
Ara, gadis itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menjauhi lingkungan mansion Samuel. Dada Ara sedikit sesak tahu pria yang dia cintai sebentar lagi akan menikah dengan perempuan lain.
Tidak terasa air mata begitu saja membasahi pipi Ara. Ternyata rasanya gadis itu benar-benar belum siap untuk ditinggalkan oleh Samuel. Dia mengira semuanya hanya tentang waktu, nyatanya perasaan yang memang sudah tertanam di dasar hati paling dalam susah untuk dilupakan.
Ara mengusap air matanya pelan demi mengembalikan penglihatannya agar lebih jelas, itu semua tidak luput dari perhatian Asa yang terus memandangi bundanya.
Tangan mungil Asa bergerak untuk menyentuh lengan Ara. "Bunda nangis?" tanya Asa dengan wajah polosnya.
Ara lantas menoleh sambil mengelengkan kepalanya, tidak lupa senyuman menyertai di wajah cantik gadis itu. Tangan Ara terulur untuk mengusap kepala Asa.
"Bunda kelilipan tadi makanya mata bunda berair. Asa ngantuk?"
Asa mengelengkan kepalanya. "Asa nggak ngantuk. Asa mau tinggal sama ayah, tapi tubuh ayah getar-getar. Asa takut." Mengembungkan pipinya yang tidak cubi itu. Mungkin karena penyakitnya yang membuat Asa tidak bisa tumbuh seperti anak normal lainnya.
"Nanti ya kita ketemu ayah."
"Kenapa bunda nggak beritahu Asa kalau ayah udah nggak terbang tinggi lagi?"
"It-itu ...." Ara tiba-tiba menjadi gugup, tidak mungkin dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Asa.
"Oma sama Opa tinggal sama-sama, Bunda sama ayah kok pisah?" Asa kembali melontarkan pertanyaan yang tidak bisa Ara jawab dengan jelas.
Gadis cantik itu memutuskan menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika melihat indoapril, melirik Asa yang masih saja menatapnya dengan polos.
"Asa mau makan Es krim?"
"Mau bunda!" Mengangguk antusias dan lupa akan pertanyaanya. Asa sangat jarang makan es krim karena larangan dari Ara, itulah mengapa sangat bahagia mendapat tawaran langsung dari sang bunda.
Gadis kecil itu berlari lebih dulu memasuki indoapril, tujuannya hanya tempat es krim, bukan yang lainnya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam kamar. Samuel sedang duduk di sisi ranjang sambil merenung akan perjodohan yang dilakukan oleh papinya, juga pesan yang diberikan Ara sebelum meninggalkan mansion.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, merasa frustasi pada hidupnya sendiri. Kenapa perjodohan harus belangsung setelah Ara datang? Kenapa tidak 1 atau 2 tahun yang lalu? Ketika pikirannya mulai ragu untuk menanti kedatangan Ara dalam hidupnya.
Samuel melirik pintu yang dibuka oleh wanita paruh baya yang terlihat cantik meski telah dimakan usia. Wanita itu duduk di sisi ranjang seperti yang dilakukan Samuel. Mengusap punggung kekar putranya sambil tersenyum.
"Mami tahu sekarang putra mami sudah dewasa dan bisa menyikapi keadaan dengan bijak. Jangan buat kesalahan lagi yang bisa saja kamu sesali nantinya."
"Tapi Mih, perjodohan bukan satu-satunya jalan keluar untuk masalah El, terlebih Ara udah kembali." Menatap Fany dengan wajah datarnya.
Fany tersenyum, ada sedikit perubahan dari putranya. Samuel tidak lagi mengamuk dan menolak sesuatu dengan tindakan kasar. Putranya sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.
"Memangnya Ara mau balik sama kamu Nak? Kenapa menunggu sesuatu yang nggak pasti? Bersama nggak melulu tentang pasangan hidup, menjadi abang untuk seseorang juga ...."
"Apa Mami dan papa punya jaminan El bakal bahagia nikah sama pilihan kalian? Gimana kalau sebaliknya?" Berdiri dan menatap maminya semakin tajam, tapi sorot mata itu hanya sebentar sebelum kembali meredup.
"Rasanya El mau mengakhiri hidup untuk kedua kalinya!" Samuel meninggalkan kamar, mansion tidak lagi menjadi tempat terhangat baginya. Semua orang hanya egois memikirkan diri sendiri tanpa ada yang peduli dengan perasaanya.
Andai saja Ara ingin kembali, mungkin pria itu akan membawa gadisnya pergi jauh dan menikah tanpa restu orang tua. Namun, Ara masih saja keras kepala dan tidak ingin memeafkan kesalahannya.
***
"Ara!"
Ara yang merasa dirinya dipanggil segera membalik tubuhnya. Ternyata sosok pria tampan sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berpijak.
"Kenapa?"
Samuel tidak kunjung menjawab, pria itu berjalan semakin mendekati Ara, mengikis jarak di antara mereka sehingga nafas Samuel begitu terasa di wajah Ara yang sedang mendongak.
Merasa sesak karena debaran jantung tidak beraturan, Ara hendak melangkah mundur. Namun, pegerakannya terhenti ketika Samuel langsung menahan pinggang rampinya.
"Kamu masih mencintaiku atau nggak? Katakanlah!"
Ara bergeming, tidak tahu harus menjawab apa. Keraguan di hati gadis itu masih saja ada yang entah kapan akan hilang.
"Ra!"
Perlahan tapi pasti, Ara mengelengkan kepalanya membuat hati Samuel terasa semakin sesak. Pria itu memejamkan mata, mencoba mengatur ritmen jantungnya yang tidak terkendali.
"Maaf." Dengan sigap Samuel menarik tengkuk Ara dan membenamkan bibirnya di bibir Ara yang hampir menyerupai bentuk love. Menyesapnya cukup kasar karena Ara terus saja memberontak.
Lum*atan itu perlahan-lahan menjadi lembut meski sedikit menuntut ketika Ara mulai membalasnya sedikit demi sedikit. Samuel mendorong Ara hingga mepet ke sebuah dinding.
Keduanya sedang berada di basemen rumah sakit tanpa takut mungkin seseorang akan melihatnya.
Samuel menatap sayu manik Ara yang berembun dengan nafas yang memburu setelah pagutan keduanya terlepas. Mengusap bibir yang mengkilap karena air liurnya.
"Kamu masih mencintaiku?" Samuel kembali melayangkan pertanyaan bermakna sama, tapi jawaban Ara tetap saja.
"Nggak."
"Apa aku harus membuatmu hamil lebih dulu?"
"Pergilah! Jangan lakukan hal bodoh yang bakal buat kamu menyesal nantinya. Pernikahanmu sebentar lagi, dan jangan memperjuangkan seseorang yang bahkan sangat membencimu!"
"Ara, aku sungguh ...."
"Anggap saja apa yang terjadi tadi adalah salam perpisahan!"