Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Demi Salwa


"Apa ?!" Pekik Ken. Ketika mendengar penuturan ayahnya.


"Ya ! Kamu sudah mendengarkan dengan jelas bukan." Ucap Aldo,menatap putranya yang masih terlihat sangat Syok.


"Lalu Salwa pergi kemana,Pa." Tanya Ken.


"Papa tidak tahu,hanya saja Bram mengatakan jika Salwa pergi dari negara ini dan dimana nya Papa tidak tahu." Jelas Aldo,membuat tubuh Ken terasa sangat lemas.


Sesakit itukah hatimu ? Batin Ken terasa sangat perih.


"Jangan memikirkan hal yang tidak penting ! Fokus lah dengan pendidikanmu karena kau akan menjadi penerus perusahaan ini." Ucap Aldo,dengan tegas.


"Pa ! Salwa juga pent—"


"Sudah terlambat !" Potong Aldo dengan Cepat dan membuat Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Pa !" Panggil Ken dengan nada penuh penekanan.


"Baik ! Papa akan membantumu mencari keberadaan Salwa tapi dengan catatan kau harus giat belajar dan buat bangga orang tuamu ini,Nak." Ucap Aldo,sambil menatap putranya dengan rasa iba.


"Terimakasih,Pa." Ken beranjak dari duduknya lalu memeluk Aldo dengan erat.


"Ya !" Aldo membalas pelukan putranya dan menepuk punggung itu berulang kali.


"Sudah ! Kau itu tidak boleh cengeng. Seorang pemimpin itu harus tegas dan kuat !" Ucap Aldo dengan penuh ketegasan.


"Iya Pa." Ken mengurai pelukannya.


"Bagus dan sekarang pelajarilah berkas-berkas itu." Ucap Aldo dan di angguki oleh Ken.


Ken sedikit merasa lega karena Ayahnya mau membantunya.


Ken mulai memperlajari berkas yang penuh dengan angka-angka yang membuatnya pusing,tapi ia tidak menyerah dan ia menyemangati dirinya jika dirinya bisa demi Salwa.


"Apa ada yang tidak kau mengerti?" Tanya Aldo.


"Sejauh ini aku masih paham,nanti jika ada yang tidak aku pahami,aku akan bertanya kepada Papa." Ucap Ken,menoleh kepada sang ayah dan tersenyum.


"Oke." Jawab Aldo,lalu melanjutkan pekerjaanya.


Hari menjelang sore dan Ken sudah bersiap untuk pulang kerumah.


"Hati-hati Ken. Dan sampaikan kepada istri papa yang paling cantik,jika suaminya hari ini akan lembur." Ucap Aldo,membuat Ken terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain,Bram tengah berbicara dengan seseorang di telepon dengan sangat serius.


"Pokoknya Papa titip jagain adik kamu !"


"Hei ! Kalian itu sama anak Papa." Ucap Bram dengan nada frustasi.


"Ayolah Az ! Dia juga adikmu." Ucap Bram lagi. Entah apa yang mereka bicarakan dan berbicara dengan siapa hingga membuat Bram sangat kesal.


"Ah ! Sial." Umpat Bram,ketika sambungan telponnya di putus sepihak.


"Mas." Panggil Encus,sambil menepuk pundak suaminya.


"Aku tidak bisa membiarkan putri kita disana." Ucap Bram,sambil mendudukan diri di Kursi yang ada di Balkon kamarnya.


"Tapi,itu semua keinginan putri kita Mas." Ucap Encus.


"Dan aku tidak mau,jika Az melukai Salwa !" Tegas Bram.


"Mas,setidaknya kita harus menghargai keputusan Salwa." Ucap Encus.


"Ini yang dia inginkan sejak dulu,dan juga ia ingin melupakan rasa sakit hatinya." Ucap Encus lagi dengan sendu.


"Hah." Bram membuang nafasnya kasar.


"Jika mas,seperti ini terus maka Az akan semakin membencimu." Jelas Encus.


"Kau benar sayang." Ucap Bram,lalu memeluk istrinya.


"Jujur aku juga merasa berat untuk melepas putri kita." Jelas,Encus di dalam dekapan Bram.


"Semoga semua ini berjalan dengan baik." Ucap Bram.


"Amin." Jawab Encus,mengaminkan Doa suaminya.


Dukung Othor terus ya.


Kemungkinan 5 Bab lagi benar-benar akan End.