
Jangan lupa like agar author makin semangat berkarya.
Follow IG me @Thalindalena
SELAMAT MEMBACA
Kuhanya diam Menggenggam menahan
Segala kerinduan ,Memanggil namamu
Disetiap malam,Ingin engkau datang dan hadir
Dimimpiku. Rindu.
Anita duduk di kursi panjang yang ada dibalkon kamarnya. ia duduk termenung tatapannya hampa seperti tak ada kehidupan lagi. Sudah satu minggu Aldo pergi dan tak memberikan kabar sama sekali bahkan sudah ratusan kali ia menelpon suaminya tapi tidak ada jawaban begitu juga pesan yang ia kirim tak kunjung ada balasan. sesibuk itukah suaminya? Kini perasaannya semakin kalut saat mengingat pesan terakhir suaminya malam itu.
Sanjaya dan Rosma hanya bisa melihat kejauhan,mereka tau menatunya itu sedang bersedih. Lalu ia mencoba menelpon Doni tapi nihil juga tidak ada jawaban.
"Bagaimana Mah?" Tanya Sanjaya saat melihat istrinya menelpon putranya lagi. Rosma menggeleng sebagai jawaban dan membuat Sanjaya meraup wajahnya kasar. Sanjaya lalu meraih ponsel yang ada di kantong celananya kemudian menelpon orang suruhannya yang selama ini menjadi bodygard bayangan Aldo,tapi telponnya tak kunjung diangkat membuat Sanjaya mengumpat dalam hati.
"Tidak biasanya dia seperti ini"Cemas Sanjaya karena putranya itu jika sedang keluar kota pasti selalu memberikan kabar. Rosma tidak kalah cemasnya apa lagi melihat menantunya seperti tak punya semangat hidup lagi.
Setelah kepergian Aldo,Anita jadi tak bersemangat, makan pun tak teratur hingga tidur juga hanya berapa jam saja karena begitu cemas dengan suaminya tak kunjung memberikan kabar.
"Sayang,masuk yuk kedalam "Ajak Rosma karena hari sudah semakin larut. Tapi Anita tak bergeming masih hanyut dalam kegundahan hatinya.
"Mah,aku takut mas Aldo kenapa-kenapa"Lirih Anita kemudian air matanya menetes begitu saja.
"Kita doakan saja semoga Aldo selalu dalam lindungan Allah" Ucap Rosma menenangkan lalu ia merengkuh menatunya itu.
"Tapi Anita takut Mah" Anita semakin terisak di dalam pelukan ibu mertuanya. Beberapa saat kemudian tubuh Anita melemas tak sadarkan diri.
Rosma panik saat mengetahui Anita pingsan lalu ia berteriak memanggil suaminya.
"Ada apa mah?" Sanjaya melangkah tergesa.
"Tolong bawa Anita ke tempat tidur Pah" Ucap Rosma sambil menopang tubuh Anita.
"Apa yang terjadi"Sanjaya panik melihat menantunya tak sadarkan diri kemudian ia menggangakat Anita dan meletakkan di atas tempat tidur.
"Papa telpon dokter keluarga dulu ya mah" ucap sanjaya.
Beberapa saat kemudian dokter sudah datang dan memeriksa keadaan Anita. Dokter itu tersenyum saat tangannya memeriksa perut Anita.
"Bagamana Dok?" Tanya Rosma dan Sanjaya bersamaan.
"Tidak apa-apa Nyonya tuan,Nona muda baik-baik saja" Ucap dokter itu tenang dan diselingi senyuman.
"Tidak apa-apa bagaimana? Menantu kami tiba-tiba pingsan begitu" Ucap Sanjaya dengan nada tinggi.
"Tenang Tuan. Ini adalah hal yang wajar di awal kehamilan"
"HAMIL?" Ucap bersamaan dan dokter itu mengangguk lalu tersenyum.
" Ma maksud dokter,Anita menantu saya sedang mengandung?" Ucap Rosma tergagap tak percaya.
"Iya Tuan,Nyonya untuk memastikan lebih baik segera di tes dulu. Ini saya berikan Tespeck yang lebih akurat jadi langsung bisa di coba saat Nona sudah sadar. Perkiraan saya usia kandunganya baru dua minggu dan saya sarankan Nona muda jangan banyak pikiran atau pun stres karena itu akan berpengaruh pada janin yang dikandung" Ucap Dokter dengan menyodorkan dua buah tespeck lalu diterima oleh Rosma.
"Dan ini saya berikan resep vitamin dan obat untuk Nona muda" Ucap dokter menyerahkan resep pada Sanjaya.
"Baik dokter terimakasih" Ucap Rosma. Lalu dokter tersebut pamit undur diri.
"Pah ini seperti mimpi. Kita sebentar lagi akan jadi opa dan oma. Aldo pasti senang mendengarnya" Ucap Rosma bahagia menatap menantunya itu yang belum sadarkan diri, tak menyangka jika diperut rata menantunya itu ada malaikat kecil.
"Iya ma,papa bahagia sekali " Sanjaya lalu memeluk istrinya.
Ponsel Sanjaya Berdering. Lalu sanjaya melepaskan pelukannya dan segera beranjak dari sana.
"Iya pah" Ucap Rosma lalu duduk di pinggiran ranjang kemudian mengelus wajah Anita yang sedikit pucat.
Sedangkan Sanjaya yang sudah di ruangan kerjanya.
"Bagaimana bisa?" Teriak Sanjaya emosi pada orang suruhannya.
"Maaf tuan kami di kelabui dan kami kecolongan"
"Bodoh" umpat Sanjaya " Apa kinerja kalian sudah menurun?" kini wajahnya sudah memerah karena emosi.
"Maaf Tuan kami akan segera menemukan Tuan Aldo dan juga Tuan Doni"
"Iya dan jika kalian gagal bersiap lah kehilangan kepala kalian" Ancam Sanjaya tak main-main. membuat orang yang mendengarnya ketakutan.
"Ba baik,Tuan" lalu panggilan terputus.
Sanjaya menggebrak meja dengan keras. ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Siapa yang berani main-main dengan keluarga Sanjaya" Geramnya. Selama ini ia tak pernah memiliki musuh.
"Akan ku pastikan siapapun mereka akan menyesal dan menanggung akibatnya"
Sanjaya berusaha mentralkan nafasnya dan kini wajahnya yang sudah seperti sedia kala. Biarkanlah istri dan menantunya tak mengetahui hal ini dulu sampai ada titik terangnya. Apalagi keadaan Anita sedang mengandung.
Sementara di tempat lain tepatnya dirumah mewah seorang lelaki tertawa mengerikan.
"Kerja yang bagus,Tahan mereka dan aku akan segera kesana".
"Ha ha ha ha. Akhirnya Aku mendapatkan mu Aldo dan aku akan segera melenyapkan mu,kemudian dia akan kembali pada pelukannku"
Seseorang yang bersembunyi dibalik pintu itu menutup mulutnya tak percaya apa yang ia lihat dan tak lupa ia juga merekam kejadian itu dengan ponselnya.
"Cinta telah membuatmu buta dan terobsesi. Aku menyesal pernah mencintai mu" batin wanita itu. ia masih terkejut apa yang telah ia lihat. ternyata pria yang ia cintai selama ini adalah seorang psikopat.
"Aku harus segera menemui keluarganya dan menyerahkan bukti-bukti ini" batin wanita itu dengan menggenggam ponselnya.
"Tapi bagaimana caranya? alamatnya aja tidak tau" lalu kemudian ia berpikir keras.
"ah aku tau bukan kah keluarganya orang terkaya dan berpengaruh di kota ini pasti di internet ada. Eh tapi apa ya nama keluaraganya?" Wanita itu bingung sendiri.
"Lebih baik aku tanya bibi aja dulu" Lalu diam-diam ia keluar dari kamar itu.
"Siska mau apa?" Suara bariton itu mengejutkan nya.
Tubuh Siska mematung saat pria itu semakin mendekat. Lalu melayangkan pertanyaan yang sama.
"Ti tidak" Jujur Siska trauma saat berdekatan dengan pria ini,apalagi ia hampir kehilangan calon babynya untung saja dokter dirumah sakit itu mau diajak kerja sama untuk mengatakan jika calon baby nya sudah tak bisa diselamat kan.
Tapi Siska memberanikan diri saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan Bram menyebut nama Aldo. jadi ia ingin mengetahui apa yang pria itu rencanakan.
Tubuh Siska semakin menegang saat Bram memegang tangaannya. Bayangan saat ia di bawah kungkungan Bram masih terlintas dibenaknya.
"Tolong lepaskan aku-" Lirih Siska badannya bergetar ketakutan.
Terimakasih sudah nunggu up dari othor readers.
Terus dukung author ya readers dengan cara like,komentar dan vote ya.
Mampir yuk di karya author yang lain di lapak sebelah.