
Jangan lupa like agar author makin semangat berkarya.
Follow IG me @Thalindalena
SELAMAT MEMBACA
Aldo kini sudah mendapatkan perawatan intensif,luka yang diderita cukup parah Ada beberapa luka sayatan benda tajam di tubuhnya dan beberapa tulang rusuknya ada yang yang retak tapi sudah ditangani oleh tim dokter,selain itu terdapat luka memar di sekujur tubuhnya.
Sejak Aldo sudah dipindah dirungan pasien Anita tak beranjak sedikitpun dari duduknya untuk menemani Aldo. Bahkan sudah berulang kali Sanjaya dan Rosma mengingatkan dirinya beristirahat tapi tak didengar,ia kekeh ingin disamping Aldo bahkan tangannya dengan setia menggenggam tangan Aldo yang dingin. Aldo belum sadarkan diri karena memang dokter menyuntikkan obat penenang untuk pasien agar pasien beristirahat total.
"Anita"
"Ibu" Anita memeluk ibunya yang baru saja tiba. Diana langsung terbang ke Surabaya setelah mendengar menatunya masuk rumah sakit.
"Yang sabar ya,Nak" Ucap Diana mengelus punggung putrinya. Diana sudah tau kronologinya dari Rosma,ia pun tak menyangka jika Bram seorang psikopat.
"Iya Bu" Anita mengangguk lalu menghapus air matanya. Matanya menelisik seorang pria yang berada disamping sang ibu.
"Om?" Anita mengernyit heran kenapa ibunya bisa datang bersama ferdy?
"Nanti Om jelaskan" ucap Ferdy dan Diana menatap tajam pria disebelahnya itu.
Anita yakin pasti ada sesuatu dengan mereka. Tapi bukan saatnya yang tepat untuk menanyakan hal yang ada di pikirannya. Saat ini ia fokus dengan kandungan juga suaminya.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Diana mengelus perut rata Anita.
"Baru dua minggu,,bu. Maaf Anita tidak sempat memberi tahu berita bahagia ini Bu" Sesal Anita.
"Tidak apa-apa,ibu mengerti. Tapi kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik ya" Ucap Diana menasehati. "Apa Aldo sudah tau?" dijawab gelengan kepala Anita.
"Iya ibu mengerti. Tapi nanti jika Aldo sudah sadar kamu harus cepat memberi tahu" Dan Anita pun mengangguk.
"Ayo makan dulu,tadi ibu masak makanan kesukaan kamu"
"Tapi Bu,Anita gak lapar" Ucap Anita enggan meninggalkan Aldo.
"Biar Om yang jagain,udah kamu makan dulu kasian anak kamu" Titah Ferdy jadi mau tak mau Anita menurut dan beranjak dari duduknya kemudian duduk sofa yang ada diruangan tersebut lalu dengan cepat memakan makanannya bahkan tatapan matanya terus menuju pada Aldo yang terbaring di ranjang pasien. Diana yang melihatnya pun tersenyum karena putrinya jatuh pada tangan yang tepat.
Sanjaya dan Rosma sedang menjelaskan tragedi itu kepada orang tua Doni dengan apa adanya.
"Maaf kan aku Tom,karena tidak bisa menjaga Doni" Ucap Sanjaya penuh sesal pada papa Doni.
"Sudahlah,tidak apa-apa. ini sudah takdir dan juga Doni juga sudah sadar dan berangsur pulih"Ucap Tomi menepuk punggung Sanjaya pelan.
"Iya Jay" Mama Doni menimpali.
"Tapi mohon maaf setelah ini aku harus membawa Doni kembali" Ucap Tomi hati-hati.
"Aku tidak mau,Dad!!" Doni yang dari tadi pura-pura tidur akhirya angkat bicara.
"Sudah waktunya,Son!!" Doni tahu arah pembicaraan sang ayah.
"Mommmm" Rengeknya pada sang mama. "Aku tidak mau,aku lebih senang berada disini Mom. Tolong kasih tau daddy". lalu memeluk sang mama.
"Astaga ,sayang" Mama Doni menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja anaknya. bahkan Sanjaya dan Rosma terkekeh geli melihat tingkah Doni. Beda dengan Tomi yang sudah kesal dengan sang anak karena memeluk belahan jiwanya.
"Sudah jangan lama-lama peluk istri daddy" Tomi menarik paksa sang istri.
"Lihatlah Mom,dia menyuruhku kembali tapi dia tak mau berbagi Mom denganku!!" Ucap Doni mencibir ayahnya.
"Dadd" Angel sang istri sudah menunjukan taringnya.
"Ya sudah kamu boleh berada disini semau mu tapi ingat sebulan sekali harus pulang" Ucap Tomi final. ia tak ingin Istrinya lebih perhatian pada anaknya.
"Daddy"
"Apa sih Mom? Daddy tidak ingin mommy lebih perhatian sama rubah licik ini" Ucap Tomi santai.
"Dad sama anak sendiri cemburu?" Sang istri sangat kesal dengan sifat suaminya yang sangat posesive.
Doni bersorak dalam hati karena rencananya berhasil. Ia sangat tahu karakter ayahnya yang sangat cemburu jika istrinya didekati pria lain walaupun itu anaknya sendiri.
Sanjaya dan Rosma tergelak melihat perdebatan mereka.
"Assallamuallaikum" Suara lembut menghentikan perdebatan mereka.
"Wa'allaikumussalam" Jawab serempak.
"Eh Citra sini" Panggil Rosma. "Kok kamu kurusan sayang?"Tanya Rosma.
"Lagi diet Tante" Jawab Citra Asal.
"Ini Citra bawakan buah buat kak Doni,biar cepet sembuh" Ucap Citra tersenyum manis lalu meletakkan kranjang buah itu di nakas.
"Wahh inikah menatu Mommy,Don?" Ucap Angel berbinar. Membuat Citra salah tingkah.
"Bukan tante,saya cuma temen kok" Ucap Citra sopan.
"Iya juga gak apa-apa" Jawab Angel sedikit kecewa.
"Mommmm" tekan Doni.
"Sudah mending kita cari makan dulu yuk Dad" Ajak Angel pada suaminya. Karena ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan anaknya itu.
"Ah iya. kami juga harus kembali ke ruangan Aldo dan Anita ya kan mah?" Dan diangguki Rosma.
Setelah kedua pasangan lanjut usia itu pergi,Doni mengambil tangan Citra.
"Apa dia baik-baik saja?"Tanya Doni berwajah sendu lalu mencium tangan Citra lembut.
"Iya" jawab Citra singkat lalu menarik tanganya
"Maafkan aku Cit,maaf"
"Aku datang kesini tidak ingin mendengar kata maaf mu kak" Ucap Citra datar.
"Aku sungguh menyesal Cit-"
"Apa menyesalmu dan kata maaf mu itu dapat mengembalikan segalanya???" Tukas Citra.
"Lalu aku harus apa? Agar kau memaafkan aku?" Tanya Doni. Hebat Citra hebat dalam sekejab memporak porandakan hati seorang Doni yang berlebel Casanova.
"Pergi menjauh dari ku!!!" Ucap Citra dingin bahkan ia enggan memandang wajah Doni.
"Aku tidak mau!!" Tegas Doni. Rasa sesal menyeruak dihatinya kala menatap wajah Citra yang sedikit pucat bahkan tubuh yang tadinya **** dan montok kini terlihat kurus.
"Baik jika tidak mau,aku yang akan pergi!!"
"Lalu dia bagaimana??"
"Untuk apa kau memikirkannya??? Aku bisa mengurusnya sendiri!!!" Citra menguatkan hati walau sebenarnya dirinya saat ini sangat rapuh.
"Jangan egois Cit,dia membutuhkan ku!!"
"Jangan sok peduli bukankah dari awal kau tak menginginkannya?" Doni bungkam, membenarkan ucapan Citra tapi itu dulu dan sekarang ia akan mencoba menerimanya tepatnya ia bertanggung jawab.
Doni mengelus perut Citra lembut,Seketika tangis Citra pecah ia berusaha kuat dan tegar tapi pertahannya runtuh saat Doni menyentuh perutnya, ada sesuatu yang hangat menjalar ke hatinya.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya" Lirih Doni bahkan kini ia menarik Citra kedalam pelukannnya.
"Aku mohon" Ucap Doni lalu mengecup bibir Citra lembut bahkan sangat lembut. Hingga membuat Citra terbuai dan membalas setiap panggutan yang melenakan itu.
Hayoo Doni ngapain Citra ??
Ada yang tau jawabannya?
Terimakasih sudah nunggu up dari othor readers.
Terus dukung author ya readers dengan cara like,komentar dan vote ya.
"