Lost Love

Lost Love
Part 22 - Ara punya Hati


"Kenapa diam aja? Iya atau nggak?" tanya Sasa dengan pacaran mata kekecewaan, apa lagi sejak tadi Samuel diam saja.


"Nggak!" jawab Samuel. "Ca, lo udah janji bakal percaya sama gue doang, jadi ...."


"Bohong kan? Aku liat postingan dia pakai cincin."


"Caca!" Samuel hendak meraih tangan Sasa, namun gadis cantik itu menepisnya kasar.


"Dia tunangan kamu kayak yang dijelasin abang kan?"


"Bukan!"


"Sudahlah aku mau pulang."


Sasa berjalan meninggalkan Samuel di ujung dermaga, semakin lama langkah gadis cantik itu semakin cepat karena tidak ingin Samuel meraih tangannya.


"Caca awas!" teriak Samuel ketika melihat motor melintas dengan kecepatan tinggi.


Brugh


***


Ara duduk di balok kamarnya menikmati angin malam yang sangat dingin. Senyuman gadis itu pudar setelah berbalas pesan dengan Sasa.


Dia tidak pernah menyangka Samuel benar-benar pacaran dengan Sasa. Dia menundukkan kepalanya.


"Ara lebih cantik, Ara nggak boleh nyerah," guman Ara memilin kaki bajunya untuk menenangkan diri sendiri. Gadis imut itu takut kehilangan Samuel.


Kepala Ara yang sempat menunduk langsung mendongak ketika mendengar suara motor memasuki halaman rumahnya. Senyuman gadis imut itu seketika mengembang melihat siapa yang datang.


Tanpa pikir panjang, Ara berlari keluar kamar untuk menghampiri Samuel yang baru saja datang. Dia membuka pintu lebar-lebar.


"Abang tau aja Ara kangen." Gadis imut itu merentangkan tangannya dan hendak memeluk Samuel. Namun, tubuhnya sedikit terpental karena dorongan kasar Samuel.


"Lo gila hah!" bentak Samuel dengan tatapan tajamnya.


Laki-laki wajah dingin itu seperti ingin menelan Ara hidup-hidup.


"Abang Ara ...."


"Lo tuh benalu dalam hidup gue! Karena lo hidup gue berantakan, puas lo sekarang!" Suara Samuel semakin tinggi, tangan laki-laki wajah dingin itu terkapal kuat.


"Bodoh!"


Ara tersentak, dia menundukkan kepalanya karena takut pada kemaran Samuel.


"Puas lo sekarang, hm?" Kepala yang semula tertunduk kini mendongak karena rahangnya di cengkram dangat kuat oleh Samuel.


"Tujuan lo apa ngasih tau Caca tentang buhungan kita, hm? Lo tau sekarang pacar gue ada di rumah sakit karena kecerobohan lo itu!"


Kepala Ara tertoleh ke samping karena Samuel menghempaskannya kasar. Gadis itu mendongak dengan air mata berderai. Untuk pertama kalinya dia menangis di hadapan Samuel.


"Kata Kak Keen dan kak Ray, Ara nggak punya hati karena nggak pernah sedih," lirih Ara. "Awalnya Ara ngira juga gitu." Dia terisak, menghapus air matanya kasar.


"Tapi ternyata Ara punya hati, buktinya Ara sedih dengar Abang punya Pacar. Ara sedih kalau Abang cuma sayang sama Sasa, padahal Ara tuangan Abang. Abang milik Ara, kenapa sayangnya sama orang lain?" lirih Ara sesegukan.


"Ara juga kesakitan karena Abang, tangan sama rahang Ara sakit tapi Abang nggak pernah peduli. Hati Ara sakit Abang cuma mentingin Sasa."


"Ara hubungi Sasa cuma mau ngasih tau kalau aja Sasa nggak tau kalau Ara tunangan ...."


"Bacot lo!" sentak Samuel ketika Ara akan mengenggam tangannya.


Laki-laki wajah dingin itu langsung pergi dari lingkungan rumah Ara. Samuel paling tidak bisa jika melihat seorang perempuan menangis. Dia melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata kembali kerumah sakit untuk menemui pacarnya.


Untung saja luka Sasa tidak terlalu parah, hanya goresan di lengan juga luka kecil di bagian kening. Entah jika sesuatu yang buruk menimpa Sasa, bagaimana nasib Ara.


Samuel membuka pintu ruang rawat Sasa dan duduk di samping brangkar. Namun, gadis yang dijenguk malah merubah posisi tidurnya membelakangi Samuel.


"Kenapa kesini? Sana pergi sama tunangan kamu!" usir Sasa.


"Ca, gue sama Ara nggak punya hubungan apa-apa, dia cuma sepupu gue nggak lebih," bohong Samuel.


"Aku nggak percaya."


"Besok gue bawa lo ketemu sama dia, biar dia sendiri yang ngomong sama lo."


"Beneran?" Sasa merubah posisinya menghadap Samuel.


"Hm."


"Kalau dia bukan sepupu kamu, kita putus!"