Lost Love

Lost Love
Part 170 ~ Sakit dan Bahagia


Samuel terpaku di tempatnya sambil memperhatikan Ara yang sejak tadi bicara dengan gadis yang memanggilnya Bunda. Pria itu baru bergerak setelah menguasai rasa sesak di dadanya.


"Ara!" panggil Samuel berdiri tepat di belakang Ara, lantas Ara berdiri dan menatap Samuel.


"14 tahun berpisah, kuharap itu sudah cukup untuk menyelesaikan kisah kita yang memang dimulai karena keterpaksaan. Maaf kalau dulu aku terlalu kekanak-kanakan dan memaksa kehendak sendiri. Bukan kamu yang salah tapi aku yang terlalu berharap pada pria yang jelas-jelas tidak mencintaiku." Ara tersenyum pada Samuel, setelahnya membalik tubuh bersama gadis kecil yang sejak tadi memperhatikan Samuel.


"Apa dia benar putrimu? Apa gue nggak punya kesempatan lagi? Gue nunggu lo 14 tahun Ra, dan itu bukan waktu yang mudah!"


Ara menghiraurakan teriakan Samuel, terus saja melangkah bersama putri kecilnya memasuki mobil dimana Nani Asa berada.


"Bunda."


"Iya Sayang?"


"Om ganteng itu kenapa? Dia mirip banget sama seseorang."


"Hanya orang lewat, Sayang." Ara mengelus rambut Asa penuh kasih sayang sebelum melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan rumah sakit meninggalkan separuh jiwanya.


Setelah sampai dirumah, Ara hanya mengantar Asa ke kamar dan masuk ke kemarnya sendiri. Gadis itu merosotkan tubuhnya di balik pintu sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Luka yang diciptakan Samuel memang sudah lama dan mengering, tapi luka itu kembali basah setelah melihatnya hari ini.


Pertemuan sangat Ara nantikan, tapi pertemuannya tadi sungguh mengecewakan. Bukannya maaf yang dia terima, malah pertanyaan seolah menuduhlah yang Samuel layangkan untuknya.


"Apa aku salah berharap pada seseorang? Kenapa rasa ini engang pergi?" Ara mengusap air matanya kasar, memperhatikan foto di atas nakas.


Foto saat Samuel Wisuda yang dia dapatkan dari bundanya beberapa tahun yang lalu.


"Bunda?"


"Iya Sayang?" sahut Ara dari dalam kamar. Gadis itu lantas berdiri dan menghampiri nakas. Menyembunyikan foto Samuel di dalam laci ketika teringat perkataan Asa di mobil tadi.


"Asa butuh sesuatu?"


Asa mengelengkan kepalanya dan memeluk Ara yang berjongkok. "Asa sayang Bunda, jadi jangan nangis. Asa tadi dengar Bunda nangis."


"Bunda tidak apa-apa Nak. Bunda nggak nangis kok. Kan Bunda kuat kayak Asa."


"Ada apa nih kok peluk-pelukan?"


"Masa sih? Om Edgar bukan?"


Asa lagi-lagi mengelengkan kepalanya. "Bukan Oma, om nya ganteng banget."


"Ya sudah Asa ke kamar dulu, Oma mau bicara sama bunda."


Asa mengangguk patuh dan berlari ke kamarnya, saat itulah tatapan Kirana tertuju pada putrinya yang masih berlutut di ambang pintu.


"Siapa?"


"Samuel, Bunda."


"Lalu, gimana perasaan kamu saat ketemu lagi?"


"Sakit dan bahagia. Udah dulu ya Bun, Ara cape mau istirahat." Ara langsung menutup pintu kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Pertemuannya tadi terlalu tiba-tiba, untung saja Ara bisa menahan diri untuk tidak memeluk Samuel dan memohon seperti dulu lagi.


"Mari melangkah lebih jauh lagi," gumam Ara.


***


Karena pertemuan yang tidak pernah terpikirkan oleh Samuel sebelumnya, pria itu tidak bisa tidur meski jarum jam sudah menunjukkan angka 1 dini hari. Yang dilakukan Samuel hanya berguling kesana-kemari sambil memeluk Elara.


"Bunda?" Kalimat itu terus saja berluang kali keluar dari mulut Samuel.


Menolak untuk percaya bahwa penantiannya selama bertahun-tahun berujung sia-sia.


"Dia benar-benar telah berubah, bahkan tatapanyapun sudah berbeda. Tidak ada lagi panggilan istimewa untukku, tatapan cinta nggak ada dimatanya."


Tidak terasa air mata Samuel mengalir begitu saja membasahi bantal bersarungkan sprei warna abu-abu hitam.


Warna terang yang menemani kamar Samuel hanya Elara saja, selebihnya gelap.


"Mundur bukanlah keahlianku," gumam Samuel.


Pria itu tersenyum penuh makna, apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan Aranya kembali. Tapi sebelumnya, dia akan menyelidiki dulu dengan siapa Ara menikah dan dimana suaminya berada sekarang.