Lost Love

Lost Love
Part 162 ~ Ara benci Abang


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan hari-hari tanpa Ara di hidup Samuel, membuat laki-laki dingin itu bagai taman tanpa bunga.


Mungkin dulu orang-orang masih bisa melihat senyuman tipis Samuel, tapi kini senyuman itu benar-benar hilang bersama kepergian Ara. Jangankan pada orang lain, tersenyum pada omanya sendiripun Samuel engang melakukannya.


Satu minggu yang lalu adalah hari kelulusan mereka, Samuel dan Avegas telah menyelesaikan masalah yang telah terjadi dalam geng motor yang sudah dia jadikan rumah kedua.


Pembunuh Azka telah berhasil dimasukkan ke dalam penjara, juga sudah mengantar ibu ketua mereka ke kantor polisi bertemu Leo. Laki-laki yang telah menyebabkan Azka dan ayah Salsa meninggalkan dunia.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini Nak?" tanya Fany menghampiri putranya yang berbaring di atas ranjang tanpa melakukan apapun.


Hanya memandangi lagit-langit kamar sambil memeluk Elara, juga sesekali melirik dua cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Sayang, kamu tidak rindu sama teman-teman kamu yang lain hm? Sebentar lagi pendaftaran mahasiswa baru, dibuka. Kamu mau kuliah di mana?" tanya Fany lagi, tapi Samuel urung menjawab.


Ini sudah terjadi sejak kepergian Ara. Meski tidak mengamuk seperti orang gila, tapi Samuel berdiam diri seperti orang bisu.


Fany menghela nafas panjang, wanita paruh baya itu hampir putus asa dengan sikap putranya. Fany juga telah membujuk Daren saat tahu suaminya mengetahui keberadaan Ara, tapi Daren engang memberitahukan.


"Setidaknya sentuh ponsel kamu Nak!" pinta Fany.


Samuel mengelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Samuel menyentuh ponselnya, sedangkan di dalam sana terdapat banyak kenangannya bersama Ara.


Bahkan melihat layar ponselnya saja Samuel egang. Bagaimana tidak, di sana ada foto Ara yang sedang tertidur di kelas.


Pesan? Samuel telah membaca semuanya, itu yang membuat Samuel sangat terpukul. Juga mengerti kenapa Ara memilih meninggalkan dirinya.


"El pengen sendiri!" ujar Samuel.


"Sampai kapan Nak?"


"Sampai Samuel bisa menata hati dan menerima kenyataan yang ada," gumam Samuel kemudian memejamkan matanya.


Tepat saat pintu tertutup, tetesan buliran bening berhasil membasahi bantal dengan sarung hitam milik Samuel.


"Maaf karena buat lo kecewa untuk kesekian kalinya," lirih Samuel. "Gue bakal tidur lagi Ra, datang ya ke mimpi gue!" lirih Samuel.


***


Gadis itu adalah Arabella Prianka. Dia sibuk memandangi bulan sabit di atas langit.


"Bulannya pasti kesepian kayak Ara," gumam Ara mengusap air matanya kasar.


Malam itu, Ara masih ingin bertahan sampai jam 12 malam untuk menunggu kekasihnya, tapi fisiknya sudah tidak mampu menahan dinginnya malam hingga ambruk dan terjatuh ke rumput bersama Elara.


Saat bangun, dia telah berada di dalam kamar yang sangat asing menurutnya. Bahkan pemandangan yang asri nan indah yang dia nikmati setiap pagi, Ara tidak tahu dimana itu.


"Abang jahat sama Ara," lirih Ara terus menghapus air matanya kasar. "Ara benci sama Abang."


"Sayang?"


Ara buru-buru menghapus air matanya dan berbalik untuk menatap bunda dan ayahnya yang berdiri di dalam kamar. Dia beranjak dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Sudah minum obat Nak?" tanya Deon.


Ara menganggukkan kepalanya. "Ara udah minum obat, kan Ara mau sembuh biar disayang sama orang yang Ara suka nanti," jawab gadis itu dengan senyuman, meski matanya tidak bisa berbohong.


Deon yang menyadari kesedihan putrinya, langsung mendekap Ara cukup erat. "Kelak kamu akan menemukan laki-laki yang lebih dari dia," bisik Deon mengusap lengan Ara.


"Iya Ayah, Ara percaya," sahut Ara.


"Besok mulai sekolah lagi, tapi dirumah aja sampai lulus nggak papakan? Nanti kalau udah kuliah, baru bisa ketemu teman-teman baru. Mungkin saat itu tiba, Ara juga udah baik-baik saja."


Ara lagi-lagi menganggukkan kepalanya dalam pelukan ayahnya. Ingin kembali bertemu Samuel? Itu tidak ada lagi dalam bayangan Ara, meski sesekali merindukan mantan tunangannya.


Ara bisa menerima rasa sakit dihina dan dikasari oleh Samuel, tapi tidak dengan rasa cemburu. Saat dia terbangun dari tidurnya beberapa hari yang lalu dan memohon untuk pulang.


Deon memperlihatkan sebuah video dimana Samuel tengah menemui Sasa, didetik Ara menunggu ditaman.


Saat itulah Ara bisa menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Abang nggak akan liat perjuangan Ara kalau Sasa nggak meninggal."