Lost Love

Lost Love
Part 180 ~ Mendekati Asa


Dua hari telah berlalu sejak Samuel dirawat di rumah sakit, saat itu pula tidak sekalipun Ara menjenguk pria tersebut karena sangat kesal. Bukannya mendapat perhatian lebih, Ara malah mengomel tanpa henti dan meninggalkan Samuel di ruang perawatan.


Hari ini, tepatnya di sore hari dengan langit mendung juga cuaca sangat dingin, Samuel sedang berbaring di kursi santai balkon kamarnya sambil menghadap langit. Menunggu detik-detik hujan akan turun.


Ekspresi Samuel sering kali berubah-ubah karena suasana hatinya. Terlebih ketika mengingat pembicaraanya pagi tadi bersama papi juga maminya.


"Karena kamu belum juga menikah padahal sudah berusia 30 tahun, papi dan mami akan menjodohkanmu dengan rekan kerja papi!"


Samuel menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Pria itu hanya mengiginkan Ara, bukan orang lain. Tapi kenapa kedua orang tuanya tidak mengerti?


Samuel hanya punya waktu tiga hari untuk menolak perjodohan dengan cara membawa calon istrinya ke mansion. Namun, bagaimana caranya pria itu membawa Ara? Si gadis keras kepala yang sayangnya semakin sudah diatur.


"Bodoh amat!" Samuel beranjak dari duduknya. Menyambar kunci mobil juga jaket untuk berjaga-jaga kalau saja hujan deras.


Pria itu memandangi perban di lengannya, memukul sekeras mungkin agar lukanya kembali terbuka dan mengeluarkan darah segar.


"Lebih estetik," gumam Samuel dengan senyum simpulnya.


Pria itu terus berjalan menapaki anak tangga dengan jaket berada di pundak.


"Tangan kamu berdarah lagi Nak!" Cegat Fany di ruang keluarga.


"Kejedot pintu tadi, El pergi dulu." Meraih tangan Fany lalu mengecupnya, kemudian pergi tanpa memberi tahu akan kemana.


Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dengan sebelah tangan, sebab satunya lagi terasa perih dan pegal. Dia singgah di beberapa toko mainan sebelum berkunjung ke rumah seorang gadis.


Menginjak pedal rem secara dadakan ketika sampai di depan pagar.


"Maaf, dirumah tidak ada orang selain neng Asa," ucap penjaga.


"Buka!"


"Tapi."


"Kalau nggak saya tabrak pintunya!"


Sang penjaga menghela nafas panjang, membuka pagar lebar-lebar agar tidak dirusak oleh pria gila seperti Samuel.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Samuel lantas melajukan mobilnya perlahan dan berhenti tepat di depan rumah. Atensi pria itu langsung teralihkan pada gadis kecil berusia 4 tahun yang sedang bermain sendirian.


Samuel menghampiri gadis tersebut, ikut berjongkok membuat Asa menoleh.


"Om siapa?"


"Calon ayah kamu." Tersenyum tipis.


"Ayah Asa?" Mengerjapkan matanya lucu, membuat Samuel sangat ingin menciumnya.


Pria itu mengulurkan tangan. "Nama Om Samuel, bisa dipanggil ayah El."


"Nama aku Asa, bunda sering panggil sayang atau cantik. Ayah El mau ketemu bunda?"


Samuel mengelengkan kepalanya. "Mau ketemu Asa, main bareng Asa."


"Yey Asa punya teman." Melompat sambil berteriak.


Samuel hendak bermain masak-masakan bersama Asa di halaman depan, tapi urung ketika gerimis mulai turun. Pria itu terkejut ketika tangannya ditarik oleh tangan mungil.


"Ayah El, ayo masuk! Bunda larang Asa basah-basahan." Berlari dengan Samuel mengikutinya.


Sementara Samuel tidak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah Asa yang sangat pintar di antara anak seusianya. Pria itu teringat akan masa kecilnya bersama Ara.


Asa persis seperti Ara dulu, cerewet dan sangat cerita. Tentu saja selalu mengikuti kemanapun Samuel pergi. Namun, sekarang gadisnya telah berbeda, Ara yang dulu benar-benar telah hilang.


"Bahkan gue merindukan lo yang dulu Ra. Apa adanya dan nurut sama gue, harusnya gue nggak lukain persaan lo. Maka perpisahan itu nggak mungkin terjadi.


"Ayah El kok diam?"


Samuel mengeleng. "Ayah lagi mikirin gimana caranya ngajak Asa pergi."


"Pergi?" Mengerjap lucu.


Samuel mengangguk. "Ayah kesini mau ngajak Asa ke suatu tempat. Cantik dan banyak binatang. Asa suka binatang?" Asa mengelengkan kepalanya.


"Asa takut sama buaya."


"Bukan buaya, tapi Harimau."


"Harimau?"


Lagi dan lagi Samuel menganggukkan kepalanya.


"Asa mau." Menganggukkan kepala cepat. "Asa mau telpon bunda dulu!"


Saat Asa akan menelpon Ara, Samuel lantas merebut ponsel tersebut dan memasukkan ke saku celananya.


"Ayah udah izin sama bunda, ayo!"


Asa bergeming sambil menatap Samuel. Gadis itu mengelengkan kepalanya. "Asa nggak mau ikut. Kalau mau pergi harus telpon bunda dulu!"


...****************...


Pagi sahabat bucin, otor bawa novel genre teen nih buat kalian. Kalian harus tau kalau novel ini tuh punya adek aku🤭, real ya bukan adek online lagi.


Otor bucin tunggu kehadiran kalian