
"Nggak bisa gini terus!" ujar Rayhan langsung bangkit dari duduknya.
Laki-laki itu sedang berada di markas bersama inti Avegas lainnya, minus Samuel dan Azka. Rayhan menatap satu persatu teman-temannya seperti memberikan isyarat.
Hebatnya, tiga laki-laki lainnya langsung mengangguk dan ikut berdiri seperti Rayhan.
"Lo benar Ray, udah cukup kita kehilangan Azka. Jangan ditambah El," imbuh Keenan.
Mereka mengira setelah memberi waktu Samuel untuk menenangkan diri sendiri, semuanya akan baik-baik saja. Namun, nyatanya tidak. Terbukti sudah hampir satu bulan ini Samuel tidak pernah lagi ngumpul bersama.
"Kuy!" teriak Dito.
Rayhan, Keenan dan Ricky mengangguk serempak dan segera meninggalkan markas. Keempat laki-laki itu mulai melajukan motor masing-masing membelah padatnya jalan raya menuju mansion.
Semoga saja setelah sampai mereka tidak diusir oleh pemilik manison. Bukan Fany ataupun Daren, melainkan Samuel sendiri.
Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka telah sampai di mansion. Rayhan lebih dulu turun dari motornya dan melangkah memasuki mansion yang terlihat sangat sepi. Mungkin karena terlalu luas, sementara penghuninya sibuk masing-masing.
"Tante," sapa Rayhan menunduk untuk mencium punggung tangan Fany yang dia temui saat akan menapaki anak tangga.
Ricky, Keenan dan Dito melakukan hal yang sama sepertinya Rayhan.
"Kalian mau ketemu Samuel? Dia ada dikamarnya, ayo temui teman kamu Nak. Ah iya, jangan masukkan di hati apapun yang Samuel katakan ya, sekarang dia ...."
"Kita ngerti kok Tan, makasih udah diizinin masuk," sahut Keenan mewakili yang lainnya.
Fany mengangguk dan segera meninggalkan teman-teman putranya yang mulai berlari menapaki anak tangga, bahkan saling berlomba agar sampai lebih cepat di depan kamar Samuel.
Keempat inti Avegas saling mendorong satu sama lain setelah berdiri di ambang pintu yang auranya sudah mencekam. Samuel dan Azka jika marah sungguh sangat menyeramkan.
"Lo aja deh!" perintah Dito berpindah tempat dibelakang Keenan, padahal dia yang lebih dulu sampai.
"Lo Ky!" imbuh Rayhan.
"Pak Wakil aja deh," sahut Ricky.
"Njir, tadi saling rebutan buat sampai cepat, giliran dah sampai dorong-dorongan," kesal Keenan. Laki-laki itu maju selangkah dan memutar handel pintu, baru saja setengahnya terbuka, suara benda membentur pintu terdengar cukup keras.
Bukanya pergi, Keenan malah membuka pintu lebar-lebar diikuti yang lainnya.
Benda kembali melayang di udara dan mendekati ke empat laki-laki yang baru memasuki kamar. Untung saja mereka sigap menunduk, hingga ponsel tersebut mendarat di dinding dan terjatuh ke lantai.
"Santai bro, mentang-mentang bayak duit lempar hp kek lempar batu njir!" celetuk Rayhan dengan kedua tangan berada di udara seperti tetangkap polisi.
"Pergi, gue nggak butuh kalian!" usir Samuel dengan wajah datarnya.
"Aelah baru juga datang udah diusir aja," celetuk Rayhan.
Hal itu membuat Rayhan mendapat senggolan dari Keenan. Seakan memperingatkan bahwa jangan banyak bicara di depan orang yang emosinya tidak stabil.
Di sisi lain, Samuel kembali membaringkan tubuhnya seperti posisi awal sebelum mendengar keributan dari balik pintu.
Sebenarnya Samuel juga ingin keluar dari rasa ketepurukan, sayangnya bayang-bayangan saat dia menyiksa Ara selalu datang kapan saja seperti hantu. Hal itu membuat Samuel semakin merasa bersalah karena telah memperlakukan Ara buruk dulu.
"Lo terpuruk karena apa?" tanya Keenan akhirnya setelah lama terdiam.
Sungguh, Keenan sudah lelah dengan keadaan Avegas yang berada di ambang kehancuran karena mereka kini berpencar tidak tentu arah. Harusnya Avegas semakin kuat sebab Wiltar telah gugur dan Leo sebagai ketua telah dipenjara karena kasus pembunuhan.
"Kepergian Ara atau penyesalan?" tanya Keenan lagi, tapi Samuel hanya diam saja tidak ingin menjawab pertanyaan Keenan.
"Dilihat dari kondisi lo sekarang, kayaknya lo terpuruk karena penyesalan," lanjut Keenan lagi.
"Sok tau lo!"
Keenan tertawa hambar, dia melirik teman-temannya yang saling berdempetan di sofa ukuran satu orang.
Keenan mengerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, seakan bertanya.
Lanjut?
Rayhan, Ricky dan Dito yang mengerti segera menganggukkan kepalanya, terlebih yang paling waras di antara mereka memang cuma Keenan.