
Pagi hari rumah Bramantyo
Bi Yam menatap Encus dari atas hingga kebawah lalu keatas lagi dan tatapannya berhenti tepat di wajah imut Encus. Begitu juga pelayan lainnya menatap Encus dengan penuh tanda tanya.
Siapa dia ? Apakah pelayan baru ? Begitulah pikiran mereka bertanya.
Encus yang ditatap seperti itu pun hanya menunduk takut dan kedua tangannya meremat gamis lusuhnya.
"Kamu siapa,Nak ?" Bi Yam membuka suara.
"Sa saya saya -."
"Apa kamu pelayan baru ? " Sela salah satu pelayan disana.
"Apakah benar ?" tanya Bi Yam. Encus terdiam,ia bingung menjawab apa dan mana mungkin ia berterus terang jika dirinya adalah istri dari Tuan rumah.
"I iy-," Baru saja,akan menjawab tapi terdengar suara bariton yang menyela.
"Kalian menakutinya !" Suara Bram menggema di ruang tengah itu,Bram menuruni tangga dan terlihat jika pria itu sudah mengenakan pakaian lengkapnya.
Bram terbangun dari tidurnya saat tidak menemukan istri kecilnya berada di pelukannya.
Para pelayan menunduk hormat,saat Tuan nya berdiri diantara mereka dan Encus pun ikut melakukannya membuat Bram berdecak kesal.
"Sini !," Bram menarik gadis mungil itu kedalam dekapannya.
Para pelayan termasuk Bi Yam pun terperangah saat Tuan nya memeluk gadis kecil itu.
"Dengarkan baik-baik dengan telinga kalian ! Gadis ini adalah Susilowati atau biasa di panggil Encus dia adalah istriku,Nyonya di rumah ini !" Tegas Bram.
Semua yang ada di sana terkejut saat Tuan nya memperkenal kan seorang gadis kecil sebagai istrinya.
Astaga ! Apakah Tuannya itu kelamaan menjomblo menjadi seorang Pedofil ?. Pikir para pelayan.
"Aku tahu apa yang ada di pikiran kalian ! Jangan mencibir ku ! ".
"Tidak Tuan,mana mungkin kami berani mencibir Tuan " Ucap Bi Yam dan diangguki seluruh Pelayan yang berjumlah sepuluh orang.
"Bubar ! kecuali Bi Yam" Kini yang ada di ruang tengah itu hanya ada ketiga orang itu.
Terlalu banyak membaca Novel membuat pikiranku menjadi halu. Batin Encus.
"Dan kau ! Naik ke atas !" Bram menunjuk lantai atas,maksud Bram adalah kamar nya.
"Tapi,Mas-" Ucapan Encus terhenti saat mata Suami melotot dan mau tak mau Encus mengikuti kata suaminya,dengan jalan tertatih Encus menaiki anak tangga satu persatu.
Bibir Bi Yam berkedut ingin tertawa saat melihat Encus berjalan tertatih.
"Tertawa lah sepuas mu,Bi !" Sindir Bram,dan menatap malas kepala pelayan itu.
"Maaf Tuan" Bi Yam menundukan wajahnya sambil menutup mulutnya,karena ia sedang menahan tawa.
"CK" Bram bercedak malas.
"Tuan boleh kah saya bertanya ?" Tanya Bi Yam dengan wajah yang terlihat serius.
"Hem."
"Apakah Tuan melakukannya dengan gadis kecil itu ?," Sebenarnya sangat tidak sopan jika dirinya bertanya seperti itu kepada Tuan nya,tapi rasa khawatir di hatinya lebih besar.
"Menurut mu ?". Bram menaikan sebelah alisnya dan Bi Yam tahu ekpresi itu.
"Ya Tuhan ! Apa anda memaksanya ? Kasihan sekali gadis yang malang " ucap Bi Yam dengan nada yang sedih.
"Hei ! Aku tidak memaksanya dan itu sudah jadi hak ku" Jawab Bram sedikit kikuk.
"Tapi apa tuan tega ? Lihat lah dia berjalan seperti itu" Bi Yam merasa iba.
"Ten tu saja,ehem" Bram berdehem untuk mengurangi kegugupannya karena di introgasi oleh Bi Yam. "Untuk apa Bibi bertanya seperti itu ? Sekarang tugas bibi bertambah yaitu menemani istri ku saat aku tidak ada di rumah." Bram mengalihkan pembicaraan.
"Baik Tuan,tapi saya hanya khawatir jika Tuan melakukan kesalahan seperti dulu lagi" Ucap Bi Yam,mengingat masa lalu kelam Tuannya itu.
"Itu tidak akan pernah terjadi,karena aku benar-benar mencintainya dan terimakasih Bi atas perhatiannya," ucap Bram dengan tulus.
Udah menuju BucinðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Jangan lupa like dan hadiahnya🌹🌹😘😘😘