Lost Love

Lost Love
Part 158 ~ Menolak untuk percaya


Pulang jam 7 malam karena hujan lebat yang tidak kunjung berhenti membuat Samuel begitu lelah juga kedinginan.


Laki-laki itu membilas tubuhnya dengan air hangat setelah sampai di mansion. Mengeringkan rambut seraya berjalan menuju nakas untuk mengcharger ponselnya yang telah mati sejak pulang sekolah tadi.


"Cuaca buruk banget," gumam Samuel meraih laptopnya dan hendak tidur tengkurap di atas ranjang, tapi urung ketika maminya masuk ke kamar.


"Bagimana?" tanya Fany duduk di pinggir ranjang, wanita paruh baya itu ingin mengetahui perkembangan hubungan Samuel dengan Ara.


Ara sempat menceritakan beberapa hal pada Fany termasuk pertemuan gadis itu bersama putranya.


"Bagimana apanya, Mam?" tanya Samuel dengan kening mengkerut.


"Hubungan kamu sama Ara, tadi kata Ara kalian akan ...."


"Anjir!" umpat Samuel.


"Kenapa?"


"Samuel lupa ada janji sama Ara, pasti sekarang dia marah sama El," ucap Samuel.


Laki-laki dingin itu hanya menyambar kunci motornya tanpa membawa jaket untuk melindungi tubuhnya dari angin malam yang sangat dingin, terlebih hujan baru saja reda.


"Maafin gue Ra, gue bodoh karena lupa sama lo sebab urusan gue," gumam Samuel terus melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata agar bisa sampai dengan cepat ke taman tempatnya janjian.


Samuel tahu betul bagaimana sikap keras kepala Ara, gadis itu jika mengatakan ingin menunggu, maka akan menunggu sampai seseorang datang menemuinya.


"Gue harap lo nggak nungguin gue dan hujan-hujanan Ra," lirih Samuel semakin menancap gas tanpa memperdulikan bahwa tingkahnya bisa saja membahayakan pengendaran lain.


Meski tubuh mengigil dan rasa dingin menusuk tulang-tulangnya, Samuel terus saja berlari menuju taman dimana mereka sering menghabiskan waktu berdua saja.


Langkah Samuel memelan, nafasnya memburu karena berlari. Dia sangat lega karena tidak mendapati Ara di sana, artinya Ara tidak hujan-hujanan yang akan membuatnya sakit nanti.


Atensi Samuel teralihkan pada boneka yang tergeletak di atas rumput, noda tanah telah memenuhi boneka berwarna hijau tersebut.


"Elara?" gumam Samuel mengambil boneka itu dan mendudukkannya di atas bangku, saat itulah Samuel melihat sebuah kotak kecil.


Ara kembaliin cincinnya, karena Ara mau pergi.


"Nggak, lo nggak boleh ninggalin gue." Samuel meremas cincin itu dengan tangan bergetar.


Samuel berlari sekuat tenaga menghampiri motornya, melajukan menuju rumah Ara.


"Ara!" teriak Samuel setelah sampai di depan rumah yang tampak sepi seperti tidak berpenghuni lagi.


"Ara buka pintu atau gue dobrak!" Lagi, Samuel kembali berteriak kencang hingga urat-urat lehernya terlihat.


"Ara maafin gue kalau ada salah sama lo, plis buka pintunya!" pinta Samuel memukul-mukul pintu berbahan besi tersebut.


Bukanya terbuka, tangan Samuellah yang terluka karena terlalu kencang memukul pintu tersebut.


"Samuel?"


Samuel tidak menoleh, keningnya menempel pada daun pintu dengan tangan terkepal di kedua sisi kepala.


"Ayo Nak kita pulang!" bujuk Fany yang mengikuti Samuel.


Karena wanita itu baru saja mendapat kabar dari Kirana yang telah meninggalkan Indonesia beberapa menit yang lalu.


"El nggak bakal pulang sebelum Ara bukain pintu Mami. Ini salah El karena lupa janji El yang akan nemuin Ara di taman. Andai aja El nggak lupa, mungkin Ara nggak bakal marah kayak gini," lirih Samuel.


"Ara tidak ada di rumah ini Nak, dia sudah pergi bersama orang tuanya," ucap Fany mengusap punggung Samuel yang mulai bergetar.


"Ara nggak mungkin ninggalin El, Mam. Ara sayang sama El dan udah janji bakal selalu ada di samping El."


"Sekarang sudah berbeda Nak, Ara sudah pergi dan baru saja meninggalkan indonesia."


Samuel membalik tubuhnya, mengelengkan kepala, menolak mempercayai ucapan maminya. "Ara nggak mungkin ninggalin El hanya karena El nggak nemuin dia ditaman Mam. Aranya El mana?" Dia menatap Fany dengan mata memerah juga embun yang siap jatuh jika berkedip.


"Mungkin ini yang terbaik buat kalian Nak, mami nggak bisa cegah Deon dan Kirana untuk membawa putrinya pergi."