
"Hem ?" Bram mendekati Encus lalu dengan cepat merengkuh gadis kecil itu dalam dekapannya.
"Ma mass !". Encus meronta.
Bram melepas pelukannya dan perlahan tangannya ingin membuka hijab instans yang di kenakan istri kecilnya itu.
"Mas". Encus menahan tangan Bram.
"Ssttt,aku suamimu,aku ingin melihat rambut indahmu" Bisik Bram,membuat bulu kuduknya meremang.
Bram membuka hijab itu dan terlihatlah rambut panjang Encus yang di ikat. Lalu Bram menarik ikat rambut itu hingga membuat rambut hitam dan panjang itu tergerai indah.
Jantung Encus berdegub dengan cepat.
Bram menarik helaian rambut itu dan menciumnya berulang kali.
"Rambutmu bau apek ! Keramas dulu gih " Ucap Bram,lalu melepaskan rambut Encus dan mengambil baju tidurnya yang masih di dekap Encus.
Jantung Encus yang sudah ingin lompat dari tempatnya kini mendadak ingin berhenti memompa,lantaran rasa malu yang menyelimuti dirinya.
Encus segera berlari kearah kamar mandi.
"Wangi kok,enggak bau apek" Ucap Encus di dalam kamar mandi sambil menciumi rambutnya sendiri. Karena sore tadi ia baru mengeramas rambutnya.
"Ya sudah lah,mungkin mas Bram enggak suka sama wanginya" Ucap Encus lalu segera membersihkan dirinya.
Sedangkan Bram yang sudah merebahkan diri diatas tempat tidur merutuki kebodohannya.
"Bodoh ! Bukannya memuji kenapa malah bilang bau apek" Bram meninju guling yang ada di dekatnya berulang kali untuk melampiaskan kekesalannya.
Sebenarnya rambut Encus sangat wangi,saat Bram mencium rambut Encus. Tapi Bram malah mengucapkan kata yang mengesalkan itu.
Ah,pasti dia sangat malu. Gumam Bram,merutuki dirinya.
Encus yang sudah selesai mandi kebingungan karena tidak ada handuk disana untuk menutupi tubuhnya.
"Aduh,cerobohnya diriku" Encus memukul kepalanya berulang kali.
"Kira-kira mas Bram sudah tidur belum ya ?" Encus ingin membuka pintu kamar mandi tapi dirinya ragu karena keadaanya yang masih polos,sedangkan baju yang sebelumnya ia pakai sudah basah san tidak mungkin untuk di pakai lagi.
"Hei,gadis kecil sampai kapan kau akan didalam sana ?" Teriak Bram dari luar.
"Aduh,dia belum tidur" Gumam Encus yang duduk di atas closet.
Tok tok tok
"Cepat keluar Encus !" .
Ceklek
Encus menyembulkan kepalanya
"Kau itu tidur atau apa sih di dalam sana ?".
"Em,mas bisa minta tolong nggak ? Ambilin handuk dan bajuku sama itu -" Encus ragu untuk mengucapkannya.
"Bra sama Cd" Sambung Bram,membuat Encus tersenyum meringis karena malu.
"Ngapai malu ? Toh cuma covernya aja kan ! Yang aku lihat bukan isinya" Dumel Bram,sambil melangkahkan kakinya menuju ruang ganti untuk mengambilkan baju istrinya.
"Mass !!" Encus malu bukan main dengan ucapan suaminya itu.
"Ini buruan pakai nanti kamu masuk angin" Bram menyerahkan baju untuk istrinya.
"Mas,inikan baju kamu ! enggak mau ah" tolak Encus.
"Pakaianmu sudah tidak layak pakai ! Cepat pakai dan besok kita akan pergi berbelanja pakaian untuk mu", Dengan terpaksa Encus menerima kaos besar itu.
"Dallamannya mana Mas ?" Teriak Encus dari dalam kamar mandi .
"Aku malas mengambilnya ! Tidak usah pakai dalaman" Teriak Bram.
Ceklek
Encus keluar dari dengan wajah yang lebih segar. Bram yang sudah merebahkan dirinya diatas tempat tidur menoleh dan menatap istrinya hingga tak berkedip.
"Mas" Encus keluar kamar mandi,hanya memakai kaos kebesaran milik suaminya,ia menutupi kedua asetnya atas bawah yang tidak memakai Cover.
"Sini" titah Bram,menepuk ruang kosong yang ada sisi nya.
"Tapi -".
"Ingin aku seret kesini ?" Bram sebenarnya berkata seperti untuk menutupi kegugupannya.
"Kurang Dekat ! " Encus menggeser dirinya sedikit.
"Masih kurang dekat !" Karena kesal Bram menarik tangan Encus hingga membuat gadis itu terbaring di sampingnya.
"Mas !". Encus segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa ?". Tanya Bram yang sudah memeluk Encus dari samping.
"A aku malu".
"Malu ?" Encus mengangguk. "A aku tidak memakai dallaman" Lirih Encus dan membuat Bram tersenyum,karena dia sengaja melakukannya.π
"Coba aku lihat" Bram menyibakkan kaos Encus keatas dan terlihatlah dua bukit yang berukuran kecil dan di puncuknya berwarna merah muda, juga lembah yang di tumbuhi rerumputan berwarna hitam,tidak lebat tapi sangat sedap di pandang Bram.π
"Massss !" Encus berusaha menurunkan kaosnya tapi tenaganya kalah dengan suaminya itu .
"Mas, aku malu" Wajah Encus sudah terlihat sangat merah.
"Untuk apa malu ? Aku ini suami mu dan kamu harus terbiasa dengan hal seperti ini" Ucap Bram,menyeringai.
"Oh, lihat mereka kecil sekali" Bram memelintir puncak bukit itu,membuat Encus menahan nafasnya lantaran terkejut dengan aksi Bram.
"Mas,mau apa ?" Tanya Encus dengan polosnya.
"Mau membuat mereka menjadi besar" Ucap Bram.
"Memangnya bisa ?" tanya Encus lagi dan diangguki Bram.
"Diam dan rasakan" Ucap Bram mulai melahap pucuk bukit kembar itu.
"Eughh mas". Tangan Encus mencengkram rambut Bram. Pria itu sudah berkabut gairah saat melihat tubuh istrinya.
"Apa jika aku meminta hak ku,kamu akan memberikannya sayang ?" Tanya Bram saat menyudahi aksinya.
"Kata ibu,memberikan hak untuk suami adalah kewajiban seorang istri dan akan mendapatkan pahala yang sangat besar" Ucap Encus dengan kepolosannya.
Istriku polos sekali. Batin Bram,tapi ia juga bersyukur.
"Jadi ?"
"Lakukan mas,agar aku dapat melaksanakan kewajiban ku dan juga biar aku mendapat pahalanya" Ucap Encus sambil menatap Bram,yang mengungkung tubuh kecilnya.
"Kau tidak akan menyesal ?". Encus menggeleng.
"Aku tidak akan menyesal,Mas. Tapi sebelum mas melakukannya aku ingin bertanya, apakah mas mencintaiku?" Tanya Encus.
"Sangat,aku sangat mencintaimu" Ucap Bram,menatap lembut manik mata istrinya.
"Jika begitu lakukan mas,dan ajari aku untuk mencintaimu" Ucap Encus tersenyum.
Umur ternyata bukan patokan orang untuk bersikap dewasa,buktinya istriku masih kecil tapi pemikirannya sungguh luar biasa. Batin Bram,tersenyum senang.
"Mas,berdoa dulu sebelum melakukannya" Encus mengingatkan.
"Baiklah sayang" Bram mulai membisikan doa di telinga Encus. Setelah selesai ia mulai menciumi seluruh wajah istrinya.
"Masss,geli". Rengek Encus saat Bram dengan sengaja mengusap-usapkan brewoknya di pipi Encus.
"Stttt,mas" Encus melenguh saat lehernya di ciumi oleh Bram dan disesap hingga meninggalkan jejak kepemilikannya.
Bram melakukan pemanasan terlebih dulu agar istrinya releks.
"Sayang" Panggil Bram dengan suara yang berat,sambil melucuti pakaiannya sendiri.
"Mas,aku lemas sekali" Ucap Encus terengah saat merasakan pelepasan pertamanya karena ulah jari dan lidah nakal suaminya.
"Bersiaplah sayang" Ucap Ucap Bram,meraih tangan Encus untuk memegang benda pusakanya.
"Mass,ini besar sekali !" Pekik Encus,saat memegang benda itu.
"Yeah,ini adalah tombak sakti ku" Ucap Bram,lalu mencium bibir istrinya dan mellumatnya kasar,sebisa mungkin Encus membalasnya walau masih kaku.
"Mas,apa itu akan muat ?" Tanya Encus dengan polosnya.
"Muat,sayang" Jawab Bram,mulai memposisikan dirinya.
Nungguin apa hayo ??πππ
Di gantung lagi pas lagi tegang-tegangnya π€£π€£
Jangan lupa hadiah sama likenyaππΉπΉπΉ