
Samuel menyandarkan punggungnya pada tembok kelas XI Ips satu yang tepat berhadapan dengan kelas Ara meski jaraknya cukup jauh.
Dia bersedekap dada memperhatikan gadis imut itu mengigit pulpennya sesekali ketika guru menjelaskan. Ternyata seindah ini rasanya jatuh cinta, bahkan rasa ini tidak pernah Samuel rasakan pada Sasa.
Dia bergegas berdiri saat pak Alvi telah keluar dari kelas Ara. Hendak menghampiri, tapi urung ketika Edgar mengajak gadis itu bicara.
"Ara, gue nggak bisa ngajarin lo hari ini. Gue ada urusan," ucap Edgar.
"Nggak papa Milo, nanti Ara belajar sendiri. Milo harus semangat." Ara mengepalkan tangannya seraya tersenyum.
Membuat Samuel ikut mengembangkan senyumnya. Dia mengambil ponselnya di saku celana.
"Nggak ke kantin?"
"Ara ada tugas Abang, nanti aja makannya. Kalau Abang mau makan lebih dulu nggak papa."
Samuel menghela nafas panjang. Langsung memutuskan sambungan telpon begitu saja dan keluar dari lingkungan sekolah.
Hampir saja Samuel lupa kalau dia tidak memegang uang selembar pun karena ulah sepupunya.
Untung saja di dekat sekolah ada ATM jadi dia tidak perlu pergi jauh-jauh.
Setelah mengambil uang, barulah Samuel menuju kantin untuk membeli cemilan. Tidak ikut makan bersama teman-temannya yang lain meski di panggil.
"El makan dulu lah!" teriak Rayhan.
"Nggak nafsu gue makan sama lo!" sahut Samuel meninggalkan kantin.
Langkah Samuel berhenti tepat di depan kelas Ara. Di dalam sana tidak ada satupun orang. Kemana gadisnya pergi? Padahal baru ditinggal sebentar saja.
"Awas aja kalau nggak ada di perpustakaan," gumam Samuel membalik langkahnya dan berlari menuju perpustakaan.
***
"Bukunya yang mana ya?" gumam Ara terus mencari buku di rak-rak yang lumayan tinggi. Gadis imut itu pantang menyerah sebelum menyelesaikan tugasnya.
Dipikirannya sekarang hanya belajar dan belajar agar bisa masuk perguruan tinggi tanpa harus orang tuanya menyogok sana-sini.
Ara menutup mulutnya dan cekikin sendiri melihat laki-laki mengelilingi rak buku. "Abang pasti nyariin Ara."
"Abang nyariin Ara?" tanya Ara.
Langkah kaki Samuel berhenti dan mencari suara tersebut, hingga melihat juluran tangan Ara. Dia berjongkok dan tersenyum melihat betapa mengemaskannya Ara dalam posisi seperti itu.
"Ngapai duduk?" tanya Samuel.
"Sembunyi dari Abang."
"Ck." Samuel berdecak. Segera mengelilingi rak buku dan duduk di samping Ara. Menyerahkan kresek yang dia bawa tadi.
"Ngemil dulu."
"Susunya mana?" tanya Ara setelah memeriksa kreseknya.
"Ah gue lupa, tunggu ...."
"Ara minum ini aja." Ara menarik tangan Samuel agar tidak berdiri, menyandarkan kepalanya di lengan laki-laki itu.
Lagi, lelah menyerangnya hingga bergerak saja sangat malas. Ara yang ceria perlahan-lahan menghilang.
"Kenapa?" tanya Samuel.
"Capek nyari buku nggak dapat-dapat."
"Ya udah ngemil sambil sandar aja dulu, nanti gue bantu nyari." Samuel menyerahkan jus Nanas pada Ara, sementara dirinya Mangga.
"Abang beneran ngasih Ara jus ini?" tanya Ara memastikan.
"Hm, biar segar."
Ara mengangguk dan mulai meneguk jus itu kemudian memakan cemilan yang diberikan Samuel. Beberapa menit kemudian, bungkus cemilan terjatuh di pangkuan Samuel.
"Ra, lo tidur?" tanya Samuel tapi tidak ada sahutan apapun.
"Cepat banget perasaan, padahal ...." ucapan Samuel berhenti saat melihat ruam di kulit Ara.
"Ra lo kenapa? Bangun!" desak Samuel tapi Ara tidak bergeming. Ruam semakin bertambah di tubuh Ara dan sangat tebal.