
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, dimana Kenzie dan Salwa akan mengikrarkan janji suci mereka.
Kediaman rumah Bram sudah di hias dengan dekorasi yang sangat mewah, tamu undangan pun sudah mulai berdatangan.
"Huh." Ken menghembuskan nafasnya berulang kali,ia merasa sangat gugup dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Ken terlihat sangat tampan dengan setelan tuxedo berwarna putih, begitu pula dengan Ayah dan adiknya.
"Santai." Bisik Kailan, yang duduk di sebelah kiri Ken.
"Gue deg-degan." Bisik Ken, sambil meremat kedua tangannya yang terasa dingin.
"Kalian ini berisik sekali!" Tegur Aldo yang berada di sebelah kanan Ken.
"Pa, boleh tidak pernikahannya di undur?"
Plak
"Jangan gila kamu!" Sentak Aldo tertahan, sambil memukul paha putranya dengan keras, membuat Ken meringis tertahan.
"Aku deg-degan, Pa." Keluh Ken.
"Dasar bocah." Cibir Kailan.
"Diem lo." Sentak Ken dengan kesal, sedangkan Aldo hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
Aldo tidak habis pikir dengan putra pertamanya itu karena masih kekanakan jika sedang gugup.
"Tuh, penghulunya sudah datang." Ucap Kai, sambil menunjuk pria paruh baya berjalan kearah mereka sambil menenteng Tas yang berisi berkas-berkas pernikahan.
"Aduh, gimana ini? Gue gugup banget sumpah, rasanya gue pengen bokerr." Bisik Ken tak karuan kepada adiknya.
"Ya tuhan! Jangan mengadi-ngadi lo!" Sungut Kailan kepada kakaknya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Kenzie semakin berdetak dengan cepat ketika Penghulu dan Bram sudah duduk di hadapannya, kemudian mereka saling bersalaman.
"Rileks saja calon manten." Goda Penghulu, ketika merasakan tangan Ken sangat dingin.
"Iya Pak." Jawab Ken, tersenyum canggung.
"Kau sudah siap, Ken?" Tanya Bram.
"Sudah Om, insya allah." Ken berkata dengan nada bergetar, sungguh ini adalah pengalaman yang sangat mendebarkan dari pada memperebutkan proyek yang bernilai milyaran rupiah.
"Jika salah tiga kali, maka kau tidak bisa menikahi putriku." Ucap Bram bercanda, tapi terdengar serius dan benar saja Kenzie langsung kelabakan.
Tamu undangan yang mendengarkan candaan Bram hanya terkekeh geli, termasuk Aldo dan Kailan.
"Mampus lo!" Bisik Kailan, Membuat Ken semakin dag dig dug serrr.
"Sialan lo!" Balas Ken, berbisik.
"Ayo jabat tangan, Tuan Bram." Penghulu memberi intruksi.
Perlahan Ken menjabat tangan Calon Ayah mertuanya.
Senyum Bram tersungging ketika merasakan tangan Ken yang sangat dingin.
"Ternyata kau bisa gugup juga ya? Tidak sebanding dengan sikap arogantmu." Masih bisa menggoda Kenzie disaat seperti itu.
"He he hee." Kenzie hanya tersenyum kaku menanggapi candaan Bram.
Ah, memalukan. Batin Ken.
Setelah itu Ijab kabul pun mulai di laksanakan, Bram menjabat tangan Kenzie dengan begitu erat begitu pula dengan Kenzie.
Kenzie berusaha mengatur nafasnya berulangkali untuk mengusir kegugupannya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Kenzie Aidy Sanjaya Bin Aldo Sanjaya dengan anak saya yang bernama Salwa Saida Binti Bramantyo dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang senilai 500 juta, dibayar tunai." Bram menghentakan tangannya dengan pelan tangan Kenzie.
"Saya terima nikah dan kawinnya Salwa Saida dengan seperangkat sholat—"
"Kamu bagaimana sih?!" Kesal Bram.
"Maaf Om, saya terlalu gugup." Ucap Ken, membuat Ayah dan adiknya menepuk jidatnya bersamaan.
Sedangkan para tamu undangan menahan tawa.
"Nih, baca dan hafalkan dulu." Aldo memberikan secarik kertas kepada putranya.
"Iya, terimakasih. Pah." Ucap Ken. Kemudian Ken mulai menghafalan tulisan yang ada di kertas tersebut.