Lost Love

Lost Love
Part 133 ~ Tidak lagi istimewah


Ara mengigit bibir bawahnya seraya menatap benda pipih yang masih dia genggam. Benarkah apa yang dikatakan Samuel tadi? Atau dia salah dengar karena terlalu mengharapkannya?


"Abang beneran suka sama Ara?" gumamnya.


Gadis imut itu kembali mendial kontak sang kekasih. Berniat untuk menghubunginya demi memperjelas sesuatu. Namun, panggilan yang dia lakukan sama sekali tidak dijawab di seberang telpon.


Ara beralih memegang dadanya. "Kenapa jantung Ara cuma gini? Ara senang tapi rasanya aneh," gumannya ketika merasai jantung yang sudah tidak lagi berdetak sangat hebat.


Seperti biasa saja.


Ara menoleh ketika mendengar decitan pintu kamar.


"Ada yang nyariin tuh dibawah," ucap Kirana.


"Nyariin Ara Bunda?" Tunjuknya pada diri sendiri dan dibalas anggukan oleh bundanya.


Langsung saja Ara mengikuti langkah bundanya keluar dari kamar. Tepat di anak tangga senyumnya mengembang melihat siapa yang datang bertamu malam-malam seperti ini kerumahnya.


"Abang!" teriak Ara berlari dan langsung memeluk Samuel tanpa memperdulikan ayah maupun bundanya.


"Tadi Ara telpon, Abang nggak angkat. Ara mau nanya sesuatu sama Abang," ucapnya setelah pelukan terlepas.


"Om-Tante, El bawa Ara jalan-jalan dulu," izin Samuel.


"Hati-hati Nak, pakai mobil ayah aja nanti hujan," ucap Deon ketika melihat cuaca yang tidak bersahabat.


"El bawa mobil kok om, bukan motor," sahut Samuel.


"Ah kirain motor. Ya sudah jangan terlalu malam pulangnya." Deon menepuk pundak Samuel dengan kepercayaan penuh.


"Kita jalan? Ara dan Abang?" tanya Ara memastikan dan dijawab anggukan oleh Samuel.


"Yey Ara jalan-jalan." Ara melompat seperti anak kecil. "Ara ke kamar dulu Abang, Ayah!" Gadis imut itu segera berlari ke kamarnya untuk mengganti piyama dengan setelan sederhana.


Tentu saja Ara memakai pakaian yang lumayan tertutup agar Samuel tidak marah dan jutek-jutek padanya.


Gadis imut itu mengamit lengan Samuel setelah kembali keruang tamu. Mengecup tangan kedua orang tuanya sebelum pergi.


"Abang?" panggil Ara dengan suara lirih kerena wajah Samuel begitu dekat dengan bibirnya sebab laki-laki dingin itu tengah memasangkan sabuk pengaman.


"Kenapa?" Samuel melirik.


"Abang suka sama Ara?" tanyanya setelah Samuel mulai melajukan mobil perlahan-lahan meninggalkan pekarangan rumah.


"Napa memangnya?"


"Benar."


"Abang suka sama Ara?" Mata Ara berbinar bahagia meski jantungnya biasa-biasa saja. Akhir-akhir ini setelah dibawa rumah sakit dan diberi obat oleh dokter baru yang menanganinya. Hati dan pikiran Ara sering kali tidak sejalan.


"Aneh, kenapa sih lo pengen tau gue suka atau nggak?"


"Karena kalau Abang suka sama Ara. Ara nggak perlu takut Abang suka sama perempuan lain. Ara jadi punya harapan buat bertahan karena Abang udah cinta sama Ara," jawabnya penuh senyuman berhasil mengalihkan perhatian Samuel yang sejak tadi bicara tanpa melirik sedikitpun.


Ara mengercap-erjapkan matanya perlahan ketika Samuel langsung mengenggam tangannnya padahal tengah menyetir.


"Gue suka, sayang dan cinta sama lo. Jadi apapun yang terjadi lo nggak boleh nyerah apalagi pergi dari hidup gue!" ucap Samuel terlihat sangat tenang, berbeda dengan jantungnya yang ingin melompat keluar sakin kencangnya detakan yang terjadi.


Tidak ada yang tahu bahwa kalimat yang Samuel keluarkan membutuhkan beberapa hari latihan bicara sendiri.


"Ara nggak bakal ninggalin Abang," sahut Ara menyandarkan kepalanya di lengan Samuel seraya memainkan jari-jari tangan kekasihnya yang terasa dingin.


Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah setelah mobil berhenti di tempat yang penuh akan keramaian.


"Abang ...."


"Respon lo gitu aja tau gue suka?" tanya Samuel yang sejak tadi menunggu respon berlebihan Ara. Misalnya memeluk, atau mencium seperti yang sering gadis imut itu lakukan jika sedang bahagia.


"Ara harus respon gimana Abang? Ara senang dengar Abang suka sama Ara tapi ...."


"Tapi?"


"Ara juga bingung sama perasaan ara sendiri." Gadis imut itu menatap mata tajam Samuel yang fokus padanya. "Ara selalu merasa lelah sama diri sendiri tanpa tahu apa penyebabnya Bang. Ara tiba-tiba bisa nangis dan senang dalam waktu dekat."


"Abang tau?"


"Apa?" tanya Samuel semakin erat mengenggam tangan Ara.


"Dulu Ara mudah lupain sesuatu mau bahagia atau sedih, tapi satu minggu ini semua yang pernah Ara lupain muncul terus di pikiran Ara sampai buat Ara nangis dan dada Ara sesak."


"Ra, lo bercanda kan?" tanya Samuel memastikan dan dijawab gelengan oleh Ara.


Tanpa membuang waktu, Samuel langsung menarik Ara kepelukannya. "Plis jangan ngomong lelah Ra, gue takut. Mulai detik ini gue bakal ciptain momen yang hanya buat lo bahagia biar dada lo nggak sesak karena rasa sakit," lirih Samuel.


...****************...


Tebar kembang dan kopi sebanyak-banyaknyak. Tentu sertakan like dan komen😍