
Lusa adalah hari pernikahan ketua Avegas, hari dimana semua orang akan berbahagia. Tapi tidak dengan Ara yang kini dirawat di rumah sakit karena shok berat sebab kejadian beberapa jam yang lalu.
Samuel sejak tadi duduk di samping brangkar seraya mengenggam tangan Ara yang terus saja bergetar padahal tengah tertidur.
"Takut banget ya Ra?" lirih Samuel dengan tatapan terluka. Lagi dan lagi Ara sakit karena dirinya. Sekarang dia merasa bersalah sebab gagal menjadi pelindung untuk gadis baik seperti Ara.
"Maafin gue Ra, harusnya gue perhatiin ponsel tadi. Harusnya ponsel gue, cas terus penuh biar pas lo butuh gue selalu ada." Samuel menunduk untuk mengecup tangan mungil Ara.
Tidak terasa setetas air mata mengalir dari mata tajam Samuel membasahi tangan yang baru saja dia kecup.
Decitan pintu yang terdengar membuat Samuel buru-buru menghapus air matanya kemudian mendongak untuk memastikan siapa yang datang jam 4 dini hari.
"Mami?"
"Kenapa nggak ngabarin mami kalau Ara masuk rumah sakit!"
"El ...."
"Kamu berniat nyembunyiin ini dari mami hah? Kalau bukan Rayhan yang ngabarin mami nggak bakal tau kalau putri cantik mami terluka," lirih Fany di akhir kalimat.
Air mata Fany luruh begitu saja, mendekati brangkar di mana Ara sedang tidur. Bekas tamparan dan beberapa luka di wajah Ara membuat hati Fany teriris melihatnya.
"Kenapa bisa gini?"
"El nggak becus jaga Ara," sahut Samuel.
Bugh
Kepala Samuel tertoleh ke samping karena pukulan papinya sendiri. Melawan? Sepertinya Samuel tidak ada keberanian untuk saat ini, terlebih dirinya yang bersalah.
"Papi nyesal nyerahin tanggung jawab sama kamu!" geram Daren.
Samuel tidak menyahut, laki-laki wajah dingin itu memilih keluar dari ruang rawat Ara. Berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya yang tengah kacau.
Untung saja di saat-saat genting, Azka memaksanya untuk menggati baju agar tidak ada bukti kalau saja Sagara meninggal dan ditemukan oleh polisi.
Prang
Hanya sekali pukulan, kaca kamar mandi rumah sakit hancur lembur. Berjatuhan di atas watafel, bahkan ada yang menancap di tangan Samuel sendiri.
Tubuhnya bergetar hebat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. "Rasanya mati tanpa tersiksa nggak cukup buat lo Saga!" geram Samuel masih dengan emosi yang meluap-luap.
Sinar matahari mulai menyingsing memasuki ruang rawat inap seorang gadis yang membuat gadis imut itu mengerjap perlahan dan membuka matanya.
Objek pertanya yang Ara lihat adalah Mami Fany yang tertidur dengan kepala bertumpu di pinggir berangkar.
Ara terisak, air mata mengalir begitu saja memasahi bantal karena bayangan-bayangan dimana Sagara akan melecehkan dirinya terus berputar bagai film. Tangisannya berhasil membangungkan wanita paruh baya yang baru saja terlepap.
"Nak, kenapa nangis?" tanya Fany penuh kelembutan.
"Ara takut Mami," lirih Ara langsung menghambur kepelukan Fany. Terus menangis di dalam dekapan yang begitu terasa nyaman. "Ara mau ketemu bunda sama ayah," lanjutnya.
"Bunda sama ayah lagi diperjalanan, tunggu bentar lagi ya Nak. Bentar lagi mereka datang."
"Mami serius?"
"Iya Sayang." Fany menganggukkan kepalanya cepat.
"Abang?" tanya Ara lagi setelah melerai pelukannya.
"Abang baru aja berangkat sekolah. Mungkin pulang nanti Abang bakal jengukin Ara."
"Abang nggak marah sama Ara?"
"Kenapa harus marah Nak? Harusnya Ara yang marah sama Abang karena gagal jaga Ara sampai masuk rumah sakit." Fany tersenyum tulus, mengusap pipi Ara yang masih ada bekas tangan.
"Bukan salah abang, Ara yang nggak dengerin abang dan keluar rumah sendiri, padahal abang udah larang Ara."
"Meski sakit tetap aja ya, abangnya dibela." Fany mengusap kepala Ara gemas, hendak beranjak untuk ke kamar mandi, tapi tangannya malah ditarik oleh gadis imut itu.
"Jangan tinggalin Ara Mami. Gimana kalau kak Saga datang bawa Ara pergi lagi?"
"Saga?" Kening Fany mengerut. "Siapa dia Nak?" tanyanya.
"Orang yang culik Ara Mami. Kak Saga ngomong Ara harus ngandung anak dia biar Ara dijauhin sama abang," lirih Ara dengan air mata kembali mengalir, membuat seseorang yang sejak tadi berdiri di balik pintu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Gue nggak bakal ningglin lo apapun yang terjadi!"
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.