Jangan lupa dukungannya ya seyeng😚