
Setelah menenangkan Samuel, Fany segera menyusul suaminya di dalam kamar. Wanita itu penasaran kenapa Daren tidak membiarkan Samuel bertemu dengan Ara, padahal biasanya tidak seperti itu.
"Kenapa kamu larang El ketemu Ara?" tanya Fany. Wanita itu duduk di sisi ranjang, sementara Daren setengah berbaring dengan ponsel di tangannya.
Pria paruh baya itu meletakkan ponselnya di atas nakas dan beralih meraih tangan Fany.
"Deon mutusin pertunangan secara tiba-tiba Fany, aku nggak tau harus ngomong apa sama Samuel. Putra kita ...."
"Nggak bercanda kan?" tanya Fany tidak ingin percaya dengan apa yang dia dengar.
Daren mengelengkan kepalanya. "Deon sendiri yang ngomong sama aku, entah apa kesalahan putra kita," lirih Daren.
Fany menghela nafas panjang, wanita itu sedikit tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi dia tidak menyangka Deon akan memutuskan petunangan sangat cepat.
"Aku akan telpon Rana dulu," ucap Fany dan berjalan menuju balkon.
***
Kirana yang mendengar ponselnya berdering segera turun dari ranjang secara perlahan karena takut membangungkan Ara yang baru saja menutup mata.
Mengetahui bahwa yang menelponnya adalah Fany, dia memutuskan untuk menjauh.
"Fany," lirih Kirana.
"Beneran kamu batalin pertunangan, Rana? Apa Ara sudah tau tentang ini?" tanya Fany di seberang telpon tanpa basa-basi.
"Benar, maaf kalau keputusan aku buat kamu kecewa Fany. Entah kamu tahu kesalahan Samuel atau nggak, tapi sebagai seorang ibu aku nggak rela kalau putriku disiksa dan diperlakukan tidak adil." Kirana diam-diam meneteskan air matanya.
Niat hati menyatukan anak-anak mereka agar persahabatan semakin erat, malah kekecewaanlah yang terjadi saat ini.
"Apa nggak ada kesempatan lagi untuk putraku? Dia telah berubah Rana, dia mencintai Ara."
"Kalaupun ada dari aku, sulit untuk meminta kesempatan pada Deon. Aku harap masalah ini tidak mempengaruhi persahabatan kita Fany."
"Perpisahan Ara dan Samuel ...."
"Kenapa Ara harus berpisah sama Abang?"
Kirana terkejut mendengar pertanyaan dari putrinya, tanpa sengaja wanita itu mematikan telpon kemudian berbalik menghadap Ara yang telah berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa Ara sama Abang harus pisah?" Ara kembali bertanya pada bundanya.
"Ara, sebaiknya kamu tidur ini sudah terlalu larut ...."
"Kenapa?!" bentak Ara dengan dada bergemuruh hebat.
"Karena ayah mau," jawab Deon yang baru saja datang. Pria itu berdiri di ambang pintu.
Ara langsung berbalik dan menghampiri ayahnya. "Ayah udah janji sama Ara nggak bakal misahin atau bawa Ara pergi kalau Abang bisa jagain Ara. Tapi kenapa ayah malah mutusin pertunangan Ara sama Abang?" Air mata Ara mengalir begitu saja, dia terus memukul dada ayahnya membabi buta karena sangat kecewa dengan keputusan yang Deon ambil.
"Ara nggak mau pisah sama Abang! Ara nggak mau ikut ...."
"Ara! Berhenti menjadi orang bodoh seperti ini!" bentak Deon kelepasan.
Pria itu menguncang tubuh kurus putrinya. "Apa belum cukup dia nyiksa kamu Nak? Dada ayah sakit tahu kalau selama ini kamu nggak diperlakukan dengan baik sama Samuel."
"Itu dulu Ayah, dulu! Sekarang Abang udah cinta sama Ara. Abang sayang dan baik sama Ara."
"Itu karena pacarnya susah meninggal! Apa dia bakal liat perjuangan kamu kalau pacarnya masih ada hah?" bentak Deon.
"Ayah cukup!" lerai Kirana tidak rela jika putrinya terus dibentak.
"Kali ini jangan halangi aku Rana. Mata Ara harus dibuka lebar-lebar agar tahu bahwa cinta nggak selamanya indah," sahut Deon.
"Selama ini kamu terluka karena dendam musuh Samuel yang ternyata kakaknya Sasa. Ayah tanya sekali lagi sama kamu, apa jika pacarnya hidup dia akan lihat kamu?"
Ara bergeming dalam pelukan bundanya, untuk yang satu ini dia tidak bisa menjawab dengan jelas, karena memang kenyataanya Samuel mulai baik padanya setelah Sasa meninggal.
"Samuel nggak cinta sama kamu Nak. Dia hanya mengisi kekosongan hatinya karena ditinggal orang yang dia cintai, dia mendekatimu hanya untuk pelampiasan."
"Nggak Ayah, abang benar-benar cinta sama Ara. Ara bisa buktiin kok. Ara bakal telpon abang dan ...."
"Jangan hubungi dia!" Rahang Deon mengeras, sangat geram karena putrinya terus membela laki-laki yang telah menyakiti batin dan fisiknya sendiri.
Langkah Deon mundur satu langkah saat Ara bersujud dan memegang kaki Deon. "Ara nggak tau darimana Ayah tahu semuanya dan apa yang Ayah ketahui, tapi Ara mohon beri abang kesempatan, Ayah. Ara cinta sama abang, Ara cuma bisa bahagia sama dia," mohon Ara memeluk kaki Deon.
"Waktumu besok sampai jam 8 malam, buktikan pada ayah kalau dia benar-benar mencintai kamu!"