
Samuel menghela nafas panjang setelah turun dari mobil miliknya. Berjalan tanpa gairah memasuki mansion yang tampak lebih hidup dari biasanya, mungkin karena kedua orang tuanya ada di mansion.
Langkahnya terhenti di anak tangga ketika melihat orang tuanya berada di ruang keluarga seperti berbincang hangat satu sama lain.
Dia memutar langkahnya dan menghampiri dua manusia yang telah membuatnya hadir di dunia, menunduk untuk mencium punggung tangan mami dan papinya secara bergantian.
"Udah makan nak?" tanya Fany setelah Samuel mencium tangannya.
"Udah Mam, El kekamar dulu," sahut Samuel dan berlalu begitu saja.
Perasaanya sedikit tidak enak, suhu tubuhnya sejak semalam naik turun, belum lagi kepala yang sesekali berdenyut. Mungkin efek terlalu banyak memikirkan sesuatu.
Tantang Ara, geng motor dan ujian yang sebentar lagi akan dia hadapi mungkin penyebab salah satunya.
Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya seraya tersenyum tipis. Teringat sesuatu dia mengeluarkan ponselnya, berniat memberi kabar pada Ara bahwa dia sudah sampai di mansion. Sebab sebelum pulang tadi, Ara berpesan agar mengabari jika sampai di rumah.
Sejak kapan Samuel menjadi penurut? Mungkin semejak dia menyadari rasa cintanya pada Ara.
Garis senyum terukir di wajah Samuel setelah membuka room chatnya bersama Ara. Terdapat beberapa pesan dari gadis imut itu.
Krik
Mendengar suara pintu berdecit, membuat Samuel langsung meletakkan ponselnya kemudian bangun untuk menyambut kedatangan sang mami.
Samuel mengulas senyum tipis saat Fany sudah duduk di sampingnya, tidak lupa meraih tanganya untuk wanita paruh baya itu genggam.
"Mami bisa dengar penjesalan kamu sekarang Nak? Mami cuma nggak mau hubungan kamu sama Ara hancur hanya karena masalah ini. Kenapa harus bohong, padahal kalau jujur Papi sama Ayah Ara bisa bantu kamu buat lindungin ...."
"El nggak mau kehilangan Ara Mam," potong Samuel cepat. "El bohong karena ngira ini jalan terbaik menurut El sendiri," lanjutnya membalas tatapan teduh milik maminya.
"Boleh mami dengar cerita lengkapnya dari El?" tanya Fany.
Samuel menghela nafas panjang, haruskah dia menjelaskan ini pada maminya?
"El?"
"Mami janji nggak bakal cerita sama papi? Mungkin El dulu brengsek, tapi sekarang El perlahan-lahan udah berubah kok Mam," lirih Samuel yang sangat takut dipisahkan oleh Ara untuk saat ini.
Rasa cintanya sudah terlalu besar untuk berpisah sekarang.
"Mami janji."
Lagi-lagi Samuel mengambil nafas panjang sebelum menceritakan awal dari permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Sagara.
"Bunuh diri?" Mata Fany membola karena tidak percaya.
"Sebelum tunangan sama Ara, El udah punya pacar namanya Sasa dan ...."
"Punya pacar sebelum tunangan? Kenapa nggak bawa ke mansion pas Mami dan Papi minta Nak?" tanya Fany, padahal sebelum menjodohkan putranya, dia sempat bertanya pada putranya itu apa sudah memiliki kekasih atau belum.
Tapi bukanya menjawab, Samuel malah menyetujui pertunangan begitu saja.
"Karena El yakin kalian nggak bakal nerima dia Mam."
"Terus, setelah tunangan kalian putus?"
Samuel mengeleng, membuat mulut Fany terbuka lebar. Apa ini? Fany mengira sudah sangat mengerti putranya, ternyata tidak.
"Kamu jalin hubungan sama dua perempuan sekaligus Nak? Apa kamu nggak mikirin perasaan mereka berdua?"
Samuel menghela nafas panjang, lihatlah baru menceritakan sedikit saja Maminya sudah syok seperti ini.
Dia semakin mengenggam tangan maminya erat sebelum bercerita lebih banyak lagi.
"El ...."
"Jangan bicara dulu, mami mau tanya satu hal sama kamu. Nggak perlu ceritain lagi, Mami sendiri yang bakal tanya tentang kejanggalan hati mami."
Fany menatap tajam putranya. "Ara tau kamu punya hubungan sama Sasa?" Samuel menganggukkan kepalanya.
"Reaksi Ara gimana Nak?"
"It-itu ...."
"Jawab mami dengan jujur El!"
"Ara langsung hubungin Sasa dan ceritain semuanya dan mengakibatkan Sasa celaka. Karena itu, El maksa Ara buat ngaku jadi sepupu biar El nggak putus sama Sasa. Ara mau asal El nggak mutusin pertunangan gitu aja ...."
Plak
Sebuah tamparan melayang tepat di pipi Samuel hingga meninggalkan rasa perih.
****************
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.