
"Abang kenapa ikutin Ara sampai ke perpus?" tanya Ara berjalan beriringan bersama Samuel di koridor sekolah.
Memang tadi Samuel menyusul Ara ke perpustakaan, bahkan ikut belajar bersama Edgar. Sebenarnya laki-laki itu tidak ada niatan belajar, hanya saja ingin memantau Ara.
Jangan sampai gadis imut itu berpaling darinya.
"Gabut," jawab Samuel.
"Oh Abang gabut." Ara mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Berusaha mengimbangi langkah Samuel menuju parkiran karena jam sekolah telah berakhir.
Senyuman Ara mengembang ketika kembali dipertemukan dengan Rayhan dan Ricky yang tengah bertengkar memperebutkan kotak berisi kue.
"Berisik njir!" kesal Azka mengambil alih kotak warna coklat tersebut lalu menyerahkan pada Salsa. "Nggak usah baik sama mereka. Lo bukan babu," lanjut Azka.
"Tapi aku buat emang untuk mereka Ka."
"Sal."
"Kue khusus buat kamu ada dirumah."
Seperti mantra untuk Azka, dia menyerahkan kotak tersebut pada Rayhan. "Makan!" perintahnya.
"Ara juga mau buat kue untuk kak Iky sama Kak Ray. Boleh Abang?" tanya Ara.
"Nggak!"
"Pelit lo El," celetuk Rayhan dengan kue memenuhi mulutnya.
"Lonya aja gratisan," sahut Samuel dan memasang helm di kepala Ara. "Gue balik dulu," pamitnya pada teman-teman yang lain sebelum melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah.
"Kenapa Ara nggak boleh buat kue?" tanya Ara seraya melingkarkan tangannya di pinggang Samuel.
"Nggak papa."
"Tapi Ara mau Bang. Ara senang kalau buatan Ara banyak yang suka."
"Buatan lo nggak enak," sahut Samuel membuat senyuman Ara memudar seketika.
"Ara lupa nggak bisa buat kue seenak kak Salsa," lirih Ara, setelahnya tidak bersuara lagi.
Dia hanya menikmati kendaraan lalu lalang seraya memeluk tubuh kekasihnya.
"Ke mansion?" tanya Samuel.
"Ara mau pulang kerumah. Ara nggak mau ke mansion lagi kalau nggak penting. Ara punya rumah sendiri. Kata kak Alana, perempuan yang sering berkunjung kerumah tunangannya itu murahan."
Ciiitttttt
Decitan ban motor berbunyi nyaring di telinga Ara, membuat gadis imut itu kaget sendiri. "Abang kenapa berhenti?"
Samuel tidak menjawab, hanya bergeming dengan tangan terkepal hebat.
"Lo ingat semuanya?"
"Ara nggak pernah lupa," sahutnya tanpa tahu dada Samuel tengah bergemuruh hebat karena rasa bersalah.
"Terus kenapa lo balik lagi?"
"Karena Ara suka sama Abang. Ara nggak peduli sejahat apa Abang sama Ara, karena tugas Ara cuma cinta dan buat Abang bahagia. Ara minta maaf kalau selama ini sering buat Abang marah, padahal Bunda nyuruh Ara nggak buat Abang kesal."
Tangan Samuel semakin terkepal hebat. "Harusnya gue yang minta maaf Ra udah nyakitin lo selama ini. Lo harusnya nggak beri gue kesempatan dan cinta sedalam ini sama gue."
Sayangnya perminta maaf dan penyesalan itu hanya mampu terucap di hati Samuel saja tanpa bisa di dengar oleh siapapun.
"Abang kenapa diam aja? Ayo cepat kayaknya mau hujan Bang."
Bukannya melajukan motor, Samuel malah turun dan mengendong tubuh mungil tunangannya agar ikut turun dari motor.
"Motornya rusak?" Lagi, Ara melayangkan pertanyaan karena bingung dengan tingkah Samuel.
"Abang." panggil Ara lagi ketika Samuel tidak kunjung menyahut.
"Abang!" sentak Ara.
"Gue udah pesan taksi, bentar lagi hujan," jawab Samuel dan kembali naik ke motornya. Dia melajukan motor besar tersebut meninggalkan Ara seorang diri di jalanan sepi.
Setelah cukup jauh, dia menghentikan motornya dan memantau sang kekasih dari kejauhan.
"Sialan!" Samuel meninju batang pohon hingga tangannya tergores dan mengeluarkan darah.
Setiap kali Ara membahas tentang perlakuannya dulu, dia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri. Marah karena tidak bisa mengontrol emosinya. Membenci Ara tanpa sebab yang jelas.
Dia membuka tasnya dan mengambil benda bernikotin di sana. Membakar ujung lalu menghisapnya dalam-dalam.
Samuel menghela nafas panjang ketika melihat taksi yang baru saja dinaiki Ara melewatinya begitu saja.
"Gue nggak pantas buat lo, tapi gue juga nggak mau lo ninggalin gue Ra. Maaf karena gue emosian."