
Senyuman Ara mengembang sempurna melihat siapa yang membuka pintu ruang rawatnya. Laki-laki yang selalu membuatnya tersenyum itu mendekat seraya membawa boneka juga bunga dan memberikan padanya.
"Cepat sembuh Ra, maaf gue baru bisa jenguk," ucap Edgar duduk di samping brangkar setelah menyapa Bunda dan Ayah Ara yang duduk di sofa.
"Makasih Milo, Ara suka sama bunga dan bonekanya," cengir Ara memeluk boneka beruang ukuran sedang.
"Di sekolah ada beberapa tugas catatan sama matematika. Tenang aja nanti gue bantu setelah lo pulih." Lagi dan lagi Egdar mengembangkan senyumnya di depan Ara, padahal senyum itu hanya palsu sebab banyak pikiran yang bersarang di kepala Edgar.
Terlebih setelah ayahnya memberi surat cerai dan menyuruh mamanya yang terbaring dirumah sakit menandatangani, tapi sampai saat ini Edgar belum memberikan surat cerai itu pada mamanya.
"Milo ada masalah?" tanya Ara ketika lama menatap senyuman Edgar.
"Iya, masalahnya gue kesepian kalau lo nggak datang ke sekolah. Makanya cepat sembuh biar kita belajar bareng lagi," bohong Edgar dan dijawab anggukan oleh Ara.
Gadis imut itu beralih menatap ayah dan bundanya yang sejak tadi memperhatikan. "Ayah, bunda. Kenalin ini teman Ara, namanya Milo. Dia sering temenin Ara belajar di sekolah, dia baik banget," ucapnya memperkenalkan Edgar.
Sementara Edgar hanya bisa senyum kikuk karena merasa sedikit malu pada orang tua Ara.
"Makasih ya Nak udah jadi teman Ara, meski sedikit petakilan." Canda Kirana.
"Bisa aja tante," sahut Edgar.
Laki-laki itu refleks berdiri ketika melihat Ara bergerak hendak turun dari brangkar. Dia langsung memegang lengan Ara agar tidak terjatuh.
"Mau ke sofa? Biar gue bantu," ucap Edgar dan di jawab anggukan oleh Ara.
Baru saja Gadis imut itu dan Edgar akan duduk bergabung dengan orang tua Ara, pintu ruang rawat kembali dibuka dan menampilkan 5 laki-laki tampan dengan setelan jas menawan di tubuh masing-masing.
Tatapan salah satu dari mereka menghunus tajam ke arah tangan Edgar yang bertender di pinggang Ara. Dia adalah Samuel, mengepalkan tangannya erat-erat.
Hatinya terasa terbakar melihat itu, kalau saja tidak ada orang tua Ara. Dia sudah melayangkan pukulan pada Edgar yang telah berani menyentuh Aranya.
"Eh kalian, ayo duduk dulu. Tante senang banget kalian jengukin Ara lagi," sapa Kirana ramah karena sudah mengenal inti Avegas yang juga datang kemarin malam.
"Rapi banget El, darimana Nak?" tanya Deon ketika Samuel duduk di sampingnya.
"Dari nikahan teman Om," sahut Samuel tapi tatapannya masih tertuju pada Ara dan Edgar yang duduk berdampingan.
Rayhan yang menyadari hal tersebut mendekatkan diri dan berbisik di telinga Samuel. "Salah satu bentuk latihan caran menahan emosi," bisiknya.
"Kenapa lo?" tanya Dito.
"Tau, mentang-mentang rumah sakit jadi pura-pura cidera," celetuk Ricky. Sama sekali tidak ada yang peduli dengan kondisi Rayhan, sungguh kejam.
"Kalian dari nikahan kak Salsa sama Azka? Ara juga pengen tapi nggak dibarin sama bunda," cemberut Ara.
"Hooh Ra, tapi nggak usah sedih. Tadi cuma nikahan aja, kita acara makan-makan dirumah baru Azka dan Salsa malam minggu nanti," sahut Rayhan mengacungkan jempolnya pada Ara.
"Serius kak?"
"Hm, dua rius dedek gemes."
***
Sepeninggalan inti Avegas, Edgar dan orang tua Ara yang ada urusan mendadak, membuat Samuel dengan leluasa mendekati Ara.
Laki-laki wajah dingin itu berpindah tempat untuk duduk di samping sang kekasih. Pura-pura meregangkan otot-ototnya dan merentangkan tangan tepat di belakang punggung Ara yang tengah fokus memakan buah di atas meja seraya memeluk boneka beruang.
"Nggak mau sandar?" tanya Samuel.
Ara langsung menghentikan kunyahannya dan menatap Samuel. "Ara nggak pegal, Abang mau makan buah?" tanya Ara balik dan dijawab anggukan oleh Samuel.
Dengan segera Ara mengambil potongan buah menggunakan garpu dan mengarahkan ke mulut tunangannya.
"Mau lagi?"
"Boneka dari siapa?" tanya balik Samuel tanpa ingin menjawab pertanyaan Ara. Laki-laki dingin itu baru sadar bahwa boneka yang berada di pelukan Ara masih baru.
"Dari Milo."
Uhuk
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.