Lost Love

Lost Love
Part 48 ~ Gengsi setinggi gunung


Tatapan Samuel tertuju pada jepit rambut yang ada di tengah-tengah ranjang. Dia tersenyum tipis ketika tahu siapa pemilik jepit rambut tersebut.


Tanpa menyuruh siapapun membereskan kasurnya, dia langsung saja tidur dan memeluk guling. Perlu di catat bahwa ini pertama kalinya Samuel tidur di ranjang tanpa dibereskan lebih dulu.


Laki-laki wajah dingin yang terobsesi dengan kebersihan tersebut mulai bertingkah aneh. Harus kalian tahu, selain membenci sikap Ara yang ke kanak-kanakan, Samuel juga membenci hal-hal jorok yang sering kali dilakukan Ara jika berdekatan dengannya. Namun, akhir-akhir ini dia merindukan semua tingkah Ara saat di dekatnya.


***


Samuel ikut bergabung dengan orang tuanya di meja makan. Langsung saja menarik piring berisi nasi goreng buatan sang Mami.


"Pulang jam berapa kamu semalam?" tanya Daren seraya memasukkan makanan kemulutnya.


"Sepuluh, sesuai aturan," jawab Samuel acuh.


"Kan, mami juga bilang apa. Semalam tuh pot jatuh karena kucing nggak percaya aja sih," timpal Fany yang berusaha melindungi putranya.


Toh Fany memaklumi pergaulan Samuel asal tahu batasan dan tidak bermain perempuan. Namun, satu hal yang tidak diketahui wanita paruh baya itu tentang putranya.


Fany tidak tahu jika Samuel mengonsumsi benda bernikotin, jangan lupakan alkohol jika mereka berpesta di markas.


Samuel beranjak dari duduknya setelah menghabiskan nasi goreng. "Samuel berangkat dulu Mam, Pap," ujarnya mencium punggun tangan Fany dan Daren.


"Eh tunggu dulu Sayang!" cegah Fany.


"Jangan panggil siapapun, sayang Fany!"


"Iya nggak Sayang," sahut Fany dari kejauhan karena akan mengambil sesuatu.


Sementara Samuel melirik papinya yang sangat posesif, bisa-bisanya cemburu pada anak sendiri.


"Cemburunya nggak jelas," gumam Samuel.


"Jelas karena kamu laki-laki!" tegas Daren.


"Pi, mau sampai kiamat pun, El nggak mungkin selingkuh sama Mami!"


"Udah-udah jangan rebutin Mami pagi-lagi." Sela Fany membawa sesuatu di tangannya.


"Ini berikan sama Ara! Jepit rambutnya dia lupa di sofa. Sekalian ganti hansaplast di jari telunjuknya. Semalam sebelum pergi, mami sama dia masak eh malah kena pisau tangannya," jelas Fany panjang lebar dan Samuel mendengarkan dengan seksama.


"Ara masuk ke kamar El?"


"Iya, tidur sebentar. Sana buruan berangkat!" Fany mendorong tubuh Samuel agar segera pergi.


Sebelum meninggalkan rumah, laki-laki wajah tampan tersebut mengucapkan salam lebih dulu.


Dia melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah Ara untuk mengantar jepit rambut juga hansaplast dari maminya.


Sebenarnya itu hanya modus karena Samuel ingin bertemu dengan Ara dan duduk berdua saja. Sebab jika menghampiri tanpa alasan apapun dia merasa gengsi juga malu, apalagi mengingat semua yang dia lakukan selama ini pada gadis imut tersebut.


Belum juga dia memasuki gerbang rumah Ara, dia sudah melihat motor lain keluar membonceng pemilik rumah. Tangan Samuel terkepal hebat melihat tangan Ara yang melingkar di pinggang Edgar.


Hanya dia yang bisa dipeluk seperti itu, tidak untuk orang lain. Ara tunangannya dan miliknya.


Karena kesal, Samuel melajukan motornya semakin kencang agar tidak bertemu dengan kedua orang menyebalkan itu lagi, sayangnya lampu merah kembali mempertemukan mereka.


"Makasih udah mau jemput Ara, Milo!"


Samar-samar Samuel dapat mendengar pembicaraa Edgar dan Ara yang terlihat sangat akrab.


"Lo kan takut sama om-om botak Ra, jadi gue jemput. Jadi ojek pribadi tanpa bayara juga nggak masalah," canda Edger.


Keduanya tertawa, membuat Samuel semakin terbakar api cemburu? Mungkin saja.


"Modus!" gumam Samuel kembali melajukan motornya setelah lampu lalu lintas berubah hijau.


Samuel memutar bola mata jengah, selalu saja dia sampai setelah Rayhan dan Ricky hingga dia akan mendengar ocehan-ocehan unfaedah dari sahabatnya tersebut.


Seperti saat ini, baru saja dia membuka helm, Rayhan sudah menegur dengan ledekan.


"Anjir muka lo kenapa kusut gitu?" tanya Rayhan.


"Lupa disetrika kali," timpal Dito.


"Gue nggak ikutan ya, nggak ada Keen atau Azka yang bakal bela," celetuk Ricky takut pada Samuel.


"Eh baru nyadar hari ini kita nggak lengkap karena nggak ada pak ketua."