Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Pria Bajingan


Jangan lupa like agar author makin semangat berkarya.


Follow IG me @Thalindalena


SELAMAT MEMBACA


Jika Aldo dan Anita sedang bahagia dan merasakan manisnya madu tapi berbeda dengan Bram yang sedang merasakan kegetiran dalam hidupnya setelah mengetahui kenyataan yang ada.


"Ini tidak mungkin.ANITA"


PRANG


PRANG


PRANG


Semua barang yang ada didalam kamarnya hancur tak tersisa.


Siska yang mendengarkan suara gaduh dari luar kamar Bram hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Segitu cintanya kah dirinya pada wanita itu? kini ia sadar cinta tak bisa di paksakan dan ia pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa termasuk Anira. Benar kata Aldo jika dirinya terjebak dalam permainannya sendiri.


Puk


Siska terkejut saat ada yang menepuk pundaknya.


"Bi"


"Non yang sabar ya. Bibi yakin Tuan akan berubah dan menerima Non Siska" Ucap Bi Yam. Turut prihatin dengan keadaan Siska saat ini. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah jadi bubur dan setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya.


"Bi,aku lelah. Bolehkah aku menyerah?"


"Non,bertahanlah sebentar lagi paling tidak sampai Non Siska melahirkan. Kasian nanti anak Non siska". Bi Yam memeluk Siska.


"Tapi Bi. Aku sudah tidak sanggup" Siska terisak perih hidup yang kini ia rasakan.


"Jika nanti anakku lahir maka akan lebih menyakitkan lagi"


"Apa maksud Non Siska?, Setiap orang melahirkan pasti merasakan sakit Non"


"Aku tahu Bi. Tapi jika aku sudah melahirkan,Bram memintaku pergi menjauh dan menyerahkan ini kepadanya" Jelas Siska, Ucapan Siska membuat Bi Yam terkejut juga Syok.


Mana mungkin Tuannya yang selama ini ia kenal baik dan rendah hati berbuat sekeji itu. Pikir Bi Yam.


"Aku tau pasti Bibi tidak percaya tapi itu lah kenyataanya. Ibu mana Bi yang tak sakit hati jika harus berpisah dengan anaknya, Aku gak rela Bi jika harus berpisah dengan anakku" Mungkin ini adalah keputusan yang tepat, ia sudah menyerah. Sabar itu ada batasnya.


"Non Bibi mohon jangan menyerah,Bibi ada disini bersama Non siska" Mohon Bi Yam. Mau pergi kemana jika tak memiliki tujuan? Bi yam tau jika Siska sudah di campakan keluarganya. Sungguh malang nasib wanita ini. Bi yam sangat khawatir dengan keadaan Siska saat ini.


Ceklek


Pintu kamar Bram terbuka dari dalam dan menampilkan Bram yang acak-acakan.


"Bi,beritahu yang lain untuk membersihkan kamarku"


"Baik Tuan. Permisi" Bi Yam undur diri meninggalkan Siska dan Bram yang masih disana.


"Heii. Kamu. ikut saya" Ucap Bram dingin menunjuk Siska.


"Ya" Lalu Bram menarik Siska turun kelantai bawah dan masuk ke kamar tamu.


Bruk


Siska di lempar hingga terduduk di pinggir ranjang Bram mendekat dengan tatapan yang sunggu mengerikan.


" Bram apa yang kamu lakukan?" Siska ketakutan saat melihat Bram membuka kemejanya.


"Heh. Tidak perlu berlaga polos!! Bukankah ini yang kamu mau? Hah?"


"Apa maksud kamu Bram?" Siska semakin mundur hingga terpojok di dasboard ranjang saat Bram semakin mendekat.


"Gak Usah munafik. Aku yakin wanita sepertimu itu murahan".


"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Mengertilah"


"Ha ha ha. Wanita murahan. Sampah!!. Gara-gara kamu Anita pergi meninggalkan diriku"


" Maaf. Maafkan kesalahan ku dulu Bram. Aku bersalah dan aku menyesalinya.


"Cih. Bagus juga akting mu itu"


" Aku yakin walaupun kamu hamil anakku pasti kamu menjajakan tubuhmu diluar sanakan!.


Plakk


Siska menapar Bram tak terima karena harga dirinya direndahkan.


"Aku tidak seperti itu. Asal kamu tau hanya kamu laki-laki yang menyentuh diri ku" Ucap Siska emosi.


" Kau pikir aku percaya?"


"Baik,buktikanlah!!" Tantang Siska " Tapi kamu jangan menyesal setelah melakukannya".


Sedetik kemudian Bram mendekat lalu menarik Siska hingga wanita itu berada dibawah kukungan Bram.


"Aku tidak akan pernah menyesal" Tegas Bram lalu memulai Aksinya.


Aneh. Kenapa rasanya sempit sekali. Tapi Bram ambil pusing lalu ia memulai permainannya permainan yang kasar membuat Siska kesakitan apalagi kondisinya sedang mengandung.


"pelan-pelan Bram. Perutku Kram" Siska merasakan sakit yang luar bisa diperutnya bahkan kini air mata sudah meluber. Apalagi Bram menghujamnya dengan sangat kasar.


"Kau tidak pantas diperlakukan dengan lembut. Ya kau pantas diperlakukan seperti ini" Bram tak mendengar Ucapan Siska.


"Aku mohon hentikan" Siska menatap Bram dengan memelas. Tapi hati Bram sudah diselimuti dendam terhadap Siska yang telah menyebabkan perginya Anita.


"Hah. Kau sangat sempit sekali"Racau Bram. Tapi Siska sudah tak mendengar ucapan Bram karena dirinya sudah pingsan.


Hingga hentakan Terakhir Bram menggeram dan belum menyadari jika Siska sudah tak sadarkan diri.


Dan pergi meninggalkan Siska begitu saja hanya menyelimuti tubuh Siska yang polos.


Puas rasanya membuat Siska menderita.


------------


Malam telah tiba Bi Yam mondar mandir mencari kebaradaan Siska.


Aduh,Non Siska dimana? Sudah lewat jam makan malam kenapa tidak ada? Atau jangan-jangan Non siska sudah pergi. Batin Bi Yam.


"Apa aku tanya Tuan saja ya" Lalu kaki tua itu melangkah menuju ruang kerja Bram.


Tok tok tok


Setelah mendengar jawaban dari Tuannya Bi Yam memberanikan diri untuk masuk keruangan itu.


"Ada apa Bi?"


" Em itu tuan.Em anu" Bi Yam meremat tangannya yang berkeringat dingin.


" Itu ,Anu apa Bi? Bicara yang jelas!"


" Itu tuan. Em Non Siska hilang"Ucap Bi Yam memberanikan diri.


"Hilang? " Alis Bram mengkerut bingung.


"I iya tuan"


"Baiklah Bibi tenang saja. Saya tau keberadaan Siska"


" Baik Tuan. saya permisi" Bi Yam pamit dan kembali kebelakang untuk menyelesaikan pekerjaanya.


"Hilang?Apa dia masih di kamar tamu?" Lalu ingatan Bram mengingat kejadian tadi bahwa benar adanya jika hanya dirinyalah yang menyentuh Siska. Tiba-tiba perasaan bersalah muncul dihatinya tapi dengan segera ia menepis perasaan itu.


Bram melangkahkan kakinya menuju Kamar tamu.


Ceklek


Pintu terbuka


Bram mengedarkan pendangannya dan ternyata benar Siska masih disana. Bram berjalan mendekat melihat Siska yang masih menutup mata tapi ini sedikit aneh karena wajah siska sangat pucat.


"Hei bangun" Bram menepuk wajah siska berkali-kali tapi tak pergerakan.


Byurrrr


Bram menyiram wajah Siska dengan air dari kamar mandi tapi nihil tidak ada pergerakan.


"Tidur apa mati sih?"


Deg


Saat mengucapkan kata mati jantung Bram tiba-tiba berdetak sangat cepat. Lalu Bram meletakkan jarinya di hidung Siska.


"Masih bernafas"


Lalu ia menyibakkan selimut Siska dan betapa terkejutnya dia saat melihat banyak darah tepat dibagian bawah Siska dan membasahi sprei warna pink itu.


"Astagfirullah,Siska. Apa yang terjadi?"


Dengan Cepat ia memungut pakaian Siska yang berserak dan memakaikan pada Siska. Lalu memanggil Bi Yam dan membawa Siska ke Rumah Sakit.


"Bajingan kau Bram" Geramnya pada diri sendiri dan memukul stir mobil berkali-kali.


"Tuan bisa lebih Cepat lagi" Ucap Bi Yam karena Badan Siska sudah semakin dingin.


" Iya Bi" Bram melesatkan mobil nya dengan kecepatan penuh.


Aku pengen nyakar-nyakar muka Bram. Sumpah gedek banget.


Kasian Siska😭😭


Terimakasih sudah nunggu up dari othor readers.


Terus dukung author ya readers dengan cara like,komentar dan vote ya.


Love you all💗💗.