
"Bang!" Kai datang kerumah orang tuanya dimana Ken tinggal di sana.
"Apa?" Jawab Ken, dengan malas sambil mengolesi selai ke permukaan roti.
"Kai, datang itu ucap salam bukannya teriak-teriak seperti itu!" Tegur Anita, sambil memberikan secangkir kopi untuk suaminya.
Saat ini mereka tengah berada di ruang makan untuk memulai sarapan.
"He he hee, maaf Mam. Assallamu'allaikum." Jawab Kai, sambil cengengesan lalu mendudukan diri di kursi kosong tepatnya di sebelah Ken.
"Wa'allaikumsalam." Jawab ketiganya kompak.
"Menantu sama cucu Mama mana? Kok kamu datang sendirian?" Tanya Anita.
"Mereka dirumah. Tadi aku datang kesini buru-buru kerena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Bang Ken." Ucap Kai, sambil menatap saudaranya yang terlihat tak bersemangat.
"Hal penting?" Beo Aldo, menatap kedua putranya bergantian.
"Iya, mengenai Salwa." Ucap Kai.
Ken yang terlihat lesu dan tak bersemangat pun langsung menegakkan punggungnya ketika mendengar nama 'Salwa' di sebut.
"Ada apa dengan Salwa?" Tanya Anita, sedangkan Ken masih terlihat diam sambil menyimak.
"Salwa mengalami Amnesia ketika kecelakaan di Turkey saat usianya masih 20 tahun." Ucap Kai, membuat ketiga orang disana langsung menegang.
Deg
Jantung Ken berdetak dengan cepat, ketika mendengar hal itu. Wajahnya pun nampak cemas tapi secepat mungkin Ken mengontrol dirinya.
"Kecelakaan?"Anita memijit pelipisnya. "Kenapa Mereka tidak pernah memberi tahu kita?" Keluh Anita
"Lo tahu dari mana?" Tanya Ken.
"Tentu saja dari detektif yang Gue sewa! Lo itu terlalu bodoh! Apa-apa pakai emosi dulu. Beruntung, lo punya saudara yang paling ganteng dan cerdas ini."
"Kali ini, mama sependapat dengan mu Kai. Kau benar jika Abangmu ini Bodoh!" Ucap Anita, menekan kata ' Bodoh' sambil melirik Ken.
"Gue gitu!" Kai menepuk dadanya berulang kali, bertanda jika ia bangga dengan dirinya sendiri.
"Cih! Percaya diri!" Cibir Ken, memandang sinis ke adiknya.
"Mau gue colok mata lo!" Omel Kai, ketik melihat tatapan sinis Ken.
"Terus ada lagi nih yang mencengangkan, ternyata Salwa adalah dokter spesialis anak." Ucap Kai, membuat mereka semua tercengang.
"Dokter? Benarkah? Bukankah gadis itu sangat takut dengan jarum suntik?" Tanya Anita tidak percaya.
"Dan yang terkhir Salwa akan segera—"
Ken beranjak dari duduknya, lalu mendorong kursi yang ia sebelumnya ia duduki dengan kasar.
"Bang! Gue belum selesai ngomong!" Seru Kai.
"Gue udah tahu lo mau ngomong apa!" Jawab Ken, dengan ketus lalu berlalu begitu saja.
"Ya elah padahal gue mau ngomong kalau pria yang bersama dia waktu di Kafe itu adalah Kakaknya." Ucap Kai, dan tentu saja Ken tidak mendengarnya karena Ken sudah pergi menjauh.
"Jadi ini hanya kesalah pahaman?" Tanya Aldo. Kai mengangguk.
"Sekarang aku mengerti jika Ken telah salah paham dan cemburu." Pekik Anita sambil bertepuk tangan.
"Mama harus memberi tahu, Ken." Ucap Anita bersemangat.
"Mam, Sebaiknya biarkan saja dulu, biar Bang Ken tahu sendiri nanti" Ucap Kai, menahan ibunya.
"Tapi, Ken sudah lama menunggu, Kai." Ucap Anita lesu.
"Kita tidak tahu, apa yang dirasakan Abang itu obsesi atau cinta? Jadi biarkan Abang Ken berjuang lebih keras lagi." Ucap Kai dengan bijak.
"Nah, Papa setuju dengan mu Kai." Sedangkan Anita hanya bisa pasrah dan mengikuti sarah Suami dan anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan Ken mencengkram stir mobilnya dengan erat.
"Pantas saja kau tidak mengenaliku!" Gumam Ken.
"Ya Tuhan! Haruskah aku berjuang? Dan merebut wanita yang akan menjadi milik orang lain?".
"Tapi, aku bukan pebinor seperti Kai." Gumamnya lagi.
"Eh, tunggu! Kai saja bisa masa aku tidak bisa!" Ucap Ken, lalu melakukan mobilnya menuju rumah Bram dengan penuh semangat.
Semangat Ken. Ayo kejar wanitamu. Batin Ken, ketika sudah sampai di halaman depan rumah mewah Bram.
"Maaf Tuan, anda tidak di perbolehkan masuk!" Ucap Bodyguard yang berjaga di luar sambil menahan Ken.
Sial, selalu saja begini. Umpat Ken dalam hati.
Dukung karya Othor ya🥰🥰
Mampir juga ke novel othor yang lain