
Samuel tampak acuh bahkan saat menyadari tatapan menyelidik papinya. Dia tetap ikut sarapan bersama dengan seragam sekolah seperti biasa, padahal hari ini adalah hari pertama menjalani hukuman dari sekolah.
"El kok?"
"Iya Pi, El mau ke sekolah biar jadi anak pintar," sahut Samuel menyantap makanan yang dibuat oleh maminya.
"Kenapa Sayang? Kok natap El sampai segitunya?" tanya Fany yang menyari tatapan mendominasi Daren.
"Nggak ada, ayo makan!" sahut Daren.
"Kirain," gumam Fany, dia beralih menatap putranya yang tampak serius menyantap makanan. "Mami punya kabar baik buat kamu El."
Samuel menghentikan kunyahannya dan menatap sang mami. Menunggu wanita paruh baya itu bicara.
"Orang tua Ara udah nemu dokter yang katanya bisa nyembuhin cidera di otak Ara. Bentar lagi tunangan kamu bakal normal dan ...."
"El berangkat dulu Mam." Tanpa mendengarkan kelanjutan cerita maminya, Samuel beranjak. Mengecup pipi wanita paruh baya itu sebelum benar-benar pergi.
Kali ini Samuel memutuskan untuk membawa motornya karena cuaca sangat cerah. Dia ingin menikmati perjalanan menuju sekolah bersama sang kekasih.
Ya, Samuel datang ke sekolah meski mendapatkan skorsing karena ingin mengantar jemput Ara seperti biasa, juga menjaga gadis imut itu dari marabahaya yang mungkin saja menghampiri tanpa diduga.
Samuel menghentikan motor besar miliknya setelah sampai di depan rumah Ara. Memencet bel satu kali hingga wanita paruh baya cantik membuka pintu.
"Tante, Ara udah berangkat?" tanya Samuel pada Kirana.
"Belum Nak, masuk dulu." Kirana menarik tangan Samuel agar masuk ke rumah, dengan senang hati Samuel mengikutinya.
Sikap Samuel tampak berbeda? Tentu, karena dia bertekad akan menurunkan harga diri juga egonya demi membahagiakan sang kekasih. Dingin dan cuek pada orang lain itu adalah benteng yang sengaja dia bangun agar tidak ada yang berani dekat dengannya.
Tapi benteng itu dia rubuhkan sendiri agar tidak ada jarak untuknya dengan Ara hari ini dan selamanya.
"El?"
"Om." Samuel berdiri dan menyalami Deon.
"Ara nggak ngasih tau kamu semalam? Untuk satu minggu ini ayah yang bakal anter jemput Ara karena kamu diskorsing di sekolah Nak."
"Ck, watak kamu seperti Daren saat muda Nak," decak Deon duduk di hadapan Samuel. "Ara masih siap-siap, tunggu bentar."
Samuel lagi-lagi hanya mengangguk.
"Oh iya El, tolong jagain anak ayah ya. Kemarin malam ayah nggak sengaja liat dari rumah kosong ada yang perhatiin kamar Ara. Dirumah mungkin aman, tapi di luar sana ayah ...."
"Om nggak perlu khawatir, saya bakal jaga Ara. Lagian dia tunangan saya om," sahut Samuel cepat.
Laki-laki dingin itu berdiri ketika melihat Ara menuruni satu persatu anak tangga. Dia tersenyum tipis untuk membalas senyuman bahagia Ara.
"Ara berangkat sama abang, Yah? Kata ayah mulai sekarang berangkatnya ...." Ara mengusap hidungnya ketika ditarik oleh papanya, bahkan dia sampai lupa akan mengatakan apa.
"Sana jalan, ayah batal jadi sopir pribari kamu," ucap Deon penuh senyuman dan dibalas anggukan oleh Ara.
"Dadah Ayah-bunda." Ara melambaikan tangannya sementara tangan satunya di genggam oleh Samuel.
Gadis imut itu menunduk untuk menatap tangannya. "Setiap Abang genggam tangan Ara penuh kelembutan, hati Ara menghangat."
"Lo suka?"
"Banget, jangan jahat-jahat lagi ya sama Ara? Bantu Ara buat lupain kenangan menyakitkan beberapa bulan yang lalu." Ara mendongak untuk menatap Samuel. Jangan lupakan senyuman yang tidak pernah pudar meski apa yang dia ucapkan mengandung luka.
"Pasti, gue bakal ganti momen menyakitkan itu menjadi hal bahagia." Samuel memasangkan helm di kepala Ara. Tidak lupa melepas jaketnya untuk dia ikat di pinggang sang kekasih.
"Kenapa diikat Abang?"
"Gue nggak suka ada yang liat paha lo!" jawab Samuel terang-terangan dan membuang rasa malunya.
Percayalah, Samuel sampai tidak tidur semalam setelah mengantar Ara pulang. Dia terus berlatih dan mencari referensi di media sosial cara menjadi pasangan yang baik.
Sebenarnya bisa saja dia bertanya dengan Rayhan, tapi urung mengingat resiko yang akan terjadi nantinya.
...****************...
Tebar kembang sebanyak-banyaknya😍