Lost Love

Lost Love
Part 105 ~ Saling menguatkan


Menghembuskan nafas berkali-kali Samuel lakukan sebelum beranjak dari duduknya. Sejak tadi laki-laki wajah dingin itu berada di balik pintu hanya untuk memastikan apa Ara sudah sadar apa belum.


Tapi yang dia dengar malah hal-hal yang semakin membuat dirinya merasa bersalah dan emosi.


Samuel memasang helmnya kemudian melajukan motor sport hitam merah itu membelah padatnya jalan raya menuju sekolah SMA Angkasa.


Mungkin raga Samuel berada di SMA Angkasa tapi tidak dengan pikirannya sendiri, apalagi setelah mendengar teriakan Daren semalam.


Bagaimana jika Ara pergi darinya?


"El, lo udah dengar ...."


Belum juga Samuel turun dari motornya yang baru saja berhenti, laki-laki itu kembali melajukan meninggalkan sekolah.


Memikirkan orang tua Ara akan kembali membuat Samuel takut Aranya akan pergi tanpa berpamitan lebih dulu.


Memarkirkan motor asal, dia berlari di koridor rumah sakit menuju ruang rawat sang kekasih. Membuka pintu kasar kemudian langsung memeluk tubuh yang tengah duduk di atas brangkar.


"Maafin gue Ra," lirih Samuel memeluk Ara sangat serat.


"A-abang salah apa sama Ara?" tanya gadis imut yang terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Samuel.


"Intinya gue minta sama lo!"


"Ara udah maafin Abang kok."


"Jangan tinggalin gue!"


Ara mengelengkan kepalanya. "Ara nggak bakal ninggalin Abang," lirih Ara menahan tangisnya. Mendengar Samuel yang menahannya agar tidak pergi membuat Ara teringat dengan perintah Sagara semalam.


"Tapi Ara takut kalau terus bertahan ...."


"Gue mohon ...." lirih Samuel tanpa ada niatan melepaskan dekapannya.


"Abang bisa jagain Ara?"


"Gue janji Ra."


"Abang bisa jamin Ara nggak ketemu kak Saga lagi? Ara nggak mau hamil anak kak Saga, Ara nggak suka sama dia. Ara takut."


"Abang, Kak Sagara nampar Ara keras banget. Dia cium bibir Ara sampai berdarah. Setiap Ara nutup mata bayangan kak Saga nyiksa Ara muncul terus." Menceritakan semua apa yang dia rasakan pada Samuel membuat ada kelegaan sendiri di hati Ara.


Sepanjang bercerita, air mata ikut mengalir membasahi seragam putih Samuel.


"Nggak!"


"Tapi baju sama leher Ara basah Abang."


"Gue nggak nangis Ara!" jawab Samuel sekali lagi. Melerai pelukannya dan memalingkan wajah ke arah lain.


"Ara ngantuk tapi takut pejamin mata," ucap Ara meraih tangan Samuel untuk dia genggam. "Ara boleh peluk sambil tidur?"


Samuel terdiam tanpa ingin menatap Ara, dia yakin kini matanya tengah memerah dan jika menatap Ara tentu saja gadis itu tahu bahwa dia baru saja menangis.


"Abang?"


"Boleh," jawab Samuel.


Samuel langsung melepas kemeja sekolah di tubuhnya kemudian melempar ke sembarang arah. Naik ke atas brangkar dan memeluk Ara agar bisa tidur dengan damai tanpa mengingat kejadian malam itu lagi.


"Tidurlah!"


"Kalau Ara tidur jangan pergi, mami sama papi lagi jemput Ayah-bunda."


"Nggak."


Ara menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk memejamkan mata. Berharap tidak ada lagi bayangan Sagara di pikirannya. Namun, mata indah itu kembali terbuka sebab terganggu.


"Masih ada," lirih Ara.


"Gue nggak bakal buat lo dalam bahaya Ra. Bawa gue kedalam pikiran lo. Lo liat gue mukul Sagara?"


Ara menganggukkan kepalanya. "Maka pikirkan itu saja, pikirkan kalau gue ada di sana dan bunuh Sagara buat lo," bisik Samuel mendekatkan bibirnya di telinga Ara.


Samuel menghela nafas melihat Ara kembali memejamkan matanya, kali ini lebih lama dari yang pertama. Dengan lancang, dia mendaratkan bibirnya di kening Ara kemudian ikut memejamkan mata. Terlebih dia belum tidur sejak semalam karena mengurus hal yang dia kacaukan bersama inti Avegas yang lainnya.


Untung saja nama mereka tidak ada dalam daftar pengunjung di tempat terlarang yang berada jauh dari pemukiman warga.


Memang semalam, Sagara membawa Ara ke kelab malam dan ternyata polisi sedang memantau tempat tersebut. Berhasil meloloskan diri membuat Avegas tidak terlibat apapun di dalamnya.


Yang mereka tunggu hanya kabar tentang Sagara apa masih hidup atau tidak.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.