Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Pria bajingan 2


Jangan lupa like agar author makin semangat berkarya.


Follow IG me @Thalindalena


SELAMAT MEMBACA


Setelah sampai dirumah sakit Siska segera ditangani oleh tim dokter.


Bi Yam menatap Tuan mudanya kecewa. Kenapa Tuannya itu tega sekali kepada Siska walaupun dulu Siska jahat akan tetapi wanita itu sudah bertobat. Sebelum nya Bram memberitahu Bi Yam jika Siska seperti ini karena dirinya meski Bram tak menceritakan detailnya.


"Berdo'a Tuan kepada Allah,semoga Non Siska dan bayi nya selamat" Ucap Bi Yam pada Bram tengah duduk gelisah,terlihat sekali bahwa lelaki itu sangat cemas.


"Bi-"


"Saya tau Non Siska dulunya jahat tapi Non Siska benar-benar sudah berubah. Tapi saya gak nyangka jika Tuan bisa sejahat ini kepada Non Siska " Ucap Bi Yam terdengar menyudutkan Bram. Bi Yam memikirkan Nasib Siska nanti bagaimana andai saja saat itu ia membantu Siska keluar dari rumah Bram pasti tidak akan seperti ini.


"Saya-"


"Allah saja maha pemaaf Tuan,apalagi kita yang manusia biasa mestinya harus lebih bermurah hati" Bi Yam memotong Ucapan Bram.


"Dimana Tuan Bram yang dulu? Apakah karena cinta, Tuan menjadi gelap mata? Semua ini sudah digariskan oleh sang pencipta dan kita sebagai manusia tinggal mengikuti alurnya." Ucapan Bi Yam membuat Bram bungkam tapi tetap saja egois tetap tak mengikhlaskan Anita dan menyalahkan Siska karena hancurnya hubungan cintanya dengan Anita.


Mana mungkin aku bisa melupakannya dengan begitu saja. 10 Tahun yang aku lalui bersamanya. Batin Bram.


Apakah Bram hilang ingatan?Apa dia tidak sadar hubungan 10 tahun itu hancur seketika karena penghianatan yang dia lakukan. Apa lagi dia melakukan 'itu' di depan mata Anita sendiri. Kepercayaan yang di bangun bertahun- tahun hancur seketika karena penghianatan.


Siska memang salah yang saat itu menjebak Bram dengan obat lucnut. Tapi lebih salah lagi Bram kenapa Tak bisa menahan diri walaupun saat itu ia tersiksa,masih banyak cara untuk meredam itu semua, tapi mungkin karena si imin Bram begitu tipis jadi mudah tergoda apa lagi ditambah dengan obat lucnut itu. Sekarang tinggal penyesalan yang yang ada.


Setelah satu jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Siska keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana Dok,Keadaan Non Siska?" Tanya Bi Yam cemas.


Dokter tersebut menghela nafas dan wajahnya terlihat sedih.


"Dok,jangan bilang kalau-".


"Maaf Bu,kami sudah berusaha keras tapi mohon maaf janin yang dikandung Ibu Siska tidak bisa diselamatkan" Mendengar penjelasan Dokter Bi Yam menangis sendu.


Bram yang dari tadi hanya menyimak langsung menghampiri dokter tersebut.


" Apa yang kau maksud Hah? "Bentak Bram mencengkram kerah dokter tersebut.


"Maaf Tuan maafkan kami. Bu Siska mengalami pendarahan yang cukup banyak hingga kehilangan banyak darah,untung saja kami mempunyai stok golongan darah ibu siska dan juga janin yang dikandungnya masih rentan,maaf kan kami Tuan".


Mendengar Penjelasan Dokter tubuh Bram luruh kelantai.


"Tuan,bu siska sudah sadar dan sebentar lagi kaan di pindah ke ruangan pasien"


"Yang sabar ya tuan" Ucap dokter tersebut menepuk pundak Bram lalu beranjak dari sana.


Argghhhhhh


Pembunuh


Bajingan kau Bram.


Kau membunuh darah daging mu. Bram terus mengumpati dirinya sendiri.


"Tuan,berdiri tuan" Bi Yam membantu Bram berdiri dengan susah payah lalu menuntun Bram duduk di kursi.


"Apa yang sudah aku lakukan Bi? Aku-" Bram tak sanggup mengucapkan kalimatnya.


Dan Bi Yam pun sama tidak tau bagaimana nanti menjelaskan kepada Siska keadaan kandungannya.


Beberapa saat kemudian Siska sudah dipindahkan diruang pasien. Bram duduk di kursi di samping ranjang pasien. Memandangi wajah Siska yang pucat.


Baik,buktikanlah!!


Tapi kamu jangan menyesal setelah melakukannya


pelan-pelan Bram. Perutku Kram


Kata-kata Siska waktu ituterus tengiang di telinga Bram.


"Aku menyesal,Maafkan aku. Ucap Bram dalam hati. ia tak mampu mengucapkannya kepada Siska, lidahnya terlalu kelu. Andai saja ia mendengarkan Siska saat itu. Semua ini tak akan terjadi.


"Eughh" Siska sudah tersadar lalu perlahan membuka matanya mengedarkan pandangan,ruangan serba putih yang ia yakini adalah rumah sakit.


"Non,sudah sadar" Ucap Bi Yam berkaca-laca. Siska tersenyum.


"Non em itu-" Bi Yam tak mampu melanjutkan Ucapannya. malah kini Bi Yam menangis dan memeluk Siska.


Pandangan yang menusuk hati,Bram tak kuat melihatnya, dadanya tiba-tiba terasa sesak.


"Bi,aku keluar dulu" Tak ada yang menyahut ucapan Bram. Tapi Bram bergegas keluar dari sana.


"Bi. Apa aku boleh minta sesuatu?"Ucap Siska saat memastikan Bram sudah keluar dari sana.


"Apa itu Non?"


Lalu Siska membisikan sesuatu pada Bi Yam dan membuat beliau membelalakan matanya.


"Non yakin?"


"Iya Bi,aku mohon tolong aku" Ucap Siska memohon.


"Baiklah" Ucap Bik Yam.


Bram menyenderkan tubuhnya di kursi di depan ruangan pasien. Ia memijit pelipisnya. Saat melihat wajah Siska ketika sadar tadi ia merasa tak sanggup. pasti saat ini perasaanya lebih hancur dari pada dirinya. Apa yang harus ia lakukan?


"Selamat Malam,Tuan. Kami ingin memeriksa keadaan Bu siska" Ucap dokter permpuan yang menangani Siska Tadi.


"Ah ya,silahkan dok" Ucap Bram mempersilahkan lalu ia juga mengikuti dokter tersebut.


Saat sudah didalam ruangan Dokter itu segera memeriksa Siska dengan menyibakkan baju yang dikenakan Siska keatas.


" Tunggu Dok!"


" Ya kenapa,Tuan?"


" Itu kenapa perutnya masih terlihat besar" Ucap Bram memicingkan matanya menatap Perut Siska yang masih terlihat buncit.


"Begini pak,semua wanita hamil yang habis melahirkan atau keguguran ini hal wajar karena sebelumnya perutnya sudah membesar jadi perlu waktu lagi untuk kembali ke ukuran semula" Jawab dokter tersebut dengan tenang. Walau dirinya tak tenang dan jantungnya berdegup kencang.


"Oh begitu? Anda yakin?"Ucap Bram masih tak percaya. Membuat wajah siska panik.


"Ya sangat yakin"


"Jika begitu apakah saya bisa melihat anak saya?" Ucap Bram lagi menambah kegugupan Dokter tersebut.


"Ah tentu saja,Tuan" Jawab dokter. " Mari ikut saya,kebetulan Janin tersebut harus segera dimakam kan". Bram pun mengikuti dokter tersebut.


"Ini dia Tuan. Memang ukurannya masih kecil karena baru berusia 4 bulan"Jelas dokter tersebut.


Tangis Bram pecah saat melihat janin tersebut.


"Anakku,maafin papa" Bram menangis dan terus mengucapkan kata maaf.


Dokter tersebut melihat Bram menangis hannya bisa menghela nafas panjang


"Maafkan saya Tuan" Batin dokter tersebut.


Author akan tetap stay disini sampai tamat dan kalian juga dapat membaca novel gratis. Jadi author mohon sama kalian para readers tersayangku,jangan lupa Like nya dan juga bunganya agar karya author naik level dan di akui pihak NT.


Terimakasih sudah nunggu up dari othor readers.


Terus dukung author ya readers dengan cara like,komentar dan vote ya.


Love you all๐Ÿ’—๐Ÿ’—.