
Suara keributan dari para anggota Avegas tidak membuat Samuel terusik sama sekali. Laki-laki yang sedang memasang headset ditelinganya tersebut sibuk memejamkan mata di sofa panjang.
Pikiran Samuel kini benar-benar kacau setelah kejadian pulang sekolah tadi. Dia tidak habis pikir bisa bertingkah ceroboh hanya karena tidak suka melihat kedekatan Edgar dan Ara.
Sejak keluar dari kelas, perhatian Samuel tidak teralihkan dari keduanya. Mulai dari Ara yang mengenggam tangan Edgar. Ara dibantu merapikan rambutnya dengan jepit rambut yang dia berikan tadi.
"Sialan!" bentak Samuel tanpa sadar, membuat inti Avegas yang ada di sana langsung menoleh, padahal mereka sedang asik meledek satu sama lain.
"Napa lagi lo?" tanya Keenan.
Samuel tidak menjawab, dia meletakkan headset di atas meja kemudian menyambar kunci motornya.
"Mau kemana?" teriak Rayhan.
"Rumah sakit!" sahut Samuel.
Laki-laki itu langsung saja naik ke motornya dan melajukan di atas kecepatan rata-rata dalam kondisi hati tidak baik-baik saja.
Samuel baru teringat Ara dan Edgar akan kerumah sakit pulang sekolah nanti. Dia memarkirkan motornya dengan aman dan berjalan di lobi rumah sakit.
Melihat Edgar dan Ara berjalan beriringan keluar dari lift, Samuel langsung saja berbelok ke arah kanan menapaki anak tangga hingga sampai di lantai 4, di mana Azka sedang dirawat.
Dia membuka pintu dengan kasar, lalu berjalan menuju jendela yang langsung mengarah pada parkiran. Terlihat Edgar sedang memasangkan helm di kepala Ara, dan itu membuat Samuel semakin uring-uringan dibuatnya.
"Ngintip mulu, samperin terus minta maaf nggak bisa?" celetuk Azka ikut memperhatikan dua remaja yang sedang berada diparkiran.
Memang Samuel sudah berada di ruangan Azka, bukan untuk menjenguk melainkan mengintip tunangannya sendiri.
"Tapi emang sih, perlu sebuah kehilangan untuk tahu arti dari keberadaan," lanjut Azka. Laki-laki itu berjalan menuju sofa. Sebelah tangannya memegang tiang infus. Ya semandiri itulah Azka jika sedang sakit, terlebih gadis yang dia cintai acuh padanya sekarang. Bisa dibilang, nasibnya dan Samuel sekarang satu sama.
"Gengsi lo terlalu gede El. Gue yang nurunin aja belum dapat maaf."
"Gue malu, Ka." Akhirnya Samuel bersuara, duduk di samping Azka.
"Nggak ada gunanya malu sama tunangan sendiri. Lagian Ara tuh kayak anak kecil, sekarang ingat besoknya lupa. Gue yakin sekarang Ara udah lupain semua yang pernah lo lakuin."
"Mungkin iya, tapi gue nggak."
"Dahlah, percuma gue ngasih saran, gue juga bodoh." Kesal Azka. Laki-laki itu memilih memainkan ponselnya, tidak lupa mengecek aplikasi hijau berharap seseorang menanyakan kabarnya.
"Gue harus apa?" tanya Samuel.
"Lo nanya? Lo bertanya-tanya ...."
Plak
Azka mengusap kepalanya yang baru saja mendapat gamparan dari Samuel, ini juga salahnya karena meledek kulkas seribu pintu.
"Anjir, keluar lo sana!" teriak Azka.
"Lo ngusir gue?" tanya Samuel.
"Nggak tahu diri lo?"
"Apasih nih dua kulkas, berdebat mulu."
Samuel dan Azka langsung melirik ke sumber suara dan mendapati sahabat-sahabatnya telah datang.
"Sesama kulkas dan bodoh ada baiknya nggak usah saling menyalahkan deh, buang-buang tenaga," celetuk Dito.
"Halah lo lebih bego kalah star," ledek Rayhan.
"Tau, katanya cinta tapi diam aja dengar Alana nikah," cibir Ricky.
"Diam lo laki-laki nggak punya harga diri! Dasar sukanya jadi selingkuhan!" ledek Azka dan Dito bersamaan.
"Udah deh, cuma gue yang waras di sini." Dengan bangga, Keenan berbaring di atas brangkar Azka, dan memejamkan matanya. Dia mulai pusing mendengar perdebatan tidak berfaedah dari para sahabatnya.
Rayhan berdiri dari duduknya dan menghampiri Keenan. Laki-laki playboy tersebut langsung memeluk Keenan sangat erat.
"Keen, kenapa secepat ini njir? Lo belum pacaran, bangun!" teriak Rayhan meraung seperti seseorang yang menangisi sahabatnya yang telah pergi.
"Anjir, gue ikutan!" teriak Ricky san Dito menghampiri Rayhan, ikut menangisi Keenan yang kini wajahnya sudah memerah menahan marah karena tingkah para sahabatnya.
"Gue belum mati njir! Goblok lo pada!"