
"Masih nyeri?" tanya Samuel. Laki-laki itu tengah menempelkan kompres air dingin di pipi Ara agar memarnya segera hilang.
"Dikit lagi," lirih Ara.
Samuel menghela nafas panjang, ingin rasanya dia segera mencari orang yang telah menampar gadisnya, tapi dia juga tidak tega jika harus meninggalkan Ara meski ada inti Avegas di UKS menemani.
"Ray!" panggil Samuel tanpa menoleh.
"Apasih, manggil mulu perasaan. Gue baru duduk njir lo udah manggil aja. Lo kira gue babu lo hah?" omel Rayhan padahal Samuel baru menyebut namanya.
"Beliin Ara makan di kantin, dia mau minum obat!" perintah Samuel tanpa rasa bersalah.
"Lo nggak bisa nyebut nama Dito atau yang lain apa? Nyesel gue punya nama Rayhan," gerutu Rayhan meski itu tidak tulus dari dalam hatinya.
"Mie ayam," lanjut Samuel.
"Uang!"
"Gatiin mie ayam dua mangkuk yang lo habisin tadi!"
Sontak Ricky, Dito dan Keenan tertawa mendengar perkataan Samuel. Untung saja ketiga laki-laki itu tidak menyentuh mie ayam Samuel dan murni dihabiskan oleh Rayhan saja.
"Percuma kaya kalau pelit," ujar Rayhan tapi tetap saja melaksanakan perintah sepupunya. Terlebih Rayhan tidak tega melihat pipi dan wajah pucat Ara.
"Ra-El kita ke kelas dulu ya," ucap Keenan mewakili yang lain. Sebenarnya ketiga laki-laki itu bukan ke kelas, melainkan ke lantai tiga untuk mencari tahu siapa yang telah menyakiti kesayangan Avegas.
"Hm."
Samuel kini memfokuskan perhatiannya pada Ara yang sejak tadi memejamkan mata. "Setelah makan dan minum obat, kita pulang," ucap Samuel dan dijawab anggukan oleh Ara.
"Ara mau pulang dan nggak mau sekolah di sini lagi. Ara takut."
"Ra?"
"Ara mau pergi aja deh yang jauh. Di sekolah Ara dulu nggak ada yang nyakitin, terus nggak ada laki-laki. Beda sama di disi. Sejak Ara pindah, Ara sering ketemu orang jahat, padahal Ara nggak salah apa-apa," lirih gadis imut itu.
Ara mulai merasa lelah terus terluka.
"Lo mau ninggalin gue hm?"
Ara mengeleng. "Ara nggak ninggalin Abang, Ara cuma mau pergi ...."
"Itu sama aja lo mau ninggalin gue Ra! Tetap sekolah di sini sama gue!"
"Ara cape Bang."
"Ara ...." Samuel menjeda kalimatnya. "Gue janji bakal jaga lo dan nggak buat lo terluka."
"Abang sering janji gitu tapi Ara tetap aja ada yang nyakitin."
Setelah lama menatap Ara, Samuel menunduk seraya memejamkan matanya. Mengatur deru nafas yang mulai tidak terkendali.
"Termasuk gue? Lo lelah karena sering gue sakiti makanya lo mau pergi?" tanya Samuel tanpa menatap Ara.
Ara mengelengkan kepalanya cepat. Tidak pernah sekalipun terlintas di kepalanya akan pergi karena lelah pada Samuel. Dia hanya lelah pada keadaan yang terus menyakiti dirinya.
Dia merasa menjadi beban semua orang karena selalu terluka.
"Abang nggak pernah nyakitin Ara dan Ara nggak lelah kok ada di samping Abang."
"Bohong kan lo?"
"Ara nggak bohong Abang."
"Kalau gitu tetap disamping gue Ra." Samuel langsung menarik Ara kepelukannya. Rasa takut kehilangan mendengar kata lelah keluar dari mulut Ara mulai menghantuinya.
"Ara nggak bakal ninggalin Abang kok." Ara membalas pelukan kekasihnya yang terasa sangat hangat menenangkan.
Dia tersenyum merasakan detak jantung Samuel yang senada dengan detak jantungnya.
"Jangan bawa Ara pulang kerumah, Ara nggak mau Abang kena marah karena pipi Ara merah," lirih Ara yang tahu betul bagaimana ayahnya.
"Tetap harus pulang. Gue yang gagal jaga lo, jadi gue harus nerima hukuman dari om Deon. Tenang aja Ra, gue punya sembilan nyawa."
"Ekhem, bisa nggak sih sekali aja nggak nyentil rasa dengki di hati ini?" celetuk Rayhan berdiri tepat di belakang Samuel.
"Kak Ray?"
"Hay dedek cantik."
"Nggak usah goda tunangan orang! Sana pergi!"
"Untung lo sepupu gue El, kalau nggak udah gue .... Gue pacarin," cengir Rayhan melihat tatapan tajam Samuel.
Rayhan segera meninggalkan UKS dan menuju lantai tiga dimana inti Avegas lainnya berada.
"Makan dulu gih, setelah itu minum obat dan istirahat!"
"Ditemenin Abang?"
"Hm."
...****************...
Nggak asik ah, Ara mulai lelah.