
Samuel diam-diam memperhatikan kedua orang tuanya yang tampak canggung pagi ini di meja makan. Tapi dia tidak kunjung membuka suara sebab tidak suka bicara di meja makan.
Setelah menghabiskan sarapannya, dia berdiri dan meraih tangan maminya.
"El berangkat dulu," ucapnya mencium punggung tangan Fany.
"El?" panggil Fany dengan suara lembutnya.
"Kenapa mam?"
"Semangat ya Nak ujiannya, jangan banyak pikiran apalagi stres." Fany menepuk pundak kekar Samuel.
Sementara laki-laki itu hanya menjawab dengan gumaman dan segera meninggalkan Mansion. Sebenarnya suasana hati Samuel pagi ini tidak terlalu baik, terlebih ponsel Ara sejak semalam sampai pagi ini belum aktif juga.
"Aku bakal mampir setelah pulang sekolah," gumam Samuel. Dia mulai melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar bisa sampai dengan cepat ke sekolah.
Karena sesi yang berbeda dengan inti Avegas, Samuel jarang sekali bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Terlebih setelah kepergian Azka, Samuel hanya bergabung jika urusan penting saja.
Sampai sekarang Samuel tidak ingin percaya bahwa sahabatnya sejak kecil telah pergi meninggalkan luka dan banyak teka-teki dalam hidupnya.
Langkah Samuel berhenti ketika ponselnya berdering, dia mengernyit heran melihat panggilan dari bunda Ara.
"Semoga bukan kabar buruk," gumam Samuel.
***
"Bunda!" panggil Ara menghampiri bundanya setelah memastikan ayahnya telah pergi beberapa menit yang lalu.
Kirana membalik tubuhnya untuk menatap Ara yang seperti ragu mengatakan sesuatu. "Kenapa, Nak?" tanya Kirana penuh senyuman.
"Ara boleh pinjam ponsel Bunda buat telpon abang? Ara cuma mau cerita sebentar. Ara nggak mau pergi gitu aja tanpa penjelasan sama abang," lirih Ara dengan wajah cemberutnya.
"Boleh, tapi jangan lama-lama nanti ayah marah," sahut Kirana.
Meski berat hati, wanita itu memberikan ponselnya pada Ara. Mungkin Kirana kini telah membenci Samuel, tapi dia masih peduli dengan kebahagian putrinya.
"Bunda simpan kontak abang pakai nama apa? Ara nggak hafal nomor abang."
"Bunda lupa Nak, mendingan kamu telpon mami Fany buat minta," saran Kirana.
Ara menganggukkan kepalanya dan segera berjalan menuju kamar membawa ponsel bundanya. Sementara ponselnya sendiri telah rusak dan ada ditangan Deon.
Ara langsung menghubungi Fany tanpa membuang waktu lagi.
"A-ara, putri mami benar-benar mau pergi?" Suara Fany terdengar serak.
Ara terdiam, matanya mulai berkaca-kaca jika mengingat dia benar-benar akan pergi dan berpisah dari orang-orang yang telah menyanginya.
"Ar-ara nggak pergi kok Mam, Arakan sayang sama abang. Oh iya Ara boleh minta kontak abang? Ara pengen cerita tapi nggak hafal nomornya."
"Boleh banget Sayang, tunggu ya mami kirim."
Ara menganggukkan kepalanya padahal Fany tidak akan melihat hal itu. Setelah sambungan telpon terputus dan sudah mendapatkan kontak Samuel, Ara langsung saja menelpon kekasihnya.
"Abang?" lirih Ara dengan suara seraknya. Belum cerita saja air matanya telah mengalir begitu saja.
"Ra, lo nangis? Suara lo serak gitu. Lo sakit?" Samuel langsung mencecar Ara dengan pertanyaan. "Kenapa ponsel lo nggak aktif dan pakai ponsel tante Kirana?"
"Hp Ara rusak karena jatuh dari balkon kamar Bang. Ara mau ketemu sama Abang, boleh nggak?"
"Boleh dong, mau ketemu dimana? Atau gue jemput setelah pulang sekolah?"
"Ja-jangan jemput Ara, kita ketemu di taman dekat kompleks Ara aja gimana? Ara tunggu di sana. Ara mau ngomong sesuatu yang penting banget sama Abang jadi harus datang ya!"
"Pasti, gue bakal datang nemuin lo. Udah dulu ya Ra, gue mau masuk ruangan ujian dulu."
"Iya," lirih Ara.
Gadis imut itu kembali ke dapur untuk menyerahkan ponsel bundanya.
"Sudah?"
"Udah Bunda, Ara mau mandi dulu," gumam Ara dan pergi dari hadapan bundanya.
Gadis imut itu diam-diam mengusap air matanya dan mulai terisak.
"Ara nggak mau pisah sama abang, tapi kenapa pertanyaan ayah nggak bisa Ara jawab?" gumam Ara.
Gadis imut itu memeluk Elara sangat erat. "Kalau Ara pergi nanti, Elara temenin abang ya!" pintanya pada boneka pemberian Samuel saat pertama kali mereka baikan.
Sekarang Ara tidak ada pilihan selain ikut orang tuanya pergi. Namun, Ara punya alasan untuk tinggal jika mendapat jawaban atas pertanyaanya pada Samuel nanti.
Bisa dikatakan jawaban Samuel adalah penentu hubungan mereka.
"Apa kalau Sasa hidup abang bakal liat perjuangan Ara?"