Lost Love

Lost Love
Part 172 ~ Dia Milikku


Dengan langkah pelan Ara mengikuti Samuel dari belakang menuju ruangan rawat Rayhan yang ternyata berada di kamar VIP. Sebenarnya kondisi Rayhan baik, hanya saja tidak ingin pulang kerumah dan pura-pura sakit agar tidak mendapatkan hukuman atas kesahalan yang pria itu perbuat pada Giani.


Ara menundukkan kepalanya sambil mengigit bibir sebelum melangkahkan kaki mamasuki ruangan, sehingga tidak menyadari jika Samuel berhenti tepat di hadapannya.


Gadis itu mengusap hidungnya yang membentur pundak kekar Samuel.


"Lain kalau kalau jalan jangan nunduk!" ucap Samuel.


"Iya."


Ara merubah posisinya berdiri di samping Samuel sehingga dapat melihat jelas Rayhan yang tengah memejamkan matanya.


"Kak Ray sakit apa?" tanya Ara membuat Rayhan membuka matanya.


Mata yang semula sayu tersebut seketika membola melihat gadis cantik yang sudah lama tidak dia temui.


"Ara?"


"Iya kak."


"Gila njir, lo cantik banget. Dokter lo?"


Ara lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Rayhan lantas berdiri menghampiri gadis itu, hendak merain tangannya tapi ditepis oleh Samuel.


"Nggak usah pegang-pegang lo! Sana baring lagi!"


"Aelah posesif banget sih tunangan lo Ra ... Eh kalian masih tunangan atau udah putus?" Rayhan menaikkan salah satu alisnya setelah duduk di pinggir brangkar.


"Kami cuma teman kok kak. Oh iya gimana keadaan kak Ray? Baik-baik aja kan?"


"Seperti yang lo lihat."


"Kalau begitu aku pergi dulu, soalnya masih ada urusan penting."


Ara membalik tubuhnya karena merasa tidak nyaman, tapi langkah gadis itu berhenti sebab ditarik oleh Samuel.


"Tunggu gue balik ya."


"Balik?"


"Perbaikilah semampu kamu, tapi yang harus kamu tahu, cermin yang retak tidak bisa mematulkan bayangan yang sempurna!" sahut Ara sebelum benar-benar meninggalkan ruang rawat Rayhan.


Sedangkan Samuel membeku ditempatnya mendengar kalimat yang sangat menusuk hatinya.


"Urus diri lo sendiri!" ucap Samuel dan ikut keluar dari ruangan rawat.


Langkah lebar pria itu tentu saja mengikuti kemana Ara pergi karena ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Langkah Samuel memelan saat melihat sepasang manusia sedang berdiri di lorong yang sangat sepi. Tangannya mengepal hebat melihat Ara berpelukan dengan Edgar.


"Tenanglah Ra, semuanya pasti baik-baik aja," bisik Edgar tanpa bisa di dengar oleh siapapun selain Ara.


"Aku bingung sama perasaan sendiri Edgar. Aku bahagia ketemu Abang, tapi lukanya juga muncul di permukaan. Bukan luka saat dia nyakitin fisik aku, tapi luka saat dia buat aku menunggu karena menemui Sasa."


"Semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu, jadi jangan terbani akan ...." Belum selesai Edgar berucap, sebuah bogeman mendarat di wajahnya membuat Ara keget bukan main.


Gadis itu menatap tidak suka pada Samuel, pelaku penyerangan. Ara berjongkok untuk membantu Edgar berdiri.


"Kamu kenapa mukul Edgar? Dia salah apa sama kamu!"


"Dia meluk dan bahkan menyentuh pipi kamu Ra. Lo itu milik ...." Wajah tampan Samuel tertoleh ke samping akibat tamparan Ara yang lumayan keras.


"Harus kamu tahu, kita tidak punya hubungan apapun lagi, bahkan untuk sekedar keluarga! Milikmu? Aku bukan milik siapapun jadi bebas mau sama siapa aja!" Nafas Ara memburu. Ternyata Samuel benar-benar tidak sepenuhnya berubah.


Mungkin yang berubah hanya profesi juga umur, yang lainnya masih tetap sama.


"Aku benci sama kamu, dulu dan sekarang! Jangan pernah muncul dihadapan aku lagi bahkan sebagai pasien sekalipun!"


"Ara udah!" Tegur Edgar.


Ara menepis tangan Edgar yang berusaha melerai. "Pria sepertinya tidak pantas diberi hati Edgar. Jika diberi, bukannya menjaga dia akan menghancurkannya hingga kepingan terkecil!"


Usai mengatakan hal tersebut, Ara meninggalkan Samuel yang diam membisu untuk kedua kalinya.


Ara benar-benar kecewa akan sikap Samuel yang datang langsung memukul Edgar seolah-olah dia adalah kekasih pria itu.


"Luka nggak bakal sembuh sebelum obatnya ditemukan Ra. Dan obat kamu cuma Samuel. Dia luka tapi obat untukmu. Percayalah, kalau kamu ikhlas menerima, semuanya akan lebih indah." Edgar tersenyum karena menyadari masih ada cinta di hati Ara untuk Samuel.


"Ara yang aku kenal baik hati dan pemaaf, aku yakin itu masih ada dalam diri kamu. Hanya saja kamu berusaha terlihat berbeda karena ingin membuktikan pada seseorang. Ara, menjadi diri sendiri jauh lebih baik."