
"Biarkan dia masuk, Pak." Ucap Az, yang baru keluar dari rumah karena mendengar keributan diluar.
"Baik, Mas." Ucap Bodyguard tersebut lalu membuka pintu gerbang, kemudian Ken pun bergegas masuk tanpa memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Kau lagi?" Ucap Az dengan sinis.
"Ya! Memang kenapa? Aku ingin bertemu dengan Salwa!" Ucap Ken, to the point.
"Masuk!" Ucap Az dengan datar, lalu berjalan memasuki rumah dan Ken pun mengikuti dari belakang.
"Assallamu'allaikum." Salam Ken, ketika memasuki rumah yang sudah lama tak ia kunjungi itu.
"Wa'allaikum salam." Jawab Jawan Encus dan Bram.
"Kau!!" Ucap Bram menunjuk Ken dengan kesal, sedangkan Az langsung duduk di samping ayahnya.
"Mas, tidak boleh seperti itu sama tamu." Encus menegur suaminya.
"Ken? Mari duduk." Ucap Encus, mempersilahkan Ken duduk.
"Iya bunda, terimakasih." Ucap Ken, lalu duduk di berhadapan dengan ketiga orang tersebut.
"Salwa sedang berada di kampung Neneknya." Ucap Encus.
"Untuk apa, bunda memberitahu dia." Ucap Bram, tidak terima.
"Mas, tidak boleh seperti itu. Ken memang pernah melakukan kesalahan tapi itu masih wajar karena dulu dia masih labil. Jika mas bersikap seperti ini terus, sama saja mas memutus tali persaudaraan kita dengan keluarga Sanjaya!" Ucap Encus panjang lebar.
"Tapi, dia sudah menyakiti putri kita." Jawab Bram.
Ken menjadi merasa tidak enak karena dirinya lah kedua orang yang ada di depannya itu bertengkar. Sedangkan Az hanya diam menyimak.
"Aku tahu! Apa kau dulu tidak pernah melakukan kesalahan mas? Apa kau merasa suci dan paling benar? Aku kecewa sama kamu mas!" Kesal Encus, lalu beranjak dari duduknya.
"Ken, bunda permisi dulu ya." Ucap Encus berkata dengan lembut.
Encus segera berjalan menuju kamarnya dan segera disusul oleh Bram.
"Sepertinya aku harus kembali." Ucap Ken.
"Terserah." Ucap Az, sambil menaikan kedua bahunya cuek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Ken merasa dilema dan tak tentu arah.
Semenjak ia mendatangi rumah Bram terakhir kalinya, sampai saat ini ia tidak pernah bertemu dengan Salwa lagi.
Dan disinilah dia sekarang berada di Kafe Family untuk bernyanyi menghibur semua pengunjung yang ada disana.
Ya, Ken persis seperti Ayahnya, dari sifat, sikap dan suara indahnya pun dari Ayahnya. Hanya wajah saja yang sedikit membedakan karena wajahnya perpaduan antara Ayah dan Ibunya.
Ken duduk di kursi yang ada di panggung kecil yang ada di depan sana sambil memegang gitarnya.
Ia menghembuskan nafasnya sejenak sebelum memetik gitarnya.
Semua pengunjung sangat antusias untuk menyaksikan perfome pria tampan berwajah kebulean itu.
Perlahan Ken mulai memetik gitarnya sesuai dengan lagu yang ia nyanyikan.
Firman - Kehilangan
Kucoba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa telah kehilangan
Cintamu yang telah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Suara Ken begitu sangat merdu, hingga mampu menghipnotis semua pengunjung yang ada disana.
Ken bernyanyi dari dalam hatinya yang terdalam, hingga tak terasa air matanya menetes di pipi. Ia memejamkan matanya, mencegah agar air matanya tidak luruh kembali.
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
Sejujurnya
(Sejujurnya)
Deg
Jantung Ken berdetak dengan cepat ketika mendengar suara wanita yang sangat ia kenali menjadi Backsoundnya.
Perlahan Ken membuka matanya
"Salwa." Lirih Ken.
Salwa tersenyum merekah dan menatap Ken dengan tatapan berkaca-kaca, kemudian ia memberi kode Ken agar melanjutkan menyanyi.
Ken pun mengangguk dan melanjutkan menyanyi nya lagi.
Ku tak bisa
(Ku tak bisa)
Hidup tanpa ada kamu aku gila
(Aku gila)
(Seandainya)
Kamu bisa
(Kamu bisa)
Mengulang kembali lagi cinta kita
(Cinta kita
Takkan kusia siakan kamu lagi
Jreng Jreng
Petikan gitar terakhir Ken dan Salwa mendapat tepuk tangan yang begitu riuh dari pengunjung Kafe tersebut.
"Sal?" Panggil Ken, lalu meletakan gitarnya dan menghampiri Salwa yang berdiri menatapnya.
"Ken? Namamu Kenzie?" Ken mengangguk dan tersenyum senang.
"Maaf, maafkan aku." Ucap Salwa, menitikan air matanya.
"Aku tidak tahu dan tidak mengingat jika kau pernah ada di bagian hidupku, Maaf. Tapi, lihat kerudung ini entah kenapa di setiap kerudung yang aku miliki yang ada di rumah tertera namamu disana." Lanjut Salwa, ia tidak mampu untuk tidak menangis. Salwa menunjukkan ujung kerudungnya yang bertuliskan nama 'Kenzie' dari bordiran yang begitu indah.
"Setiap kamu ulang tahun, aku selalu memberikanmu kerudung itu melalui bunda." Ucap Ken dengan jujur.
"Maaf, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku padamu waktu itu, hingga aku membuatmu terluka dan membuatmu pergi menjauh dari hidupku." Lanjut Ken dengan rasa yang penuh sesal, dadanya yang tadinya terasa sesak kini berangsur membaik.
Salwa menganggukan kepalanya bertanda jika ia mengerti. "Bunda, sudah memberi tahuku." Ucap Salwa tersenyum.
"Ken, mau kah kamu memberiku ingatan baru untukku?" Ucap Salwa ambigu.
"Hem?" Ken tidak mengerti.
"Em, Maksudku. Memberikanku kenangan baru? Untuk menggantikan kenangan yang menyakitkan itu." Ucap Salwa.
"Mungkin." Lanjut Salwa, karena dia pun tidak mengingat kenangan yang menyakitkan itu.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa aku masih tidak mengingatku?" Tanya Ken. Salwa menggeleng sebagai jawaban.
"Aku ingin memulai dari awal lagi." Ucap Salwa, membuat Ken tercengang.
"Maksudnya?" Salwa mengangguk kemudian ia mengulurkan tangannya.
"Hai, aku Salwa Saida." Ucap Salwa.
Ken tersenyum senang kemudian ia menjabat tangan Salwa.
"Hai, juga namaku Kenzie." Ucap Ken, kemudian Kenzie melepaskan jabatan tangannya lalu ia berjongkok di depan Salwa, membuat gadis itu syok hingga menutup mulutnya.
"Ken! Jangan seperti ini." Ucap Salwa panik, lalu menatap sekelilingnya.Ternyata dirinya dan Ken menjadi perhatian para pengunjung disana.
Tapi, Ken tidak memperdulikan ucapan Salwa.
"Salwa, Mau kah kau menikah denganku?" Ucap Kenzie, to the point dan tidak romantis sedikitpun.
"A apa?" Pekik Salwa.
Terima
Terima
Terima
Teriak para pengunjung, sambil bertepuk tangan.
"Ken, tidak lucu tahu."
"Aku serius, jika kau tidak menjawab 'Iya' maka aku seperti ini seterusnya." Ucap Ken, masih dengan posisi seperti semula.
"Kamu maksa banget!" Kesal Salwa.
"Karena aku tidak mau kehilangan kamu lagi, jadi apa jawabannya?" Tanya Ken.
Kemudian Salwa mengangguk malu.
"Apa?" Tanya Ken.
"Iya."
"Iya, apa?" Tanya Ken lagi, membuat Salwa cemberut kesal.
"Ya! aku mau nikah sama kamu." Ucap Salwa, sedikit teriak.
"Yesss!!!!" Tangan Ken meninju di udara, kemudian ia bangkit dari posisinya.
"Terimakasih Salwa." Ucap Ken, begitu tulus dan ingin memeluk Salwa.
"Sama-sama, eitss belum waktunya." Ucap Salwa, memundurkan langkahnya.
Kemudian keduanya tergelak bersama, sambil saling menatap dengan rasa kasih dan sayang.
Aku bahagia karena cintaku telah kembali lagi. Karena Cinta tahu kemana ia harus pulang, Kenzie.
Walaupun aku tidak mengingatmu. Tapi, aku bisa melihat matamu yang menyiratkan begitu besar cintamu untukku, Salwa Saida.
...TAMAT...
Yuhuu udah tamat beneran lho ya🤭
Terimakasih kepada pembaca setiaku yang mendukungku dari Nol hingga bisa seperti ini.
Terimakasih dukungan dan semangat yang kalian berikan kepada ku.
Nantikan Season kedua dari kisah Ken dan Salwa, tapi nanti othor akan up setelah Cinta Tulus Sang Casaanova tamat.🤭
Mampir juga ke karya ku yang lain My Sexii Old Man dan Cinta tulus sang Cassanova.
Terimakasih sekali lagi dari othor, love love love kalian semua🥰🥰🥰❤❤❤