
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?" Tanya Bram kepada putrinya.
"Iya, Pa." Jawab Salwa mantap.
Saat ini Salwa tengah duduk di ruang kerja sang Ayah.
Ya! Setelah pulang dari Kafe family, Salwa mengutarakan niat Kenzie kepada sang ayah yang akan melamarnya besok pagi.
"Huh." Bram menghembuskan nafas beratnya. Keputusan yang berat selama dalam hidupnya.
Apakah ia harus melepas putri kesayangannya kepada Pria yang pernah menyakiti putrinya itu?
Di tambah lagi Salwa tengah mengalami amnesia dan itu membuat Bram dilema.
"Salwa, Papa tanya sekali lagi. Apakah kau sudah yakin dengan keputusamu." Tanya Bram lagi.
Dan Ia berharap jika putrinya berubah pikiran.
"Pa, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku." Jawab Salwa, meyakinkan ayahnya.
"Baiklah, Papa merestui kalian." Putus Bram pada akhirnya.
"Terimakasih, Papa." Ucap Salwa lalu memeluk Bram dengan perasaan bahagia.
Disisi lain, Aldo dan Anita tengah dibuat pusing dengan anak pertamanya itu.
"Bang! Apa kau pikir melamar itu tidak butuh persiapan!" Kesal Anita dan menatap Kenzie dengan sinis.
Sedangkan yang di tatap hanya menyengir kuda seperti tidak berbuat kesalahan.
"By, bagaimana ini? Mana sudah malam dan kita harus mencari seserahan kemana?" Tanya Anita kepada Aldo.
"Sebentar aku sedang berpikir, Sayang." Ucap Aldo sambil memijit pelipisnya.
"Huh! Ini semua gara-gara kamu, bang!" Lagi-lagi Anita kesal kepada putranya itu.
"Maaf, Mah. Aku pikir melamar itu hanya bermodalkan cincin saja." Ucap Ken dengan bodohnya.
"Memangnya kamu sudah mempunyai cincinnya?" Tanya Anita, dan Ken menjawab dengan gelengan kepala, membuat Anita mendelik kesal.
"Ya ampun, By! Sepertinya otak anakmu ini harus di bawa ke ketok magic!" Kesal Anita, sambil mengacak rambutnya frustasi.
Bisa-bisanya putranya itu mengambil keputusan secara mendadak dan tanpa membicarakannya terlebih dahulu.
"Coba hubungi Kailan." Usul Aldo kepada Istrinya.
"Kau saja yang menghubungi!" Sungut Anita, dan menatap sinis putranya.
"Ya ya ya." Ucap Ken, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Kailan.
Tapi, sudah beberapa kali ia menghubungi Kailan namun tak kunjung di angkat oleh adiknya itu.
"Tidak di angkat." Ucap Ken lesu. "Aku akan kerumahnya." Ucap Kenzie, lalu menyambar kunci mobilnya.
Sedangkan di tempat lain seorang pria tengah berpacu diatas tubuh istrinya.
"Sayang, ponselmu ahh berdering ummppp." Ucap wanita itu sambil mendessah keenakan.
"Biarkan saja, sayang. Tanggung nih." Ucap Pria itu yang tak lain adalah Kailan.
"Arghhhh." Racau keduanya ketika sampai puncak bersama.
"Terimakasih, sayang." Ucap Kailan pada istrinya.
"Iya." Jawab istrinya lalu mencium bibir Kailan sekilas.
"Sudah cabut, kamu berat." Ucap Istrinya sambil mendorong tubuh Kailan agar melepas penyatuannya.
"Nanti dulu, biar masuk semua pasukan kecebongku." Ucap Kailan, sambil menggoyangkan pinggulnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ken melajukan mobilnya menuju rumah Kailan dengan kecepatan sedang.
"Loh, Tuan Ken?" Sapa Security yang berjaga malam di rumah Kailan, kemudian membukakan pintu gerbang untuk Kenzie.
"Malam pak, maaf mengganggu." Ucap Ken kepada security tersebut saat sudah keluar dari dalam mobil.
"Tidak apa-apa Tuan. Tapi, tumben malam-malam begini berkunjung?"
"Ada perlu sama Kai. Saya masuk ya pak." Ucap Ken.
"Iya, Tuan. Apa perlu saya antar?" Tawar Security tersebut sambil bercanda.
"Tidak Pak, terimakasih" Jawab Ken, terkekeh. Lalu memasuki rumah mewah dan megah itu.
Tunggu kelanjutannya lagi 😘
Dukung terus ya karya othor 🤭🤭