
Pagi hari Aldo sudah siap dengan pakaian kerjanya,begitu juga Anita yang akan menemani Aldo kekantor.
"Apa kamu yakin,mau mengajak aku,By ?" Tanya Anita,sambil memasang dasi Aldo.
"Yakin yank, Aku ingin mengenalkan dirimu sebagai istriku" Ucap Aldo,melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Apa ? Kenapa kamu enggak bilang sih ?" Kesal Anita,karena Aldo tak mengatakan apapun sebelumnya.
"Maaf,tapi aku ingin semua orang tahu bahwa kau adalah istriku dan maafkan aku karena belum menggelar resepsi pernikahan kita,tapi aku janji setelah kamu melahirkan,kita akan mengadakan resepsi pernikahan kita dengan sangat megah" Ucap Aldo,ia merasa bersalah sebagai suami.
Anita mengulas senyum dan menengadah menatap wajah Aldo yang sangat tampan "Aku sudah bahagia seperti ini,By. Aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku. Dengan adanya dirimu yang selalu ada di sampingku, itu sudah cukup bagiku" Ucap Anita masih dengan senyumannya, lalu mengelus dada bidang Aldo yang berbalut kemeja berwarna putih.
Setiap wanita pasti mempunyai keinginan untuk menggelar Resepsi pernikahan mereka,tapi bagi Anita semua ini sudah cukup,ia berpikir sudah sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang,tidak perlu Resepsi yang terpenting Sah secara hukum dan Agama.
"Aku menghargai pemikiranmu sayang,tapi apakah kamu tidak memikirkan ucapan orang-orang disekitar kita ? Resepsi pernihakan adalah bentuk dari Pengesahan hubungan secara hukum dan agama. Aku hanya khawatir jika suatu saat nanti ada akan terjadi fitnah atau omongan yang tidak enak dari orang lain,Apalagi pernikahan kita terjadi secara mendadak dan dilangsungkan secara tertutup" jelas Aldo.
Anita mencerna setiap kata yang Aldo ucapkan dan semua itu ada benarnya.
"Sekali lagi,maafkan aku ya. Seharusnya dulu aku langsung menggelar resepsi kita" Ucap Aldo.
"Tidak apa-apa By,semua sudah terjadi. Baiklah aku setuju jika setelah melahirkan nanti kita mengadakan resepsi" Ucap Anita.
"Benarkah ?" Anita mengangguk sambil tersenyum. "Kamu mau Resepsi seperti apa,aku akan mewujudkannya" Ucap Aldo.
"Aku hanya ingin pesta pernikahan kita sederhana saja" Jawab Anita.
"Hei,mana bisa seperti itu ! Aku ini kaya dan uangku banyak,pokoknya pesta pernikahan kita haruslah megah dan mewah".
"Lalu untuk apa kamu bertanya kepadaku ?" Tanya Anita sewot.
Aldo tidak menjawab,malahan pria itu langsung menyambar bibir Istrinya yang terlihat menggoda.
"Emmppp,Hah hah. Kebiasaan kamu tuh" Kesal Anita,setelah Ciuman itu terlepas.
Aldo mengusap Bibir Anita yang basah dengan ibu jarinya "Habisnya engak tahan lihat bibir kamu" Ucap Aldo terkekeh.
"Ayo kita berangkat" Aldo menggandeng tangan Anita. Sebelum itu Anita menyambar Tasnya dan juga memakaikan Jas ke Aldo.
"Yuk ! " Ucap Anita dan menautkan jarinya di sela jari Aldo.
Sampai di perusahan SANJAYA Aldo dan Anita memasuki perusahaan itu dengan tangan yang masih bertaut,dan menjadi sorotan para karyawati yang ada disana.
"Eh,itu bukannya ibu Anita ? Manger disini dulu".
"Iya,ya kok bisa sama pak Aldo ?"
"Eh,lihat deh perutnya buncit".
"Mungkin dia istri pak Aldo".
"Pasti main curang tuh,lagian pak Aldo mana mungkin mau sama Anita, perawan tua" Ucap salah satunya dengan nada tidak suka.
"Eh,enggak boleh Su'udzon,siapa tahu benar kan. Lagian Bu Anita sangat cantik bahkan dibandingkan dengan kamu mah kalah jauh". Ucap salah satunya lagi.
"Ehem,kerja kerja ! Mau di pecat kalian !" Ucap Amel dengan nada tegas,yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka.
Amel mempunyai jabatan Sekretaris Presdir,tak khayal jika semua pegawai disana takut kepada Amel.
"Ma maf,Bu". Mereka ketakutan dan menunduk.
"Anita adalah istri dari pak Aldo,jadi jangan menggosipkan yang tidak-tidak. Jika masih ingin bekerja di perusahaan ini" Tegas Amel,membuat mereka semakin takut.
๐ท๐ท๐ท๐ท
Disisi lain Ferdi sedang Rumah sakit bersama Diana untuk melakukan Program hamil.
"Semua bagus pak,dari Rahim hingga sel telur semua bagus dan siap untuk dibuahi. Usahakan jika ingin mengeluarkan Sper** dengan posisi terlentang" Jelas Dokter,membuat Diana merona.
"Dan untuk makanan juga harus dijaga,jangan memakan junkfood atau makanan instan lainnya,juga jangan kelelahan juga ya Bu" Ucap Dokter,menahan senyum.
"Iya,Dok. Terimakasih" ucap Ferdi dan diana bersamaan.
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" Tanya Dokter.
"Em,itu. Apakah suami saya tidak dites kesuburan juga?". Tanya Diana hati-hati dan ujung matanya melirik Ferdi yang menahan kesal.
"Jika pak Ferdi bersedia maka kami akan memeriksanya,Bu" Jawab ,Dokter dengan ramah.
"Baik,saya bersedia" Jawab Ferdi tegas.
"Kalau begitu mari ikut saya,pak dan juga ibunya" Ucap Dokter,berdiri dari duduknya,kemudian Ferdi dan Diana mengikuti Dokter tersebut hingga sampai di depan sebuah ruangan yang tertutup.
"Silahkan masuk dan ini tempat untuk menampung Sper**" ucap Dokter,dengan memberika wadah kecil kepada Diana.
"Eh,dokter tidak masuk?" tanya Diana saat sudah di dalam ruagan itu bersama Ferdi.
"Tentu saja tidak ,Bu. Karena ibu akan membantu pak Ferdi untuk mengeluarkan 'itu' nya"Jelas Dokter yang masih diambang pintu.
"Ta tapi Dok ?".
"Tenang saja Bu,didalam ruangan itu kedap suara dan ada juga berbagai macam film dewasa, mungkin bisa membantu". Ucap Dokter,menahan tawanya. "Saya permisi dulu,jika sudah selesai bisa temui saya lagi dan jangan lupa kunci pintunya" Goda dokter tersebut.
Glek
Diana menahan nafasnya saat Ferdi sudah mengunci pintu dan berjalan kearahnya.
"Fer,jangan lakukan disini" Mohon Diana. Ia sepertinya menyesali keputusannya menyuruh Ferdi tes kesuburan.
"Mana bisa ? Memang kamu tidak dengar tadi kata dokter?" ucap Ferdi menyeriangai licik.
Mati aku,lututku saja masih gemetar. Batin Diana.
"Ya,tapi kan masih ada cara lain ?". Diana menghindari Ferdi yang semakin mendekat.
Diana mengedarkan pandangannya,ruangan serba putih itu tidak begitu luas tapi ada Sofa panjang disana,TV 21 inci dan juga kamar mandi.
"Cara lain?" Ferdi memicingkan matanya.
"Ayolah,apa kamu enggak kasian sama aku ? Lututku saja masih gemetar lho" Mohon Diana.
"Kalau begitu aku akan membuatmu tidak bisa berjalan".
"Astaga Fer,kamu ini benar-benar ya !".
"Sudah nikmati saja sayang". Ferdi mulai membuka celana yang ia kenakan dan melemparnya asal.
Jantung Diana sudah berdegub sangat cepat,saat melihat burung perkutut berubah menjadi burung garuda.
Ferdi menarik tangan Diana yang akan menghindarinya, kemudian menjatuhkannya kesofa dan segera menindihnya.
Pergulatan panas pun tak bisa dihindari,mereka menyatu kembali entah ronde yang keberapa. Membaut Diana meracau,mendesah keenakan dibawah Ferdi.
"Dasar tua-tua keladi" Racau Diana. "Ah terus Fer". Membuat Ferdi tersenyum dan menaikan tempo permainannya.
Harap di maklumi ya karena Ferdi dan Diana masih pengantin baru dan masih anget,bawaanya pengennya nacep terus๐๐๐๐.
Ah,Author jadi keingatkan sama malam pertama ku dulu๐คญ๐คญ.
Jangan lupa dukung author dengan cara Like,komentar,vote dan kasih bunga๐น๐น๐น.