Lost Love

Lost Love
Part 140 ~ Geng Wiltar


Bel istirahat tidak kunjung berbunyi, tapi suara teriakan dan deruman motor telah bersahut-sahutan memenuhi area sekolah.


Ara yang sejak tadi sibuk dengan bukunya segera berdiri hendak mengintip. Namun, baru saja akan berdiri lemparan batu berhasil menghancurkan kaca jendela tepat dua bangku dari kelas Ara.


"Aaaaaa!" teriak Ara menutup telinganya. Tubuhnya bergetar hebat melihat pecahan kaca itu.


Dapat dia lihat di luar sana banyak motor yang telah mengepung SMA Angkasa, belum lagi batu dan pecahan kaca ada di mana-mana.


Tubuh Ara melemas, tulang-tulangnya terasa lunak hingga dia terjatuh di atas lantai.


"Ara, ayo kita keluar! Guru bilang kita harus ...."


"Ara ng-ngak bisa, Abang nggak nyuruh Ara keluar," jawab Ara dengan suara bergetar. Menyentak tangannya dari teman kelas yang memanggilnya tadi.


Gadis imut itu memadangi semua siswa yang berlari tidak tentu arah, berbeda dengan dirinya yang masih menutup telinga karena katakutan.


"Abang tolongin Ara," lirih gadis imut itu.


Ara bersembunyi di bawah meja guru untuk melindungi dirinya dari lemparan batu dan pecahan kaca. Air mata tidak henti-hentinya mengalir di sana.


***


Inti Avegas segera berlarian keluar kelas ketika sekolah mereka diserang tiba-tiba oleh geng Wiltar, padahal akhir-akhir ini mereka sengaja tidak muncul dijalanan sebab tidak ingin mencari masalah menjelang ujian.


Samuel berlari paling depan, berdiri di depan pagar kedua. Tangannya terkepal hebat mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan Leo dan anggotanya pada Avegas.


"Banci lo semua! Avegas taik!"


"Sok kegantegan!"


Teriakan Leo berhasil menyulut emosi Samuel. Laki-laki wajah dingin itu hendak melangkah bersama Azka untuk menghentikan Leo, tapi tangannya di cegat oleh Alvi.


"Sebentar lagi polisi datang!" ucap Alvi tegas.


Samuel menyentak tangan Alvi kasar. Sejak awal dia sangat membenci pria di hadapannya karena telah berani merebut Alana dengan cara kotor.


"Gue nggak butuh ...."


"Turunkan emosimu itu!" tekan Alvi menahan tangan Samuel bersama Keenan agar tidak meledak.


Begitupun inti Avegas lainnya yang memegangi Azka.


"Gue nggak bisa terima anji*ng, mereka udah ngerendahin Avegas!" bentak Azka mendorong tubuh sahabatnya dan ingin menghajar Leo.


Sayangnya, polisi lebih dulu datang dan menenangkan kekacauan yang telah terjadi.


***


"Sialan!" maki Samuel masih tidak terima dengan penyerangan Wiltar. Tangannya terkepal hebat sampai urat-urat tangannya menonjol.


"Harus ada penyerangan balik!" ucap Samuel dan Azka serempak. Jika mereka sudah memutuskan maka Avegas tentu saja akan menyerang.


"Sana cariin pacar kalian!" perintah Dito ketika teringan Ara, Giani dan Salsa.


"Shittt!" Samuel mengumpat ketika baru mengingat Ara, terlebih kelas yang lebih banyak mendapat penyerangan adalah kelas Ara, karena kelas itu berada paling depan.


Samuel berlari secepat mungkin untuk mencari kekasihnya. Lagi dan lagi, emosinya selalu membuat dia melupakan segalanya termasuk Ara.


Dia mengatur nafasnya, menyusuri penjuru kelas Ara dengan manik tajamnya. Keringat mengucur cukup deras di tubuh Samuel hingga seragamnya basah.


"Ara?" panggil Samuel.


"Abang."


Samuel menghela nafas lega mendengar sahutan Ara. Dia segera menghampiri meja guru dan berjongkok. Menarik Ara kepelukannya.


"Maaf, harusnya gue nyariin lo tadi. Harusnya gue ada di samping lo pas ketakutan," bisik Samuel.


Dia dapat merasakan bagaimana takutnya Ara saat ini karena tubuh gadis imut itu bergetar hebat.


"Ar-ara takut Bang," lirih Ara mencengram seragam Samuel sangat kuat. "Ara takut ada yang culik Ara lagi. Ara takut ada yang mukul Abang."


"Sssttt, jangan takut, gue ada di sini." Samuel mengecup puncuk kepala Ara. "Kenapa nggak lari tadi hm? Semua siswa ada di aula Ra."


"Abang nggak nyuruh Ara keluar kelas tadi," jawab Ara.


"Syukurlah, seengaknya lo nggak terluka disini."


Samuel berdiri, tidak lupa membimbing Ara agar ikut berdiri.


"Masih lemas?" tanya Samuel dan dijawab anggukan oleh Ara.


Laki-laki dingin itu berjongkok dan menepuk punggungnya. "Ayo naik, kita pulang!"


"Pulang?"


"Hm, kita pulang cepat hari ini," jawab Samuel.


Dia berdiri setelah Ara berada di gendongannya. Tersenyum tipis ketika benda kenyal menyentuh pipinya.


"Jangan nakal!"


...****************...


Beberapa hari terakhir otor selow up karena ada urusan. Semoga hari ini dan seterusnya bisa konsisten lagi😍